Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pelatihan IT

Pelatihan IT di BLC Kabupaten Sragen

26 November 2008

RAPBD 2009; Peyorasi Otonomi Daerah

RAPBD 2009; Peyorasi Otonomi Daerah
Oleh Irfan Ridwan Maksum *

Sudah menjadi perhelatan rutin, menjelang akhir tahun, menurut peraturan perundang-undangan, semua daerah otonom di Indonesia harus sudah mempersiapkan RAPBD tahun berikutnya untuk disampaikan kepada pejabat yang berwenang agar mendapat approval (persetujuan). RAPBD kabupaten-kota sudah harus disiapkan untuk disampaikan ke gubernur selaku wakil pemerintah, sedangkan RAPBD provinsi disampaikan ke menteri dalam negeri.

Di tiap daerah seantero republik ini seharusnya sudah dilakukan penggodokan RAPBD 2009 antara DPRD dan pemerintah daerahnya. Jika ingin otonomi itu efektif, semua pihak di daearah harus memperhatikan penahapan tersebut.

Kenyataannya di Indonesia, baik daerah yang kaya sumber-sumber pendapatan sendiri maupun daerah yang mengandalkan kucuran dana perimbangan, masih alot membahas RAPBD-nya, bahkan ada yang berada di tahap KUA (kebijakan umum anggaran) dan PPAS (pagu anggaran sementara).

Persoalan yang dihadapi sangat bervariasi. Beberapa daerah serius memperhatikan pos anggaran bagi pemilu yang akan digelar pada 2009 di daerah masing-masing. Terdapat pula daerah yang terkendala justru karena pembengkakan akibat penyesuaian ortala baru karena PP 41 Tahun 2007 mengenai susunan organisasi dan perangkat daerah. Selebihnya ada daerah yang menyalahkan jerat Permendagri 32 Tahun 2008 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah yang tidak fleksibel terhadap pos DAU.

Peyorasi

Hampir semua daerah mengartikan pelaksanaan otonomi daerah secara kaku dengan mengikuti mekanisme prosedural dari pemerintah yang kadang justru mengorbankan kepentingan daerahnya. Kalau diperhatikan, itu sesungguhnya bermuara di elite yang menerjemahkan aturan main di tingkat nasional. Bahasa elite daerah, mereka tidak ingin dikorbankan aturan-aturan tersebut.

Terjadi peyorasi otonomi daerah. Kondisi tersebut diperparah sikap mental elite dalam organ-organ pemerintahan daerah yang kurang aksesibel serta tidak sensitif terhadap keadaan setempat. Keadaan itu membawa kepada otonomi daerah yang jauh dari harapan masyarakat.

Peyorasi otonomi daerah di Indonesia sudah lama terjadi. Diakui para pakar otonomi daerah di Indonesia, penyelenggaraan otonomi daerah di negeri ini dilakukan sejak Hindia Belanda. Hindia Belanda mengembangkan otonomi daerah diawali dengan otonomi yang bercorak mendua: pertama, bangun kelembagaan untuk kaum pribumi yang elitis; kedua, kelembagaan otonomi daerah bagi kepentingan bangsa Belanda sendiri yang ada di pelosok Nusantara. Dalam dua kelembagaan tersebut, masyarakat Indonesia pada umumnya terpinggirkan.

Kelembagaan yang kedualah yang diteruskan hingga saat ini. Perubahan kelembagaan terutama ditandai dengan pergantian rezim dan beberapa hal teknis pemerintahan. Mulai pergantian rezim kolonial diganti rezim kemerdekaan hingga pergantian antarrezim di era kemerdekaan ditandai pula perubahan tata kelola pemerintahan yang bersifat teknis, termasuk diadopsinya pilkada.

Tampak peyorasi yang tertanam lama tersebut sudah membudaya. Sesuatu yang unik terjadi, mengapa peyorasi tersebut sangat tampak justru di era demokratisasi yang amat kental sejak reformasi bergulir di negeri ini? Bahkan, pilkada dan pemilu legislatif tidak mampu menghadirkan otonomi daerah yang berdampak positif bagi masyarakat.

Jika dikaitkan dengan perjalanan sejarah bangsa ini, teori dari pemikir pembangunan yang mengatakan berbagai sistem tata kelola kenegaraan di negara berkembang yang diadopsi dari negara maju hanyalah imitasi merupakan jawaban tepat untuk menjelaskan fenomena peyorasi (Shah: 2005).

Kesadaran Elite

Idealnya, program pembangunan dan pemerintahan haruslah untuk rakyat. Tetapi, pikiran peyorasi membawa kepada anggaran yang terbatas -khususnya di berbagai daerah yang minus, dimaknai dihabiskan dulu (terutama) untuk belanja tak langsung (ongkos tukang) berdasarkan Permendagri. Hal inilah yang menyebabkan beberapa daerah yang minus sedang kelabakan merancang APBD 2009 karena acuan DAU lama sesuai Permendagri tersebut tidak cukup lagi seiring dengan perubahan desain organisasi dan tata laksananya.

Seharusnya, berapa yang dibutuhkan untuk pembangunan di daerahnya dikembangkan terlebih dahulu setelah membahas ke mana daerah mau membangun. Jika uangnya terbatas, elite daerah harus berani mengatakan belanja tidak langsung dikurangi, dan jika terjadi perubahan kelembagaan (organ pemerintahan), semestinya jangan berpikiran membesarkan struktur, tetapi kembangkan pemikiran miskin struktur, kaya fungsi.

Kesadaran elite lokal di sini menjadi penentu. Para elite lokal lebih dominan memikirkan apa yang menjadi kepentingannya dalam penyelenggaraan otonomi daerah di tempatnya dan tidak didasari ideologi untuk membangun kepentingan bersama daerahnya.

Kondisi itu diperparah oleh kerangka kerja di tingkat nasional yang masih kaku. Kerangka kerja di tingkat nasional amat ditentukan oleh persepsi Departemen Dalam Negeri yang tidak memiliki desain otonomi daerah yang jelas. Departemen ini langsung berperan dalam perubahan yang bersifat struktural melalui wacana perubahan UU Pemerintahan Daerah dan peraturan organiknya yang dicekoki pula oleh peyorasi otonomi daerah, serta sangat dihinggapi persepsi lemahnya sumberdaya lokal dalam menyelenggarakan otonomi daerah. Walhasil, kondisi lokal dan nasional semakin memperkeruh peyorasi otonomi daerah.

Dengan demikian, elite lokal dan nasional harus sama-sama memiliki perspektif yang kontra terhadap peyorasi otonomi daerah. Hilangkan imitasi otonomi daerah di Indonesia dan berpkirlah ameliyorasi terhadap otonomi daerah untuk kemajuan Indonesia.

*. Irfan Ridwan Maksum, pengajar pada program Pascasarjana Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI, Depok
Sumber Jawa Pos, 22 November 2008

Diperlukan G-20 Pendidikan

Oleh Supriyoko *

Pertemuan G-20 baru saja berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Pertemuan yang berlangsung pada 15-16 November 2008 tersebut dihadiri beberapa kepala negara sekaligus, termasuk Presiden SBY dari Indonesia. Selaku tuan rumah, Presiden AS Bush tentu menghadiri pertemuan yang sangat penting tersebut.

Dalam pertemuan yang berlangsung secara rutin tiap tahun itu, biasanya masing-masing kepala pemerintahan didampingi birokrat, pakar, bahkan praktisi ekonomi di negaranya seperti menteri ekonomi, gubernur bank sentral, analis ekonomi, dan sebagainya. Presiden SBY pun mengajak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Demikian pula, Presiden Bush menyertakan menteri keuangannya.

Sebelum, sesudah, atau di sela-sela pertemuan berlangsung, biasanya dilakukan pertemuan bilateral antarnegara yang berkepentingan untuk membahas kasus ekonomi yang tengah terjadi. Misalnya, pertemuan menteri keuangan Indonesia dengan Tiongkok untuk membahas peredaran ilegal obat-obatan, batik, dan sebagainya yang secara langsung berdampak pada keuangan di kedua negara. Pertemuan bilateral tersebut tidak melibatkan negara lain yang tidak berkepentingan.

Pentingnya G-20

Nama asli Kelompok G-20 adalah The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau Kelompok Dua Puluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral. Mengapa 20? Sebab, anggotanya terdiri atas 20 negara, atau tepatnya 19 negara ditambah satu Uni Eropa.

Kelompok G-20 terdiri atas negara-negara dengan perekonomian besar yang sangat menentukan perekonomian dunia. Ada pun negara-negara yang dimaksud adalah Afrika Selatan, Argentina, AS, Australia, Britania Raya, Brazilia, Kanada, Tiongkok, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Meksiko, Prancis, Rusia, Arab Saudi, Turki, dan Uni Eopa.

