Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


06 Oktober 2014

Kembali ke perpustakaan karena Difabel



Awalnya saya sempat berfikir dan menyimpulkan bahwa tempat yang paling membosankan,menjenuhkan dan jarang di kunjungi bahkan tidak layak untuk di singgahi adalah perpustakaan.
Bagaimana tidak,di kalangan remaja dalam arti seorang pelajar mereka lebih memilih pergi bermain,nongkrong-nongkrong dengan teman dan pacar masing-masing.
Perpustakaan itu hanya milik orang-orang cupu yang berkacamata tebalnya hampir 3cm,dan itu sangat tidak menyenangkan sekali.

Dulu semasa saya masih duduk di bangku sekolah menengah akhir seorang teman mengajak saya pergi ke perpustakaan daerah,dimana lagi kalau tidak perpustakaan sragen,sebenarnya malas sekali tapi apa salahnya jika mencoba.

Bangunan kecil yang sudah terlihat tua itu membuat hati saya semakin ragu untuk memasukinya,aku ditawarinya untuk membuat kartu perpustakaan ya bagaimana lagi jika ingin meminjam buku harus mempunyai kartu terlebih dahulu,ya sudahlah,”batin ku”.
Langsung saja aku menuju meja kosong yang terletak di samping jendela dan segera ku ambil laptop dari tas ransel ku,ahh tidak sia-sia ternyata aku kesini,ada manfaatnya juga ternyata,disini aku bisa facebook an secara gratis gratis,”fikir ku”.

Setelah kenaikan kelas sama sekali aku tidak pernah mengunjungi bahkan mengetahui kabar gedung tua itu,sampai saat aku telah duduk di salah satu perguruan tinggi negeri itulah aku ingin sekali mendatangi gedung tua yang lagi-lagi isinya hanya orang-orang cupu berkacamata tebalnya hampir 3cm itu.

Di siang bolong ku rela-relakan datang hanya untuk meminjam buku tentang sesuatu yang sangat menyentuh kalbu,tetapi alangkah kagetnya diriku setelah melihat gedung tua itu tak terurus lagi,tidak seperti bangunan-bangunan pada umumnya,dedaunan yang berserakan dan kayu-kayu yang terbengkalai itu membuatku sangat kecewa,dimana saat aku membutuhkan tetapi hancurlah sudah harapan.
Tidak lama tiba-tiba datang seorang bapak separuh baya menghampiri ku,tidak tahu karena apa,mungkinkah karena melihat wajahku yang memelas atau mungkin karena dia  hanya ingin berkenalan dengan diri ku yang berparas cantik ini.
“Mbak,kok kayaknya bingung ?”
“Oh iya pak,bener kan pak perpustakaan sragen tuh disini,saya ingat kok pak perpustakaannya disini”.
“iya mbak bener dulu memang disini perpustakaan tapi sekarang sudah pindah di Jl.Raya Sukowati Barat, No. 15 D

Tanpa pikir panjang aku segera menuju alamat yang telah di berikan bapak-bapak tadi.
Aku kembali di kagetkannya,pertama kali melihat bangunan itu aku ragu untuk masuk ke dalam karena bangunan yang sangat berbeda dari yang pertama,ku beranikan diri untuk masuk kedalam dan melihat-lihat,sunyi,dingin pula.
Langsung saja aku mengambil laptop dan menggunakan fasilitas yang sangat di cari-cari di era melejitnya sosmed (sosial media) yang di gemari para remaja.

