Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pelatihan IT

Pelatihan IT di BLC Kabupaten Sragen

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

21 Mei 2013

(Cerpen) Orang yang Selalu Cuci Tangan

Oleh Seno Gumira Ajidarma
 
Semua orang di kantornya sudah tahu, ia selalu mencuci tangannya. Banyak orang juga selalu mencuci tangan, tetapi tidak sesering dirinya. Belum pernah ada yang menghitung, berapa kali ia mencuci tangannya dalam sehari, tetapi dapat dipastikan sering sekali. Kalau ada orang yang menyebut namanya, yang diingat setiap orang adalah, ”Oh, yang selalu cuci tangan itu ya?”, dan akan selalu ditanggapi kembali dengan, ”Nah! Iya, yang selalu cuci tangan!”

08 Mei 2013

Bulan Bergeser di Langit

Cerpen Nyoman Tusthi Eddy

Namanya I Petu. Bagi orang Bali nama itu nama yang buruk; sebab Petu adalah nama sejenis kera. Tetapi lelaki itu tampaknya puas dengan namanya. Nama itu adalah pemberian ibunya yang sangat dicintainya.

29 April 2013

T e m a n

Oleh SAMUEL MULIA
Suatu hari saya membaca tweet seorang teman yang berbunyi: It is not about how many friends you have. It’s about how many friends you can rely on. Membaca itu saya me-retweet begini. Jangan pernah memercayai siapa pun. Manusia itu berubah!

17 April 2013

Izinkan Aku Menjadi Presiden Sekali lagi

Cerpen Dodiek Adyttya Dwiwanto

“Hidup Tuan Presiden.”
“Hidup Paduka Yang Mulia.”
“Hidup Sang Penyelamat Bangsa.”
“Hidup Bapak Pembangunan Bangsa.”
“Hidup Penyambung Lidah Wong Cilik.”

11 April 2013

Dompet untuk Ibu

Cerpen J Ghoury
Ratih kecil berlari kencang sekencang-kencangnya. Sesekali Ia menengok ke belakang sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berdetak kencang sekencang larinya. Di semak-semak pembatas jalan dan got akhirnya Ia menelusupkan tubuhnya untuk bersembunyi. Masih memegang dada dan sesuatu  dalam genggamannya.

08 April 2013

K A K I

Cerpen Esti Pramestiari

Aku kira, kau disini...bersamaku..namun nyatanya...aku disini..bersama kedua kakiku.
***
Katamu, hidup itu sederhana, katamu..tak ada sedih, karena yang menciptakan kesedihan itu hanyalah kita. Katamu juga, tangis itu tidak ada, namun mengapa tak hentinya air dari jiwa ini menggenangi wajahku, selepas kepergianmu.

03 April 2013

Rumah Tuhan

Oleh AK Basuki

Ibuku adalah perempuan pemilik jiwa yang hangat. Rasa cinta pada sesama telah dibungkusnya dengan rapat, ikhlas, tanpa ada sebuah cela bernama pamrih yang bisa mendesak dan merobeknya. Dia perempuan yang pernah menikmati bahagia bagi dirinya sendiri dan telah merasa puas. Kini bahagianya sudah mencapai tingkat sempurna, merasa tanpa merasa. Kebahagiaan orang lain adalah pula miliknya, begitu juga dengan kesedihan dan kesakitan mereka.

21 Maret 2013

Kisah Romantisme di Pulau Weh

Oleh Achmad Marzuki, Pegiat Farabi Institute, Anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang
Banyak keindahan yang muncul menjelang kembalinya matahari pada ufuk barat. Nuansa senja menambah romansa kisah anak manusia. Mega merah pada langit memberikan suasana yang syahdu. Dan yang paling menarik, menikmati sunset di pantai lepas dengan pulau terapung indah tersendiri. Pulau Weh adalah pulau kecil yang berada di bagian terbarat Indonesia; Sabang, Aceh.

25 Februari 2013

Lagu Kesunyian di Penghujung Hari

Cerpen Dodiek Adyttya Dwiwanto

Banyak anak, banyak rezeki.  Pepatah ini benar adanya.  Tidak salah kalau ayah, kakek, kakek buyut, hingga kakek nenek moyangku selalu mengumbar semboyan ini.  Banyak anak memang banyak rezeki.  Tidak usah takut akan kehilangan harta dalam membiayai hidup anak-anak kita.  Tidak perlu gentar pula bila tidak memiliki cukup uang dalam memberikan kehidupan yang layak.  Tidak perlu risau dengan semua itu karena Yang Maha Kuasa telah mengatur semuanya. 

31 Januari 2013

Kamar Biru dan Masa Lalu

Cerpen M. Dirgantara

Mereka melihatku, kamu, dia seperti melihat gerhana matahari dari ruang di belakang bumi. Seakan melayang. Mereka melihat kita bersamaan dengan fokus yang tak kurang. Keberatan selalu seru untuk disaksikan. Telinga mereka awas. Tiba-tiba semua orang di sini menjadi penyair, peka.