Kalau kita perhatikan, negara berpenduduk besar seperti Tiongkok, AS, India, dan Indonesia bergabung dalam G-20. Dengan demikian, wajar kelompok itu ''menyita'' lebih dari duapertiga total penduduk dunia dan wajar kalau hasil pertemuan tersebut sangat menentukan perekonomian dunia, setidak-tidaknya perekonomian yang melibatkan duapertiga penduduk dunia.

Ketika dunia sedang dilanda krisis ekonomi seperti sekarang, pertemuan G-20 sangat diharapkan bisa mencarikan solusi. Itu memang sangat beralasan. Krisis ekonomi sekarang memang tidak separah sepuluh tahun lalu, 1998. Namun, bila tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin krisis dahsyat sepuluh tahun lalu akan berulang.

Indonesia memiliki pengalaman pahit dengan krisis ekonomi sepuluh tahun silam. Nilai rupiah melemah, harga-harga naik, dan ketergantungan pada negara lain makin kuat. Ketika George Soros ''ngoceh'' di mana-mana, kita tidak mampu melawan; hanya Mahathir yang mampu menangkis. Dulu dengan Rp 2 juta, orang bisa membeli motor. Setelah krisis, diperlukan dana setidaknya Rp 10 juta untuk bisa naik ''sepeda mesin''. Dulu dengan Rp 7 juta orang Islam bisa naik haji ke Makkah dan Madinah. Setelah krisis, diperlukan lebih dari Rp 25 juta untuk menjalankan perintah Allah tersebut.

Lahirnya G-20 memang diilhami peristiwa krisis ekonomi 1998 tersebut dan selanjutnya bekerja untuk memecahkan berbagai kompleksitas ekonomi dunia, khususnya yang dihadapi negara-negara anggotanya.

G-20 Pendidikan

Kalau kita jujur, yang mengalami krisis sekarang ini tidak saja bidang ekonomi dan keuangan. Tapi, bidang pendidikan pun sebenarnya juga sedang mengalami.

Krisis pendidikan yang paling mencolok sekarang adalah terjadinya jurang (gap) antara negara-negara maju dengan negara-negara terbelakang. Dengan dukungan teknologi informasi (information technology) yang serbacanggih, pendidikan di negara-negara maju melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya.

Sebaliknya, dengan memanfaatkan fasilitas seadanya, pendidikan di negara-negara terbelakang mengalami stagnasi dan bersikutat di tempat duduknya. Di negara-negara berkembang, pendidikan mengalami tarik-ulur antara pemanfaatan teknologi dan pelestarian tradisi.

Janganlah heran kalau perguruan tinggi berkelas dunia (world class university) versi Times, SJTU, dan ARWU didominasi oleh negara-negara maju seperti AS dan Inggris; apalagi versi CINDOC yang kriterianya sejauh mana perguruan tinggi bisa memanfaatkan fasilitas teknologi informasi (web) seperti mengakses internet. Dengan kriteria seperti itu, setengah abad ke depan pun tidak pernah akan ada perguruan tinggi dari negara tertinggal yang mampu tampil. Inilah salah satu bentuk krisis pendidikan yang tengah melandan dunia, meski tidak disadari banyak orang.

Jangan heran pula kalau sekolah berkelas dunia (world class school) versi IBO didominasi negara-negara maju. Mengapa? Sekolah-sekolah di negara terbelakang, bahkan negara berkembang, sangat sulit memenuhi kriteria yang dibuat dan diselerai negara maju. Ini konkret, dan ini krisis!

Bagaimanakah dengan anak-anak Indonesia yang tercerabut dari akar budayanya? Bagaimana dengan anak-anak India yang mengalami demam Amerika? Bagaimana dengan anak-anak Thailand yang mulai meninggalkan kesantunannya? Itu merupakan bagian krisis pendidikan yang lain.

Kita memerlukan Kelompok G-20 di bidang pendidikan. Ada pun tugas utamanya adalah menyelesaikan berbagai kompleksitas pendidikan dunia sebagaimana G-20 (ekonomi) yang tugas utamanya menyelesaikan berbagai kompleksitas ekonomi dunia.

Siapa anggota G-20 pendidikan? Negara-negara yang unggul di bidang teknologi pendidikan seperti AS dan Inggris perlu masuk. Negara-negara berkembang berpenduduk besar seperti Tiongkok dan Indonesia perlu masuk. Negara-negara tertinggal yang berpenduduk besar seperti Pakistan perlu masuk. Jangan lupa, negara-negara yang terbukti berhasil memadukan teknologi dengan tradisi seperti Jepang juga perlu masuk.

Problematika pendidikan di satu negara memang menjadi tangung jawab negara bersangkutan. Namun, pada era globalisasi sekarang ini, masalah besar pendidikan yang muncul memang saling kait-mengait antara negara satu dengan lain. Dalam hal seperti inilah eksistensi dan peran Kelompok G-20 diperlukan.

* Prof Dr Ki Supriyoko MPd, pamong Tamansiswa; wakil Presiden PAPE Tokyo, Jepang; kini juga pembina sekolah unggulan Insan Cendekia Jogjakarta
Dikutip dari Jawa Pos, 22 November 2008

Jalan Pintas Melahirkan Buku Laris

Begitu banyak buku yang sudah dirancang sedemikian sempurna dengan memperhatikan pilihan target pembaca, cover, dan pemilihan judul, tetapi pasar tidak menyambutnya dengan baik. Begitu banyak buku bagus ternyata tidak laku. Sebaliknya banyak buku yang biasa-biasa saja isinya ternyata suskes di pasar.

Habibburrahman El Shirazy dan Andrea Hirata beserta Penerbit Republika dan Bentang tentu tidak menyangka kalau novel Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi akan menjadi best seller selama berbulan-bulan, terlepas usaha yang telah dilakukan untuk membuat kedua buku tersebut laris.

Pamflet Tragedi Pendidikan Indonesia

Bagaimana potret dunia pendidikan di Indonesia? Baru-baru ini, masyarakat Indonesia mendapatkan sebuah jawaban yang ringkas, sederhana, tetapi amat mengena. Jawaban itu tersaji dalam novel fenomenal berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang menjadi semakin populer saat filmnya dirilis akhir September lalu. Dalam novel yang pada dasarnya adalah memoar itu, Andrea menyajikan potret ketimpangan akses pendidikan di tanah kelahirannya, Pulau Belitung, yang sepertinya juga masih menjadi masalah nasional.

Buku terbaru karya Darmaningtyas ini memberikan gambaran yang lebih terperinci tentang hal itu. Buku yang ditulis pengamat pendidikan lulusan Filsafat UGM ini bertolak dari pertanyaan sederhana: mengapa hingga kini pendidikan dasar masih belum dapat dinikmati semua warga negara Indonesia? Apakah benar masalah utamanya terletak pada ketersediaan dana yang terbatas, sebagaimana jawaban yang sering kita dengar dari pemerintah?

Melalui buku ini, Darmaningtyas menunjukkan bahwa ada penyebab yang lebih mendasar atas belum terpenuhinya hak-hak pendidikan masyarakat. Penyebabnya adalah trio racun yang sampai saat ini masih terus menjadi virus yang merusak masyarakat. Yakni utang luar negeri, korupsi yang merajalela, dan inefisiensi. Tiga racun ini dipaparkan secara cukup detail dalam masing-masing satu bab khusus.

Utang luar negeri Indonesia hingga kini telah memberi dampak yang signifikan, termasuk terhadap sektor pendidikan. Pada 2003, total utang Indonesia mencapai USD 150 miliar. Jumlah ini melampaui produk domestik bruto (GDP) yang dihasilkan Indonesia. Pada 2004, total pembayaran bunga pinjaman memakan 92,67 persen dari total penerimaan negara, yakni sebesar USD 7,9 miliar. Karena beban pembayaran utang begitu tinggi, maka dampak yang paling terasa oleh masyarakat saat ini adalah pengurangan subsidi untuk berbagai sektor, mulai pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian, dan sebagainya. Akibatnya, biaya pendidikan naik. Beberapa perguruan tinggi negeri terkemuka berubah status menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara), eufemisme bagi privatisasi, yang intinya membuat pendidikan kemudian berbiaya mahal. Dengan dukungan ketentuan hukum yang menjadi payung legitimasi atas proses ini, masyarakat menjadi lemah untuk menuntut tanggung jawab negara atas penyediaan sarana pendidikan yang dapat dijangkau.

