Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


04 Maret 2010

Legenda Ki Ageng Butuh

Di suatu tempat yang semula berupa hutan yang lebat, konon sangat angker dan banyak dihuni berbagai macam binatang buas nuansa alamnyapun sangat angker, di tempat itu biasa disebut padukuhan BUTUH. Di tempat tersebut tinggal seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat disekitar padukuhan tersebut yaitu bernama Ki Ageng Butuh. Dia adalah seorang ki ageng yang karismatik juga pandai dalam ilmu agama, beladiri dan ahli dalam bidang pertanian. Maka tidak aneh bila masyarakat di butuh kehidupannya maju pesat, tentram dan damai di bawah pimpinan beliau. Banyak orang bertanya siapakan sebenarnya Ki Ageng Butuh itu.

Konon ada suatu kisah dimana setelah Kerajaan Majapahit runtuh banyak keturunan raja dari kerajaan tersebut cerai berai. Salah satunya adalah Pangeran Handaya Ningrat yang menetap di daerah pengging dengan merubah namanya menjadi Ki Kebo Kenanga. Ia hidup bersama istrinya tercinta. Ki Kebo Kenanga adalah seorang pemimpin yang bijaksana, cerdas serta trampil dalam bidang apa saja termasuk bidang pertanian, pemerintahan lebih-lebih bidang keagamaan yakni agama Islam. Yang mana beliau adalah salah satu murid kesayangan dari Syeh Siti Jenar. Karena kepiawian beliau dalam memimpin daerah dan banyaknya pengikut ajaran agamanya. Maka Sultan di Demak Bintoro khawatir bilamana menjadi pesaingnya di dalam memerintah ditanah Jawa. Kemudian Sutan Demak mengutus Sunan Kudus untuk menghadapkan Kebo Kenanga di Keraton Demak, namun tidak berhasil. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus Sunan Kalijaga untuk mendatangi kembali Ki Kebo Kenanga di Pengging di temani oleh Sunan Kudus. Dengan mandat Kanjeng Sultan, ”Bilamana Kebo Kenanga tidak mau sowan ke Demak maka Purbawasesa di tangan kedua Sunan tersebut” ( di izinkan untuk membunuhnya ).

Dalam pertemuan itu terjadi dialog yang alot antara Ki Kebo Kenanga, Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, sampai-sampai Sunan Kudus sempat marah mengancam untuk membunuh Ki Kebo Kenanga namun dihentikan oleh Sunan Kalijaga. Akhir dari dialog itu di sepakati Ki Kebo Kenanga tidak dihukum melainkan dia diminta untuk mengasingkan diri pergi dari bumi perdikan dengan menghilangkan nama sebenarnya. Tetapi Ki Kebo Kenanga punya permintaan bahwa bayi yang sedang didalam kandungan istrinya kelak kalau sudah besar harus menjadi seorang Raja di tanah Jawa. Permintaan tersebut disetujui oleh Sunan Kalijaga dan ia berjanji dia sendiri yang akan mendidik dan membimbing anak Ki Kebo Kenanga hingga menjadi Raja. Beginilah dialog antara Ki Kebo Kenanga dengan Sunan Kalijaga :

Sunan Kalijaga : Ngger..... Kenanga, hidup itu harus adil dan bijaksana..... Begini bagaimana kamu selamat bersama keluargamu sedang Sultan Demak juga tidak malu, kami berdua mempunyai rencana buat angger.
Kebo Kenanga : Maaf..... Kanjeng Sunan Kalijaga sekiranya jalan keluar itu baik untuk semuanya hamba akan melaksanakannya.
Sunan Kalijaga : Begini..... jika kamu untuk sementara mengasingkan diri, masalah laporanku ke Demak Bintoro nanti aku dan Sunan Kudus yang akan mengaturnya. Dan bila kamu punya permintaan kami berdua akan membantu meluluskan, angger.....
Kebo Kenanga : Baiklah Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Kudus jika saya harus mengasingkan diri dari bumi pengging, saya Kebo Kenanga memohon agar kelak keturunan saya dapat menjadi raja dan menurunkan raja di tanah Jawa ini.
Sunan Kalijaga : Allahu Akbar..... ya..... yaa..... aku berjanji untuk mengantarkan putramu kelak menjadi Satria Pinunjul dan dapat menjadi raja di tanah Jawa. Tetapi aku minta selama engkau mangasingkan diri mohon untuk merahasiakan jati dirimu yang sebenarnya sebelum putramu kelak menjadi raja.

Kemudian Ki Kebo Kenanga beserta istri dan murid-muridnya yang setia mengasingkan diri meninggalkan perdikan Pengging menuju ke arah timur tepatnya di dukuh BUTUH, Desa Gedongan termasuk wilayah Sragen yang letaknya di Kecamatan Plupuh.

Ketika Ki Ageng Pengging ( Ki Kebo Kenanga ) menetap di daerah tersebut sambil melanjutkan mengajar ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu yang lain pada murid dan masyarakat setempat, sesuai dengan kesepakatan Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ia sengaja menyembunyikan jati dirinya dan berganti nama KI AGENG BUTUH.

3 komentar:

  1. Kok Beda dengan yang saya pelajari:
    1.Pangeran Handaya Ningrat itu bukan Kebo Kenonggo, tetapi ayah Kebo Kenongo dan dan Kebo Kanigoro;
    2.Yang diutus Sultan Demak menyelesaikan Kebo Kenongo itu yang pertama Patih Wanasalam dan yang kedua adalah Sunan kudus ditemani 7 anak buahnya, bukan Sunan Kalijogo

    terima kasih
    salam

    Pustanto

    BalasHapus
  2. Ya aku sependapat dengan pustanto ? Dan malah aku baca bahwa istri ki ageng kebokenongo (ki ageng pengging)adalah saudaranya ki ageng BUTUH kok ini lain ya ? Oke aku sih ndak masalah tapi ini sejarah lho kalau sampai salah repot , karena sejarah itu cikal bakal atau landasan pengetauan. Jika bisa koreksi biar lebih akurat tanks .



    Salam buat redaksi dan pembaca

    BalasHapus
  3. Eko prasetyo3 Juni 2014 23.03

    Menarik sih kl ada artikel yang lain dan sedikit menyimpang dari mainstream, khan kisah ini semua berawal dari legenda atau dongeng,kalau dalam bhs jawa bisa saja disebut "serat/babad".sehingga full tafsir,tinggal siapa dan versi apa dongeng/kisah tersebut.Kalau saya agak tergelitik di kisah sunan kudus ditemani sunan kalijogo menemui ki ageng pengging,tidak dibunuh (seperti versi babad lainnya)namun dengan arif di carikan solusi untuk terus hidup.Sebab di satu sisi arti kata "sunan"itu adalah legitimasi ketinggian ilmu agamanya sehingga tidak nalar bila sunan disuruh-suruh membunuh dan mengiyakan untuk membunuh.Akhirnya...ada sumur lainnya walau berbeda dengan versi babad tanah jawa maupun babad pengging versi manunggaling kawulo Gusti.

    BalasHapus