A m i n

Cerpen F Rahardi

Laki-laki itu berusia setengah baya, berperawakan biasa, berkulit biasa, berwajah biasa, berambut biasa, berbaju dan bercelana biasa, mengenakan sepatu yang juga biasa-biasa saja.
Barangkali di kantong baju dan celananya juga tersimpan benda-benda biasa seperti dompet, sisir, ballpen, dan dalam dompet itu ia taruh uang, kartu identitas, dan lainlain.

13 Desember 2012

Hujan Enggan Datang

Cerpen Ahmad Zaini

Sudah hampir setahun hujan belum kunjung turun. Tanah merekah. Pohon-pohon meranggas. Sumur mengering. Sungai kerontang. Warga sekampung pada musim kemarau kali ini benar-benar menderita. Mereka kesulitan air. Untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya, mereka harus rela mengantre berjam-jam dengan warga lain. Bahkan mereka ada yang mengantre berhari-hari di sumur kampung seberang yang jaraknya tujuh kilometer dari kampung mereka.

06 November 2012

Tentang Sebuah Makam di Bawah Pohon Mangga

Cerpen Hammidun Nafi’ Syifauddin

Di belakang rumah itu, Emak selalu bercerita. Di bawah pohon mangga yang dulu pernah berjaya. Berbuah luar biasa banyaknya dengan ukuran yang membuat bibir sedikit menganga sambil mengecapkan lidah dan menelan ludah.

03 November 2012

Malaikat Bergaun Merah

Cerpen: Endah Raharjo

Mestinya aku tak meminta Arman menemaniku minum teh pada petang ini. Kupikir ia akan jadi teman ngobrol yang menyenangkan, seperti biasanya bila kami berjumpa. Nyatanya aku hanya menjadi pendengar, selama satu jam teronggok diam di kursi rotan, serupa patung penghias sudut ruang.

31 Oktober 2012

Pemuda Pencari Kerja

Cerpen Bagus Pradana

Malam itu Joko tidak bisa tidur. Walaupun badan telah dibaringkannya di sebuah kasur kumal yang dia sebut tempat tidur, tapi mata tetap tak mau ditutup.

30 Oktober 2012

Banjir di Cibaresah

OLEH ABA MARDJANI

Maksum menguap sebelum matanya menguak di pagi lembab. Sendirian di pos jaga desa Cibaresah pada hari kesekian belas, laki-laki setengah baya itu buru-buru menarik kain sarungnya, melindungi tubuhnya dari dingin pagi yang basah.

Sesaat kemudian, ia memaksakan diri bangkit, menyibak air banjir yang tak kunjung surut untuk berwudu. Ia ingat, belum mengerjakan shalat subuh.


25 Oktober 2012

Pertanyaan Sri

EL Hadiansyah

Namanya Sri. Hanya Sri. Sangat singkat bukan? Awalnya, aku pun menyangka ada kelanjutan dari tiga huruf itu. Namun tidak. Namanya benar-benar Sri, hanya Sri. Entah di mana ia sekarang. 

Bilur matahari langsung sampai ke lapangan sekolah. Menjadi jejak. Cukup panas. Aku sendiri gerah dibuatnya. Angin dari beringin yang berkeliling tak juga mengurangi rasa. Tetap menyengat. Hanya satu dua dedaunan menggelinding disertai bungkus permen, juga bungkus snack yang terserak dari bawah tempat sampah. Namun Sri tak juga menyerah pada hukuman. Tubuh kecilnya berdiri di bawah tiang bendera warna putih. Membuatku miris.
Aku hanya melihatnya sesekali.

20 Oktober 2012

Wa Kaji

Cerpen: Sobih Adnan*

Jama’ah yang diprediksikan hadir dari desa-desa sekitar belum juga nampak. Kursi-kursi plastik berwarna hijau itu kosong, tenda yang membentang gagah pun mulai nampak jenuh, hanya angin yang terlihat sibuk dan gembira dengan keheningan itu, bermain debu dan daun-daun yang telah digugurkan kemarau panjang.

15 Oktober 2012

Muammar Memilih Jalan Sendiri

Oleh Sori Siregar

Malam telah merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi itu ia tetap terjaga.
Risiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua puluh tahun lalu. Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke negeri yang jauh ini untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga pemerintah. Ketika itu Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir di negeri yang jauh ini dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun setelah itu.

11 Oktober 2012

Masa Lalu

Cerpen Vira Cla

Aku mengirup aroma laut yang tajam. Aku benamkan kedua kakiku ke dalam pasir yang basah. Kubiarkan  ujung ombak menggulung kaki hingga pahaku. Aku menyauk setetes laut dengan tangan mungilku. Kupandang bentangan kaki langit nun jauh di sana. Aku memanjakan mataku dengan keindahan luasnya angkasa dan menjulangnya bukit-bukit dari pulau-pulau yang menghias samudera. Aku memejamkan mataku supaya kenikmatan itu merasuk abadi ke dalam jiwaku.