Yang sungguh mengenaskan, utang yang menggunung itu ternyata masih harus ditambah dengan penyakit kronis lainnya, yakni korupsi. Dana pinjaman untuk beasiswa dan dana bantuan operasional (DBO) untuk membantu sektor pendidikan pada saat krisis selain dinilai diskriminatif ternyata juga banyak mengalami kebocoran dan salah sasaran. Temuan Tim Pengendali Program JPS yang diketuai Mar'ie Muhammad memaparkan bahwa salah sasaran program beasiswa SD-SMTA mencapai 60 persen. Pada saat yang sama pemerintah justru mengucurkan dana BLBI yang mencapai Rp 144 triliun untuk para pengusaha yang hingga kini penyelesaiannya masih gelap. Dana melimpah yang dikemplang ini sebenarnya dapat menjadi biaya untuk mengatasi masalah pendidikan di negeri ini.

Korupsi merajalela di mana-mana, mulai dari lembaga pemerintah, BUMN, lembaga legislatif, bahkan juga dalam dunia pendidikan. Pengelolaan dana buku ajar, misalnya, oleh Darmaningtyas diangkat sebagai salah satu contoh yang diulas dengan rinci.

Faktor ketiga yang menjadi racun pendidikan di Indonesia, yang menghambat akses kaum miskin untuk memperoleh pendidikan dasar yang baik adalah inefisiensi dana pendidikan, dana negara, atau dana masyarakat. Karena tak efisien, dana yang memang terbatas itu jauh dari sasaran, bocor ke mana-mana, atau diterima oleh orang yang tidak tepat.

Darmaningtyas menyajikan banyak contoh inefisiensi, mulai yang terjadi di badan legislatif, pemerintahan, lembaga pendidikan, hingga masyarakat. Di antara yang digambarkan adalah pemborosan dana akibat pelaksanaan pilkada atau pemilu. Apakah biaya yang dikeluarkan cukup impas dengan harga (pendidikan) demokrasi yang didapat?

Inefisiensi di departemen pendidikan yang juga dibahas, antara lain menampilkan contoh tentang pembangunan gedung SMPN 2 Pasongsongan, Sumenep (Madura). Di situ tersedia sembilan ruang kelas, satu ruang guru, satu ruang perpustakaan, dan satu ruang laboratorium. Padahal, ketika Darmaningtyas berkunjung ke sana pada 2002, sekolah itu hanya memiliki 63 murid. Artinya, hanya membutuhkan tiga ruang kelas.

Di Madiun dibangun gedung senilai Rp 43 miliar untuk rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang akhirnya mangkrak dan tak digunakan, karena pejabatnya belum siap menjalankan program tersebut. Di sekolah, inefisiensi juga banyak ditemukan, mulai dari program study tour, penyediaan seragam, buku LKS (lembar kerja siswa), dan sebagainya.

Meski demikian, Tyas juga mengkritik masyarakat yang juga banyak mengeluarkan dana tak efisien, seperti untuk pulsa telepon seluler yang mungkin sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, atau hal-hal mewah serupa. Baru-baru ini kita juga mendapat informasi dari Masyarakat Peduli Bahaya Tembakau bahwa ternyata rokok telah menggerogoti sumber keuangan rumah tangga miskin karena mereka ternyata membelanjakan 12,4 persen pendapatannya untuk membeli rokok, dengan mengorbankan gizi keluarga, kesehatan, termasuk pendidikan.

Kekuatan buku ini terletak pada data-data yang disajikan yang begitu melimpah. Dengan bahan kliping berbagai media massa dan sumber lain, Tyas meyakinkan pembaca bahwa keterpurukan pendidikan di Indonesia bukan karena dana yang terbatas, tapi lebih karena utang, korupsi, dan inefisiensi. Semua setali tiga uang: menyengsarakan nasib pendidikan masyarakat. Padahal, masalah pendidikan di Indonesia begitu akut, mulai dari soal filosofi dan ideologi pendidikan, inkonsistensi kebijakan, hingga fasilitas yang terbatas atau problem mikro lainnya. (*)

--

Judul Buku : Utang dan Korupsi Racun Pendidikan

Penulis : Darmaningtyas

Penerbit : Pustaka Yashiba

Cetakan : I, Juli 2008

Tebal : xiv + 280 halaman

---

M. Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, alumnus Fakultas Filsafat UGM Jogjakarta

Dikutip dari Jawa Pos, 23 November 2008

Geliat Kaum Tradisionalis

Pada 2006, Ahmad Baso, intelektual muda NU asal Makassar, meluncurkan buku, NU Studies: Pergolakan Pemikiran Antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal. Membaca buku itu, perhatian saya segera tertuju pada frase NU Studies. Secara verbatim, NU Studies berarti kajian tentang NU. Kalau sekedar mengurai dari makna harfiahnya, frase NU Studies terkesan tidak begitu istimewa. Tetapi yang dikehendaki Baso melebihi makna harfiah itu.

Dengan NU Studies, tegas Baso, NU tidak lagi sekadar dijadikan objek, tetapi menjadi subjek yang dapat menarasikan dirinya (NU) yang terbebas dari pencitraan-pencitraan negatif sebagaimana pendekatan kolonialisme (colonialism). Dengan kata lain, Baso ingin agar semua kajian tentang NU menggunakan perspektif ''orang dalam'' (insider), bukan perspektif ''orang luar'' (outsider) sehingga narasi tentang NU menyerupai narasi yang dibuat oleh orang-orang NU sendiri.

Kegelisahan Baso pernah dialami Zamakhsyari Dhofier, mahasiswa doktoral di The Australian National University, Canberra, Australia. Kegelisahan Dhofier di samping dipicu oleh langkanya kajian terhadap fenomena NU dan lingkungan di sekitarnya, juga karena --kalau toh NU dijadikan sebagai bahan kajian-- penjelasan terhadap NU jauh dari memuaskan karena terlalu condong pada pendekatan ''orang luar''.

Kegelisahan Dhofier kemudian dituangkan dalam penelitian disertasi Ph.D-nya, The Pesantren Tradition: A Study of the Role of the Kyai in Maintenance of the Traditional Ideology of Islam in Java (1980). Dua tahun kemudian, tesis tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit LP3ES dengan judul, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (1982).

Dhofier memang tidak meneliti NU, melainkan pesantren. Tetapi, bagi yang akrab dengan NU, tentu menyadari bahwa pesantren merupakan pilar penting bagi kaum ''Islam tradisional'' pada umumnya, dan NU pada khususnya. NU dan pesantren tak ubahnya seperti dua sisi mata uang.

Penelitian Dhofier segera mendapat perhatian dan menjadi rujukan peneliti berikutnya. Salah satu nilai lebih penelitian Dhofier bila dibandingkan dengan peneliti lainnya, adalah pada pencitraan terhadap komunitas ''Islam tradisional''. Dhofier mengaku tidak puas terhadap peneliti sebelumnya yang cenderung negatif dalam membuatkan pencitraan terhadap dunia pesantren.

Dhofier menyebut dua nama yang dinilai gagal dalam memahami pesantren, yakni Clifford Geertz dan Deliar Noer. Menurut Dhofier, kedua nama itu secara sepihak mencitrakan ''Islam tradisional'' sebagai komunitas yang menempati posisi kelas dua di bawah komunitas ''Islam modernis''. Tidak cukup di situ, ''Islam tradisional'' juga dianggap akrab dengan pelbagai praktik keagamaan sinkretik. Tidak seperti Geertz dan Noer, Dhofier justru menemukan berbagai episode kreatif pada komunitas ''Islam tradisional''. Dengan menggunakan teori continuity and change (kesinambungan dan perubahan), Dhofier sampai pada suatu titik simpul, pesantren sebagai pilar utama NU terus menggeliat merancang perubahan dengan tetap berpijak pada tradisi keilmuan klasik.

Perubahan di tubuh ''Islam tradisional'' mendapatkan energi baru ketika pada 1984 terjadi peristiwa yang memiliki makna historis bagi perkembangan NU pada masa-masa berikutnya. Pada tahun itu, NU menorehkan catatan penting melalui muktamar yang berlangsung di Situbondo. Setidaknya ada dua catatan penting dari muktamar tersebut. Pertama, NU melakukan reposisi politik dengan kembali ke Khittah 1926. Kedua, muktamar berhasil memilih Kiai Achmad Siddiq (1926-1991) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menempati posisi penting dalam keorganisasian NU. Kiai Ahmad Siddiq menempati posisi sebagai Rais 'Am Majelis Syuriah, sedangkan Gus Dur di posisi ketua umum Lajnah Tanfidziyah.

Khittah 1926 serta terpilihnya Gus Dur, ditambah Kiai Achmad Siddiq di posisi syuriah, merupakan energi baru bagi kelanjutan perubahan dalam komunitas ''Islam tradisional'' sehingga tetap eksis dan dinamis kendati menghadapi pelbagai tantangan yang semakin rumit. Bagaimana geliat perubahan komunitas ''Islam tradisional'' di era Gus Dur? Pertanyaan inilah yang dijawab Djohan Effendi dalam buku ini. Buku ini semula merupakan disertasi Effendi sebagai syarat menyelesaikan studi di Departement of Religious Studies, School of Social Inquiry, Faculty of Arts, Deakin University, Australia. Karena ingin menyajikan geliat perubahan NU di era Gus Dur, tentu hal yang wajar jika Effendi perlu memberikan highlight pada mantan presiden keempat ini.