Aku tidak pernah lupa tujuan pertama ku datang kesini,yaitu untuk mencari info tentang Difabel,mungkin orang-orang awam sangat asing dengan kata-kata itu,dulu awalnya aku juga sama sekali tidak mengerti arti dari kata difabel itu,dari awal aku duduk di meja kuliah itulah aku mengenal seorang teman yang tiba-tiba menceritakan kekurangannya kepada ku,sontak aku sangat kaget,karena aku melihatnya seperti wajarnya orang-orang normal pada umumnya,dari situlah aku mulai mengenal difabel,dan semakin tertariknya aku untuk mengetahui dan mencari informasi tentang susah senangnya menjalani kehidupan seorang difabel.
Saking penasarannya dengan salah seorang penyandang tunanetra yang tidak mau di sebutkan namanya itu dan aku putuskan untuk memanggilnya si A,aku memintanya menceritakan semua kegiatan kesehariannya kepada ku,dia bercerita bahwa dia tidak bisa melihat memang sudah bawaan dari lahir,bangun pagi sholat subuh langsung mandi siap-siap berangkat kuliah,hebatnya dia bisa berangkat sendiri dari kos menuju kampus TANPA BANTUAN DARI SIAPA PUN,aku sontak bertanya kepadanya.
“Kamu gak pernah gitu jatuh ke lubang secara tu arah ke kampus banyak lubang-lubang atau hampir tertabrak sampai di marahin pengguna jalan yang lain?”
Dengan santai dia menjawab “ALHAMDULILLAH,TIDAK PERNAH”
Dan dia pun juga dapat membedakan mana baju yang pantas untuk dia kenakan pada saat kuliah dan baju mana yang di pakai untuk harian,dan betapa kagetnya ternyata dia juga mempunyai pacar,sama-sama penyandang tuna netra,dengan pedenya mereka membeli makan bersama dengan bergandengan tangan,ke mall pun mereka menaiki becak berdua layaknya pasangan orang-orang normal.

Disaat si A tengah asik bercerita aku melihat barisan piala terpajang di meja belajarnya,dan ternyata tertulis “Juara 3 menyanyi solo/tunggal,festifal dan lomba seni siswa slb tingkat provinsi jawa tengah tahun 2010” juara 1 pun pernah ia raih dan masih banyak piala yang sudah di dapatkannya,aku sempat bertanya kepada teman yang ku anggap normal itu dan ternyata dia juga pernah mengikuti lomba tennis meja dan meraih juara 1tingkat nasional.

Aku yang normal tidak pernah berpikir sejauh itu,mungkin jika di posisi mereka aku sudah tidak mau lagi mengenal yang namanya dunia luar bahkan rasanya ingin mati saja,mereka yang mempunyai kekurangan saja masih semangat belajar dan menyelesaikan sekolah hingga mendapatkan gelar S1,hampir orang normal yang tidak di beri kekurangan yang terlihat itu tidak pernah berpikir bagaimana jika menjadi seorang penyandang,jika di jalan bersimpangan dengan salah seorang penyandang pasti mereka hanya diam dan melihatnya aneh.

Ada salah seorang penyandang yang baru kali ini aku menemui kasus seperti ini,aku ingin mengikuti kesehariannya,dan tibalah saat makan siang,sebelumnya aku sama sekali belum bertemu dengannya,kami hanya janjian melalui sms.
Tiba lah saat-saat itu,aku kembali kaget setelah bertemu dengannya,nafsu makan ku menjadi hilang,bukan apa-apa tetapi pasti semua yang makan di depannya serasa ingin muntah saja.
Dan setelah itu aku mengurungkan niat untuk melanjutkan jalan dengannya,aku memilih mencari informasi tentang kehidupan dan penyakitnya melalui media online,karena itulah aku kembali datang ke perpustakaan untuk menggali informasi baik menggunakan internet atau pun buku-buku tentang difabel.
Kerena perpustakaan lah gudangnya informasi dan tempat untuk menyendiri di saat kita di randa pilu saat sedang putus dengan kekasih dan mendapatkan pasangan yang baru
Dari membacalah aku dapat mengerti dunia difabel,mereka tidak untuk di asingkan tetapi bagaimana cara kita untuk membuat mereka bangkit lagi dari keterpurukan.Mereka lah yang membuatku sadar akan arti dari kehidupan,mereka membuatku semakin semangat untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliah ku,mereka semangat ku dan buku lah yang menjadikan nilai ku semakin baik.

Nama   : Susi Sulistyawati


Alamat :  Pengkol, Tanon, Sragen

0 komentar:

Posting Komentar