Pada bagian awal buku ini (hlm. v), misalnya, Effendi mengatakan bahwa sebagai pimpinan NU, Gus Dur telah menjadi inspirator bagi kiai dan intelektual muda (NU) terlibat dalam pengembangan wacana keagamaan baru (new religious discourses).

Tampaknya tidak ada yang berlebihan pada ungkapan Effendi tersebut. Sepertinya peran Gus Dur dalam menciptakan atmosfer baru, setidaknya di kalangan warga nahdliyin, terutama dari sisi intelektual, sulit dibantah. Bahkan, peran Gus Dur bisa dilihat dalam spektrum yang lebih luas, yang melampaui komunitasnya sendiri.

Sekadar perbandingan, John L. Esposito dan John O. Voll (2001), misalnya, menyebut Gus Dur sebagai salah seorang tokoh (intelektual) yang layak disebut sebagai makers of contemporary Islam. Menurut Esposito dan Voll, Gus Dur layak diposisikan demikian karena terbukti memberikan kontribusi dalam upaya mensintesiskan antara modernitas dengan tradisi Islam sepanjang 1980-1990-an. Kontribusi ini pula yang ingin diurai oleh Effendi pada saat Gus Dur mengendalikan NU sejak 1984.

Beberapa kalangan terutama yang masih memercayai mantra positivisme, tradisi sering dipandang sebagai penghambat kemajuan. Bila ingin maju, masyarakat harus memutus mata rantai dengan tradisi. Begitulah mantra positivisme. Mantra ini jelas tidak bisa digunakan oleh komunitas ''Islam tradisional'' (pesantren dan NU). Sebab kekuatan komunitas ini justru pada tradisi tersebut. Seperti banyak peneliti lain, Effendi juga melakukan pencandaraan terhadap karakter tradisionalisme NU yang berakar pada kiai, pesantren, kitab (kuning atau klasik), dan tradisi keilmuan dari ulama otoritatif ''tempoe doeloe'' yang disebut juga dengan ulama klasik atau ulama salaf.

Di mata Gus Dur, semua unsur yang membentuk karakter tradisionalisme pada NU, bisa menjadi kekuatan jika dikelola secara bertanggung jawab. Bukankah kalangan ''Islam tradisional'' memiliki mantra sendiri untuk merespons perubahan tanpa mengorbankan tradisi, yakni: al-muhafadzatu bil-qadimish-shalih wal-akhdzu bil-jadidil-ashlah. Dengan mantra ini, kata Effendi, kalangan ''Islam tradisional'' mampu mencari jalan tengah antara konservatisme dengan kreativitas (hlm. 89).

Kreativitas kalangan ''Islam tradisional'' terlihat pada kemampuan mereka dalam merespons pelbagai wacana publik yang sarat dengan kontroversi seperti demokrasi, kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan (gender) di ranah politik, dan HAM. Semua wacana ini dikatakan kontroversial karena di kalangan Islam sendiri terjadi silang pendapat. Bahkan kalangan Islam garis keras mengharamkan semua wacana tersebut. Tidak seperti Islam garis keras, kalangan ''Islam tradisional'' justru mengakrabi wacana tersebut serta memberikan penguatan secara teologis. (*)

---

Judul Buku : A Renewal Without Breaking Tradition:

The Emergence of a New Discourse in Indonesia's

Nahdlatul Ulama During The Abdurrahman Wahid Era

Penulis : Djohan Effendi

Penerbit : Interfidei, Jogjakarta

Cetakan : I, Agustus 2008

Tebal : 314 halaman

---

Syamsul Arifin

Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat, Unmuh Malang

Kebangkitan Iran Pascarevolusi

AWAL 1979, tokoh spiritual dan cendekiawan Iran Ayatullah Ruhullah Khomaeni memimpin sebuah gerakan revolusi untuk menumbangkan penguasa monarki,Shah Reza Pahlevi.

Di bawah komandonya, ribuan massa berbondong- bondong turun ke jalan, menentang, memprotes, dan menuntut Pahlevi untuk segera turun dari jabatannya. Tumbangnya rezim Pahlevi di bawah pimpinan para Mullah, merupakan bencana besar bagi pihak Amerika dan sekutunya.

Pasalnya,selama Pahlevi menjabat sebagai presiden, Iran memiliki hubungan diplomasi yang cukup erat dengan negara adidaya itu. Di mata Amerika, Iran memiliki arti strategis sebagai negara penyanggah untuk membentengiwilayah Timur Tengahdari pengaruh komunisme Uni Soviet.

Selain itu, Iran juga dapat menjamin keamanan sekutu utamanya di wilayah kaya minyak tersebut,Israel. Setelah kemenangan revolusi, negeri para Mullah ini mengorientasikan kebijakan luar negerinya pada penyebaran nilai-nilai revolusi ke negara-negara Arab dan Islam. Tujuannya adalah agar kaum muslim bangkit melawan para penguasa yang represif.

Munculnya gerakangerakan perlawanan di berbagai wilayah konflik di Timur Tengah, seperti Hezbollah, Amal al-Islam, Hamas, dan Tentara Mahdi merupakan efek dari pengaruh revolusi Islam Iran. Revolusi Islam Iran telah memberikan arti yang positif bagi rakyat Iran, bahkan dunia.

Pascarevolusi, pemerintah bersama rakyat bahumembahu membangun kembali negerinya dan melepaskan intervensi bangsa asing. Tekad keras bangsa Iran itu mencapai hasil yang cukup signifikan,baik dalam bidang ekonomi,pendidikan,politik, ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan militer.

Buku Perang Nuklir? karya Muhammad Alcaff ini,menjelaskan tentang kemajuan yang dicapai Republik Islam Iran pascarevolusi. Untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi, Iran berusaha mencapai kemandirian di bidang pertanian dan industri.Upaya ini terus berlanjut meski Iran harus menjalani masa-masa paling sulit,yaitu perang yang dipaksakan Rezim Baats Irak selama delapan tahun.

Meski demikian,ikhtiar tanpa kenal lelah itu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Iran berhasil mencapai swasembada gandum,sebuah komoditas strategis pertanian. Bahkan,saat ini Iran sanggup mengekspor hasil produksi gandumnya ke sejumlah negara Timur Tengah.

Dalam bidang sains dan teknologi,para pakar Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat.Teknologi ”nano” sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia,ternyata selama bertahun-tahun telah menjadi perhatian dan penelitian ilmuwan Iran.Teknologi ”nano” dapat digunakan untuk keperluan kedokteran, pertanian, dan industri.

Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi ”nano”dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas. Dalam bidang pendidikan, pemerintah Iran berhasil memberantas buta huruf.Melalui instruksi Imam Khomaeni, Iran membentuk Lembaga Kebangkitan Melek Huruf.

Hasilnya,angka buta huruf di Iran turun drastis.Tercatat,sebelum revolusi angka buta huruf di Iran mencapai 50%.Pascarevolusi, angka ini berhasil ditekan menjadi 10%. Dalam bidang pertahanan dan nuklir, Iran mengalami perkembangan pesat.Kendati Iran pascarevolusi menghadapi beragam tekanan dan embargo, para ilmuwan dan teknisi militer Iran tidak pernah menyerah untuk memajukan kekuatan pertahanan negaranya.

Tidak heran bila kini Iran berhasil meraih keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya dalam bidang persenjataan modern. Saat ini Iran berhasil mengembangkan berbagai bentuk roket. Begitu pula dalam bidang pembuatan helikopter dan pesawat tempur.Sejumlah pesawat tempur berteknologi tinggi, baik berjenis tanpa awak maupun standar, berhasil dibuat Iran.

Di samping itu, program nuklir Iran yang sempat menjadi isu paling panas di dunia internasional, juga menghasilkan prestasi yang mengagumkan. Produksi nuklir yang dikembangkan Iran, murni untuk tujuan damai dan kesejahteraan bangsa Iran. Sebab, nuklir bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik, keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika dalam bidang pertanian dan peternakan.

Prinsip keadilan,kesetaraan, kebebasan, dan kemerdekaan yang didengungkan sejak revolusi seakan menjadi roh dan pemecut nyali bangsa Iran.Karena itu,beragam upaya busuk yang dilakukan Amerika tidak bisa menghancurkan Negeri Mullah ini.Dari embargo militer, ekonomi, pembekuan aset Iran di luar negeri dengan atau tanpa Resolusi DK PBB, misalnya, tidak bisa membuat Iran kapok.

Sebagai bangsa yang berkembang, sepertinya kita harus bisa meniru apa yang telah dilakukan bangsa Iran. Sikap merdeka dan mandiri yang dipraktikkan bangsa Iran hingga dapat melakukan lompatan yang mengagumkan, mestinya juga dapat dilakukan bangsa ini. Sebab, hanya dengan cara itulah bangsa kita akan menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan disegani bangsa-bangsa lain.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca,tidak saja karena berhasil menyajikan sejumlah data dan fakta mengenai kemajuan Iran pasca revolusi. Lebih dari itu, buku ini membeberkan bagaimana Iran berperan penting dalam melahirkan gerakan-gerakan perlawanan di Timur Tengah, seperti Hezbollah, Amal al- Islam, Hamas, Jihad Islam, dan Tentara Mahdi.

Mohamad Asrori Mulky
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina Jakarta.

Sumber, Sindo, 22 November 2008

MenyebarkanVirus Kesuksesan

KESULITANdalam hidup merupakan modal dasar untuk mengubah keadaan.Banyak cerita dari pribadi-pribadi sukses,dulunya pernah mengalami masa lalu yang buruk.

Sebagian rahasia suksesnya karena mereka tidak berdiam diri dan menyesali peristiwa- peristiwa buruk yang pernah dialami. Pribadi sukses dapat menemukan banyak cara untuk mengisi kegagalan, di mana pengalaman buruk dan masa lalu yang kelam justru dijadikan sebagai modal dalam membentuk kepribadian berani dan siap untuk sukses.

Mengubah kegagalan dan keterbatasan untuk menjadi sukses juga dirasakan Thomas Sugiarto, entrepreneur muda yang merangkak dari bawah, sehingga sekarang dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses. Thomas kecil dilahirkan di Kepulauan Riau dari keluarga yang sederhana.

Kedua orangtua Thomas hanyalah lulusan kelas III SD dan ayahnya bekerja dengan membuka kedai kopi. Sejak awal, Thomas kecil ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Hal tersebut berjalan berjenjang mulai pendidikandisebuahSDnegeri yang berfasilitas minim hingga kemampuannya menembus Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, UGM.

Kini, visi Thomas dan istrinya pada 2012 adalah saat Thomas pada saat usia ke-45 ingin mencapai financial and time freedom, salah satunya ber-penghasilan Rp1 miliar tiap bulan. Perjalanan Thomas hingga sekarang ini lahir bukan karena proses kebetulan. Bukan sebagaimana konsep hoki yang dipahami kebanyakan orang, di mana keberuntungan yang bersifat terberikan (given) dan datangnya tiba-tiba.

Hoki bagi Thomas adalah keberpaduan antara kesiapan diri dan kesempatan yang ada. Lantas, bagaimana cara Thomas menjadi sukses seperti ini? Thomas membaginya menjadi tiga tahap,yakni believing, learning, dan action. Believing bukan sebatas konsep percaya saja, melainkan satu keyakinan yang disuntikkan secara terus-menerus.Kita yakin bahwa kita mampu,dan sugesti itulah yang kemudian secara konsisten kita tanamkan dalam pikiran dan kegiatan sehari- hari.

Dalam buku Secret of Life yang kini banyak dipakai sebagai referensi pengembangan motivasi,keberhasilan justru lahir ketika kita yakin dan optimistis dalam menghadapi sesuatu.Karena itu, kita diarahkan untuk menjadi optimistis dan bijak dalam menghadapi semua permasalahan termasuk kegagalan.Thomas membuktikannya ketika saat kecil terpaksa berenang untuk bisa menyelamatkan diri,satu hal yang pada awalnya tidak Thomas yakini.

Konsep kedua adalah learning, Konsep learningdilaksanakan dengan terus belajar dari pengalaman hidup. Baik dari pengalaman pribadi maupun dari kisah kesuksesan orang lain. Learning juga sekaligus merupakan perwujudan dari potensi alam bawah sadar kita.Penelitian ilmiah menyatakan bahwa kemampuan manusia hanya 3–5% yang dikendalikan kekuatan sadar,sedangkan sisanya justru dikendalikan alam bawah sadarnya.

Konsep pengendalian alam bawah sadar seperti fenomena gunung es, di mana yang tampak di permukaan justru bagian kecil dari bagian seluruhnya. Terakhir action, yakni keberanian untuk mencoba dan yakin bahwa tindakan yang akan dilakukan akan berakhir pada kesuksesan.

Pribadi sukses menemukan bahwa tidaklah mudah untuk merealisasikan ide dan impian, kadang kala seperti sulit diwujudkan. Namun,tetap berusaha walaupun perlahan. Sehebat apa pun ide-ide tersebut jika tidak dilaksanakan hanya akan tetap menjadi sebuah impian. Action diimplementasikan, salah satunya dengan melayani melalui hati, positive thinking, berani gagal dan bangkit dari kegagalan, hingga passion dalam mencapai sukses.

Buku setebal 220 halaman ini sangat bermanfaat dalam menciptakan pribadi yang ingin sukses. Sebagaimana buku motivasi dan tips menjadi entrepreneur yang sukses yang lain, bisa dikatakan buku ini berhasil ketika setelah membaca buku ini darah menggelegak dan terinspirasi untuk mencontoh kesuksesan pengarang.Saya termasuk yang tertantang dan bersemangat dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita menjadi sukses.

Namun, tentu saja saya perlu meyakinkan diri bahwa kesuksesan bukan terbatas pada kekayaan, jabatan, dan kehidupan yang bisa diukur. Kesuksesan sejati adalah saat kita bisa memberi makna, memiliki manfaat, dan menciptakan hidup yang berkeadilan untuk sesama. Kesuksesan juga ketika kita mampu menyebarkan virus kepada orang lain untuk bersama- sama mencapai kesuksesan yang hakiki.Karena itu untuk menjadi sukses, harus dimulai dari sekarang.(*)

Herdis Herdiansyah
Manajer Riset Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan (CSDS),Pascasarjana Universitas Indonesia.
Sumber, Sindo, 22 November 2008

Adam Malik-CIA dalam Buku Tim Weiner

Mendiang Adam Malik, sosok Batak bermarga Batubara, konon merupakan agen CIA (Central Intelligence Agency), sebagaimana diungkapkan Tim Weiner dalam bukunya Legacy of Ashes, the History of CIA (Membongkar Kegagalan CIA)?

Sebagaimana diketahui, Weiner yang juga wartawan koran The New York Times tersebut menulis tentang peran agen itu berdasar wawancaranya dengan perwira CIA, Clyde McAvoy, pada 2005. Kepada Weiner, McAvoy mengklaim bertemu Adam Malik pada 1964 dan merekrutnya sebagai agen CIA. Bahkan, guna mendukung peran Adam Malik sebagai agen, CIA menyerahkan uang tunai 10.000 dolar AS untuk membiayai pembasmian Gestapu (hal 332 edisi Indonesia).

Sebagian besar publik kita langsung menolak tulisan Weiner. ''Saya tidak percaya Pak Adam Malik menjadi apa yang ditulis itu (agen CIA). Sebab, garis politik Pak Adam Malik tidak sesuai dengan pandangan politik Amerika,'' katanya. ''Beliau pendiri Partai Murba, lebih condong ke pemikiran sosialis. Mana mungkin orang Amerika percaya orang sosialis bisa jadi agennya? Selain itu, mana mungkin orang Murba jadi agen CIA,'' timpalnya.

Meski demikian, Wapres Jusuf Kalla mengakui ada kemungkinan Adam Malik tidak sadar telah direkrut sebagai kontak CIA (Jawa Pos, 25 November 2008).

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, atas terbitnya buku itu, keluarga Adam Malik dan pemerintah harus bersikap, antara lain, dengan mengeluarkan bantahan. Dia beralasan, Adam Malik adalah tokoh yang harus dijaga nama baiknya. Apalagi, saat ini akan dibangun bandar udara di Sumatera Utara bernama Adam Malik. Penarikan buku dari peredaran, kata Asvi, juga bisa menjadi alternatif untuk menghentikan tuduhan kepada Adam Malik.

Tak Perlu Ditarik

Toh, menurut saya, buku itu tidak perlu ditarik. Bukankah selama ini juga sudah beredar rumor dalam lingkup terbatas tentang Adam Malik sebagai agen CIA. Jadi, Weiner perlu diapresiasi karena mengkat rumor itu dalam sebuah buku berdasar laporan perwira CIA, Clyde McAvoy.

Lagi pula, apakah keterlibatan sebagai agen CIA harus selalu dimaknai secara negatif? Bergantung perspektif atau sudut pandang saja. Penulis jadi ingat rumor di Belanda pada awal 1990-an yang gencar menyebut mendiang Paus Yohannes Paulus II kabarnya juga menjalin kerja sama erat Vatikan-CIA sejak 1980-an untuk meruntuhkan komunisme di Eropa Timur. Tidak heran jika ada yang menyebut Paus pun direkrut jadi agen CIA.

Lalu, TV Nederland III dalam suatu programnya memaparkan tentang kerja sama erat CIA-Vatikan di bawah Paus Yohannes Paulus II. Program itu diperkuat berbagai dokumentasi guna menguak keterlibatan Vatikan-CIA-Lech Walensa yang memimpin gerakan buruh Solidaritas untuk menggulingkan pemerintahan sosialis Polandia di bawah Yaruzelsky.

Atas perannya tersebut, Paus Yohannes Paulus II hingga kini justru dianggap sebagai pahlawan penumbang komunisme di Eropa Timur. Adam Malik juga bisa dilihat sebagai salah seorang pahlawan penumbang PKI.

Karena itu, seandainya Adam Malik sungguh jadi agen CIA dalam konteks untuk membendung semakin kuatnya pengaruh PKI pada dasawarsa 1960-an, di mata penulis, citra dia tidak akan ternoda. Warga kita yang hidup pada era 1960-an bisa memberi kesaksian betapa kuatnya pengaruh komunis ketika itu seolah dominasi tersebut tidak bisa dipatahkan.

Sanggahan dan Klarifikasi

Tentu saja kita bisa menyangkal keterlibatan Adam Malik sebagai agen CIA. Tapi, jangan lupa, Tim Weiner selama 20 tahun telah bekerja secara profesional menelaah dunia intelijen, khususnya CIA.

Memang, keterlibatan CIA dalam kudeta terhadap Bung Karno dan PKI pada 1965 selalu disangkal beberapa kalangan. Namun, berbagai sumber asing, seperti Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson, menyebut CIA justru sebagai dalang utama peristiwa 1965. Untuk itu, CIA bekerja sama dengan sebuah klik di dalam AD untuk memprovokasi PKI.

Apalagi, George M.T. Kahin juga mengungkap keterlibatan CIA dalam berbagai pemberontakan di tanah air seperti kasus PRRI dan Permesta. Jadi, tidak mustahil CIA juga berperan dalam percobaan kudeta 1965.

Jangan lupa pula, sebagai negara adikuasa, AS lewat CIA-nya selalu ingin terlibat dan campur tangan dalam berbagai urusan negara lain. Uniknya, buku Weiner kali ini secara implisit justru seperti mengesankan bahwa CIA, dinas rahasia AS) dan pemerintah AS tidak terlibat secara langsung dalam perencanaan kudeta 1965 di Indonesia.

Jadi, ada ''contradictio in terminis''. Di satu sisi, Adam Malik dinyatakan sebagai agen CIA, di sisi lain CIA tidak terlibat langsung dalam Peristiwa 1965.

Karena itu, sanggahan atau klarifikasi secara ilmiah atas tulisan Weiner harus dibuat sesegera mungkin oleh para sejarawan kita. Kita boleh menolak temuan Weiner, tapi penolakannya tidak boleh sekadar emosional. Di sinilah ada tugas mulia sejarah.

Mendiang sejarawan Kuntowijoyo mengingatkan, tugas sejarah bukan seperti hakim yang menentukan hitam putihnya seorang tokoh sejarah. Kalau ada sebuah laporan sejarah yang salah, pelurusannya hanya bisa lewat penulisan dengan bukti-bukti terbaru. Bukan dengan menarik buku atau membakar buku itu.

Agaknya, kita harus mengakui, bangsa ini belum mampu menilai secara jujur peran sejarah, termasuk sejarah para tokohnya seperti Adam Malik secara holistik dan objektif. Orang masih lebih suka berada pada posisi memihak yang satu seraya menolak yang lain.

* Endang Suryadinata, peminat sejarah, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam

Dikutip dari Jawa Pos, 25 November 2008

Sragen Book Fair 2008 Tanggal 28 Oktober s/d 2 November 2008




Mengenal "PILOT" Perling Kab. Sragen




Pasukan Perling Kab. Sragen "In Action"





Inilah aksi para pasukan Perpustakaan Keliling Kabupaten Sragen. Dengan dukungan 4 unit mobil perpustakaan keliling mereka siap beraksi untuk menjemput pembaca di seluruh pelosok Kabupaten Sragen.
Uniknya, salah satu mobil perpustakaan keliling ini sudah berusia lanjut dan dijuluki "Mbah Kakung". Tapi jangan khawatir meskipun sudah tua, Bus Perling generasi pertama ini tetap eksis sampai sekarang melayani minat baca di seluruh Sragen. Tak mau kalah dengan kendaraan yang lebih muda.Begitulah menurut penuturan Kopilotnya, eh ....sopirnya... ding, Mas Gunawan .

Lomba Sinopsis Pelajar Tahun 2008











25 November 2008

Forum Perpustakaan Umum dan Khusus, Jembatan Prestasi Anak Bangsa

AKARTA—Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan H. Supriyanto membuka secara resmi Rapat Koordinasi Forum Perpustakaan Umum dan Khusus, Rabu (19/11) di Hotel Jayakarta, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Acara yang diikuti seluruh pengurus Forum Perpustakaan Umum Indonesia (FPUI) dan Forum Perpustakaan Khusus (FPK) itu dimaksudkan untuk menyatukan visi dan misi kedua forum yang sudah lama terbentuk. Menurut H. Supriyanto dalam pengarahannya berharap forum perpustakaan umum dan perpustakaan khusus menjadi jembatan informasi antar perpustakaan umum dan perpustakaan khusus yang ada di Indonesia. Perpustakaan Umum sekarang ini sudah makin maju dan harus terus ditingkatkan, baik layanan jasa perpustakaan, SDM maupun kemampuan koleksinya makin up to date setiap saat. “Selain itu, katanya perpustakaan umum dan khusus juga sudah saatnya memanfaatkan teknologi informasi, sehingga perpustakaan digital yang menjadi ikon perpustakaan masa depan dapat segera terwujud,” lanjutnya.

Supriyanto juga mengungkapkan bahwa sejak zaman Presiden RI pertama perpustakaan sudah diperhatikan, mestinya sekarang ini perpustakaan sudah tumbuh dan berkembang demikian pesatnya. “Karena para pendiri negeri sangat memperhatikan sekali pentingnya membaca, pentingnya memiliki perpustakaan,” katanya. Sementara pembicara yang hadir kesempatan itu yaitu Hanindiyo Kepala Perpustakaan Mahkamah Konstitusi dan Hary Andayani Kepala Subbag Kelembagaan Biro Organisasi Depdagri, sama-sama menyampaikan pentingnya kerjasama perpustakaan umum dan perpustakaan khusus yang ada di Indonesia. Masing-masing perpustakaan mempunyai pola kebijakan yang berbeda-beda, karena semua tergantung kepada pimpinan daerah masing-masing untuk perpustakaan umum, dan pimpinan instansi untuk perpustakan khusus.

Sementara rapat forum perpustakaan umum yang dipimpin oleh Wakil Ketua FPUI KGS Yanwar dan Sekretaris FPUI Budiati mengangkat program kerja FPUI tahun 2009. Menurut Yanwar, untuk menumbuhkembangkan perpustakaan umum di Indonesia perlu dukungan dari berbagai pihak termasuk komunitas di masyarakat yang peduli dengan perkembangan pendidikan. Untuk program yang paling menonjol di tahun 2009, kata Yanwar, adalah kegiatan Jambore Perpustakaan Umum Indonesia. “Jambore ini kalau bisa terealisir akan memberi penyegaran sekaligus promosi perpustakaan kepada masyarakat, karena mempunyai nilai-nilai sosialisasi dan publikasi yang baik,” ujarnya. Forum yang dibentuk pada tanggal 3-4 Juli 2002 di Bogor itu, pada tahun 2009 akan mengusung kegiatan seminar nasional sekaligus rapat kerja nasional FPUI diiringi dengan pengukuhan beberapa pengurus daerah yang sudah terbentuk.

Sedangkan Maksum dari FPK yang menjelaskan mengenai keberadaan forum perpustakaan khusus mengatakan sangat baik sekali pertemuan kali ini, karena jarang sekali komunitas perpustakaan khusus dapat duduk bersama memberikan sumbang saran dalam memajukan FPK yang masih pasif ini, sehingga eksistensi FPK juga dirasakan mati suri. Maksum menjelaskan mengenai FPK yang mempunyai visi menumbuhkan citra dan meningkatkan pemberdayaan perpustakaan khusus, dengan menjalankan 4 (empat) misi yaitu: meiningkatkan koordinasi dan komunikasi antar perpustakaan; meningkatkan citra kinerja perpustakaan; meningkatkan kualoitas sistem pengelolaan perpustakaan khusus; serta menampung dan menyalurkan aspirasi serta memperjuangkan eksistensi perpustakaan anggota. Menurutnya, program utama adalah pemberdayaan dan pencitraan perpustakaan khusus.

Untuk meningkatkan citra dan kinerja perpustakaan khusus yang diakui dan berperan dalam mendukung tugas dan fungsi institusi yang menaunginya, diperlukan peningkatan profesionalisme tenaga pengelola dan pelayanan informasi yang berkualitas sesuai harapan pengguna. “Oleh karena itu ditetapkan kegiatan peningkatan profesionalisme tenaga pengelola perpustakaan khusus; dan sosialisasi promosi sumberdaya perpustakaan,” ungkapnya. Maksum juga menyebutkan mengenai program sosialisasi dan promosi sumber daya perpustakaan seperti; pemberian penghargaan, penyelenggaraan pameran, pemanfaatan media massa, pemanfaatan bersama website, penerbitan majalah FPK, bedah buku, lomba, serta even khusus melibatkan public figur.***
Sumber www.pnri.go.id

KARIMUN SEGERA MILIKI GEDUNG PERPUSTAKAAN BARU

Tanjung Balai-Bupati Karimun H. Nasrun Basirun, S.Sos, M.Si. mengatakan bahwa tahun depan akan dibangun gedung Perpustakaan Umum. Hal tersebut disampaikan pada pidato pembukaan acara Sosialisasi Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan di aula Masjid Agung Karimun (19/11). Lebih lanjut bupati yang masih muda dan enegik itu menguraikan tentang pentingnya kualitas perpustakaan dalam rangka pencerdasan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan dalam penbukaan UUD 45. Dalam pidato tanpa teks itu sempat mengingatkan kepada pembicara bahwa masyarakat karimun tidak mudah untuk merespon pembicara dan jarang yang mau bertanya pada sesi tanya jawab.
Karimun adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang dibentuk berdasar Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999. Kabupaten yang berbatasan dengan Singapore itu terdiri dari 245 pulau dengan 3 pulau besar, yaitu pulau Karimun, Kundur, dan Sugi. Hanya 73 pulau yang berpenghuni dan sisanya merupakan gugusan pulau tak berpenghuni.
Panitia sosialisasi, Supriadi mengatakan bahwa acara ini dihadiri 167 peserta, terdiri atas tokoh masyarakat, camat dan lurahnya, kepala sekolah dan pengelola perpustakaan sekolah Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, pengelola perpustakaan instansi, pengurus masjid, dan sebagainya. Kegiatan serupa akan dilaksanakan pada anggaran tahun 2009 yang akan datang. Sementara itu, Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip, Indra mengatakan bahwa peserta yang hadir sekitar 90% dari yang diundang. Melengkapi apa yang disampaikan oleh bupatinya, Indra yang mantan camat itu mengatakan bahwa pembangunan kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Karimun direncanakan di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Indra juga mengatakan bahwa menjadi kepala Kantor Perpustakaan ternyata merupakan tantangan tersendiri dalam kariernya sang sangat berbeda dengan saat menjabat sebagai camat. Perpustakaan Karimun yang tahun ini menjadi perpustakaan terbaik tingkat Provinsi yang Kepulauan Riau (Kepri) tahun ini telah banyak dikunjungi mayarakat.
Sosialisasi Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang menghadirkan nara sumber Imam Nurhadi, Kepala Bagian Hukum dan Humas Perpustakaan Nasional RI ternyata mendapat respon dari seluruh peserta. Hal tersebut kemungkinan pengaruh dari ucapan bupatinya yang sering kurang merespon pembicara atau sebab lain tetapi kegiatan yang seharusnya ditutup jam 11.00 sempat molor sampai 11.30 bahkan pada saat makan siang masih banyak yang ingin bertanya lebih lanjut. Kepada RRI lokal, Imam mengatakan bahwa sosialisasi Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan tidak sekedar menjelaskan aspek hukumnya saja tetapi juga aspek perpustakaannya karena masyarakat masih banyak yang belum mengenal apa itu perpustakaan.
Apresiasi perlu diberikan kepada Bupati Karimun yang sangat mendukung pembangunan dan pengembangan perpustakaan di wilayahnya. Saat sosialisasi hadir lebih dulu sebelum peserta lengkap, padahal menurut informasi baru datang dari tugas dinas di Jakarta malam harinya. Banyaknya peserta yang hadir dan aktif pada sosialisasi dapat dijadikan bukti bahwa masyarakat Karimun ingin memajukan perpustakaan. Kepala Perpustakaan yakin akan masa depan perpustakaan cukup menjanjikan dan akan berusaha sekuat tenaga untuk itu. Indra berharap bantuan dari Perpustakaan Nasional berupa Perpustakaan Keliling segera dapt terealisir untuk menunjang layanan yang sudah ada. (IN/hadee)

24 November 2008

Berakhirnya Pendaftaran Lomba Sinopsis Pelajar Tahun 2008

Pendaftaran Lomba Sinopsis Pelajar Tahun 2008 telah berakhir pada tanggal 20 November 2008. Panitia lomba telah menerima 134 naskah sinopsis untuk tingkat SD, 14 naskah sinopsis untuk tingkat SMP, dan 24 naskah sinopsis untuk tingkat SMA. Selanjutnya setiap peserta diwajibkan untuk mempresentasikan sinopsis selama lima menit mulai hari ini tanggal 24 s/d 27 November 2008 di Gedung Sanggar Bhakti Sragen.

Daftar Peserta Lomba Sinopsis Tingkat SD Tahun 2008
Nomor : 1 s/d 50 Pelaksanaan lomba tanggal 24 November 2008
51 s/d 132 pelaksanaan lomba tanggal 25 November 2008
Tempat di Gedung Sanggar Bhakti Pramuka Kab.Sragen
Peserta lomba diharapkan sudah hadir pada pukul 08.00 WIB


Mahesa Putri Wahyuning Tyas
Bella Jania Nur Rahma
Erida Widya Charisma
Hanifah Nuraini
Pria Santi Rahayu.
Salma Rachmanda Soegiarto
Della Oktaviani
Muklis
Andhin Prasetyo
Narendra Wafa Rahmania
Sri Mulyani
Natalie Margaretha
Rizal Pratama
Nurul Tri Lestari
Dwi Puji Lestari
Gita Tri Utami
Asri Eka Putri
Sri Rahayu
Sidiq Ari Pamungkas
Ratnawati Handayani
Umi Ermawati
Mei Nurul Hidayah
Putri Wulandari
Nopta Ningrum Rohmah Tiara
Amanda Agus Miarsih
Puji Lestari
Dwi Lestari
Syarifah Nur Laila
Bima Nugrahanto
Novi Rahayu
Azalia Nusita Valentino
Rahmatul Rahayu Ningrum
Danan Aji Yuliyanto
Ashfa Tri Ayu Meilasari
Adindra Maharsi Kusuma Astuti
Ardina Esa Annisa Adha
Wela Ardha Permata Sari
Fahmi Ismail
Dinta Ainurrohim
Nadia Shafira Dahani
Arti Kumala Arum Dani
Wahyu Dwi Romadlon
Dewi Safitri
Aprilia Eka Ayuningtyas
Agita Tias Ayu Ningsari
Muh. Saifudin
Viggi Ghosandi
Sintia Aprilia W.
Upik Anisa Putri
Tri Mardhiyah
Erna Puji Lestari
Alcha Yoga Hutama
Anik Meilinda
Diana Ayu Novitasari
Zulfa Latifah Nur’aini
Rafif HAnif Fawwazi
Zango Anisa Agni
Firstania Salsafira
Faishal Muhyiddin
Zaky Jauhar Irfan
Dinda Fitri Badriyah
Erlangga Ananta Yudha
Widyaningsih
Qonik Listiana
Anik Astuti
Ria Ageng Pangastika
Rizky Dwi Jayanti
Ni Ketut Puspita Setya Ningtyas
Cesar Garin Satri
Nazun Afifah
Malikah Najibah
Fifit Indriyantari
Dwi Kurnianto
Vina Rihastin Kusuma
Rafi Al Muhasibi
Salsabiela Praha Karima Reza
Choirul Taufik Nur Rohmah H.
Atika Dini Kurnia Sari
Dewi Rohmatullaili Robiah
Linda Esti Damayanti
Firda Rahmawati
Inayah Adityana Warsono
Yessi Ramadhani
Fathin G Bil Faqih
Wayan Astin Hermawati
Arif Setiawan
Ilham Adil Saputra
Alma Permata Sari
Ervina Kusumawati
Deta S
Septa Intan
Ady Fauzy
Ervina
Sarwindah
Kristina Linda Sari
Marzella Geovani Safitri
Yemima Kristian CT
Ulul Albab Tiara
Berlyan Galih Hayu Wicaksono
Amalia Kusuma Wardani
Fitriyani
Selvina Bekti Utami
Abryanto Siliwangi
Tohari Catur Pamungkas
Fransiska Sinta Devi M.
Kurniawan Dwi Saputra
Ayoga Dreda Pradipta
Azka Chilma Sayyida
Naza Rizka
Ilham Basit Saputra
Khoiratun Jannah
Novi Dwi Riyanti
Rini Rahmawati
Nabela Febrianti
Aris Satiti
Apriyanto Adi N
M. Ihsan Tri Wibowo
Ivan Fadilah
Desty Alvinda
Deshandra Tutut Rahmania
Binar Kristi Lasika
Indah Kusuma Putri
Dinar Apriani
Victoria Berlian Friska
Neni Komandi Setyowati
Rizki Septian Brianti
Viky Dwi Agustina
Rizka Hamala Wilda
Tyas Bunga Kumala
Ervina Juli Kusuma Wardani
Erika
Muh. Najib Fauzi
Radisha Maila Afifah
Ananda Putri Anggita

Daftar Peserta
Lomba Sinopsis Tingkat SMP Tahun 2008

Tanggal 26 November 2008, di Gedung Sanggar Bhakti Pramuka Kab.Sragen
Peserta lomba diharapkan sudah hadir pada pukul 08.00 WIB


Choirul Juwanah
Henny Tri Nulatsih
Laras Tanjung Pangesti
Devie Argian Gustina
Arifinanda Aulia Ardhi
Islami Sulistiowati
Sari Trisnaningsih
Rudi Akir Saputro
Tri Novita Sari
Desi Asri Ani
Fawas Taufiq Abdullah
Ariska Aditiara
Warih Ariyani
Venaswari Hanna Tyastiti

Daftar Peserta
Lomba Sinopsis Tingkat SMA Tahun 2008

Tanggal 27 November 2008, di Gedung Sanggar Bhakti Pramuka Kab.Sragen
Peserta lomba diharapkan sudah hadir pada pukul 08.00 WIB

Heri Muhqalim
Ririn Widiyastuti
Taksus Monalisa Adistin
Eni Lukitowati
Agus Prasetyo
Sri Handayani
Hendri Eka Wijaya
Imah Setyowati
Fatyana Rachma Saputri
Alfitra Setyawijaya
Wulandari Nur Hidhayah
Halimah
Nuryani
Hadid Cahyono
Ardila Puji Nugroho
Wahyu Sekti Retnaningsih
Triana Kunwidati
Anis Karita
Rohmah S.
Sri Supatmi
Wisnu Muliawati
Khoirun nisak
Dewi Khoiriyah
Istinganah

20 November 2008

Menpora Adhyaksa dan Peggy Melati Sukma Dukung Anggaran Perpusnas Ditingkatkan

MEDAN MERDEKA SELATAN—Anggaran Perpustakaan Nasional RI terlalu kecil sebagai lembaga pembina perpustakaan dan upaya pencerdasan masyarakat dan bangsa ini, ujar Menpora Adhyaksa Dault, Senin (27/10) di aula Perpusnas Jakarta. Menpora yang menjadi pembicara kunci pada peringatan Bulan Gemar Membaca yang dikaitkan dengan peringatan Sumpah Pemuda tersebut.

Menurutnya anggaran Perpusnas dengan Menpora tidak terlalu jauh, sangat ”jomplang”, tidak seimbang dengan program dan kegiatan yang seharusnya ikut masuk dalam anggaran pendidikan. Bayangkan, dalam rapat dengar pendapat maupun rapat kerja dengan Komisi X DPRRI, kita tahu Depdiknas anggarannya 70 trilyun, Menbudpar 1,7 trilyun, Menpora hanya 640-an milyar dan Perpusnas 380-an milyar. ”Tugasnya sama, Perpustakaan Nasional mencerdaskan anak bangsa melalui pemberdayaan perpustakaan dan minat baca. Dan saya mencerdaskan anak bangsa melalui prestasi olah raga,” katanya bersemangat.

Jadi sangatlah wajar, jika Perpustakaan Nasional sampai saat ini masih terbatasnya pemasyarakatan perpustakaan dan minat baca. Mestinya Perpusnas harus lebih gencar promosinya sehingga masyarakat selalu mengingat peran pentingnya perpustakaan dan minat baca. ”Iklan layanan masyarakat itu saya kira bagus untuk menggugah masyarakat lebih memahami keberadaan perpustakaan dan minat baca,” ujarnya. Selain itu, melalui sinetron juga sangat baik. Pesan-pesan yang mendidik melalui sinetron sekarang ini hampir jauh dari harapan. ”Coba kita saksikan sinetron-sinetron yang sedang tayang, mengapa para produser tidak memberi pelajaran yang baik bagi masyarakat, beri masukan-masukan yang positif bagi perpustakaan, sehingga sinetron-sinetron ada muatan-muatan tentang penting perpustakaan dan minat baca,” katanya.

Sementara Peggy Melati Sukma yang juga menjadi nara sumber dalam seminar itu mengusulkan lima hal untuk meningkatkan minat membaca masyarakat, yakni peningkatan produksi buku yang berkualitas, pendistribusian buku yang merata ke seluruh pelosok nusantara, sosialisasi dan promosi perpustakaan yang menarik agar masyarakat membaca buku, menggandeng komunitas atau relawan untuk sosialisasi dan mengajak keluarga untuk membiasakan membaca buku di rumah bagi anak dan orang tua.

Menurut Peggy yang kini Duta Pendidikan Kesetaraan Depdiknas itu, usulan lima hal tersebut perlu segera dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat agar budaya membaca di kalangan masyarakat Indonesia meningkat dan pada gilirannya akan mampu meningkatkan kualitas SDM dan kecerdasan generasi muda.

Artis yang ngetop dalam sinetron ’Gerhana’ itu mengaku dirinya tremasuk hobby membaca buku sejak usia tiga tahun atas dorongan orang tuanya. Bahkan sejak sekolah di SD hingga kuliah, dirinya selalu menabung dan menyisihkan uang jajan sekolah untuk membeli buku. Hingga saat ini, Peggy tak berhenti untuk selalu dan mengoleksi membaca buku, dengan menaruhnya di boks dalam mobil pribadinya dan di sejumlah ruangan di rumahnya. Peggy juga dikenal akan aktivitas sosialnya dan menjadi duta Indonesia untuk berbicara di PBB guna membahas undang-undang perlindungan perempuan di New York itu menegaskan, membaca buku bisa menjadi fenomena di Indonesia khususnya di Jakarta, yang mampu membangkitkan semangat kebangsaan yang orisinal.

”Buku memiliki nilai edukasi yang tinggi bagi pembacanya, serta minat membaca dari semua kalangan mulai dari anak-anak sampai orangtua, bagiku perpustakaan bisa menjadi wadah dan pusat pembelajaran bagi pemustakanya,” ujarnya.***
Sumber www.pnri.go.id

Perpustakaan Bangkitkan Semangat Kepemudaan

MERDEKA SELATAN—Menpora Adhyaksa Dault hadir di Perpustakaan Nasional RI Jalan Medan Merdeka Selatan 11 dengan kapasitasnya sebagai kenynote speaker pada Perayaan Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan tahun ini, Senin (2710) di Aula Perpusnas Jakarta. Acara yang diselenggarakan selama 3 (tiga) hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan itu bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa terdapat Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan yang jatuh setiap tanggal 14 September. Dengan momen ini diharapkan masyarakat akan beramai-ramai datang ke perpustakaan dan membaca koleksinya yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas masyarakat dengan rajin membaca.

Rangkaian acara peringatan bulan gemar membaca ini dtandai dengan seminar ”Peran Strategis Perpustakaan dalam Meningkatkan Semangat Kebangsaan” dengan Keynote Speaker: Dr. Adhyaksa Dault, SH, M.Si – Menteri Pemuda dan Olah Raga, dan nara sumber lainnya Dr. Sudjarwo Singowidjodjo, M.Sc – Direktur Pendidikan Anak Usia Dini, Departemen Pendidikan Nasional RI dan Peggy Melati Sukma, M.Si – Pengamat Sosial dan Artis. Selain itu, ada lomba nasional Penulisan Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia Tahun 2008 (LPAKI 2008), diikuti oleh 104 orang peserta dengan 106 judul naskah. Lomba ini mulai dipublikasikan sejak bulan Juni 2008.

Acara lainnya adalah Bimbingan Pemakai untuk pemustaka baru Perpustakaan Nasional RI. Kegiatan ini terdiri dari bimbingan pemakai: Tingkat TK dan SD. Dilaksanakan hari Senin, 27 Oktober 2008. Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang siswa Taman Kanak-kanak dan 32 orang siswa Sekolah Dasar; Tingkat SMP dan SMA. Dilaksanakan hari Selasa, 28 Oktober 2008; diikuti oleh 60 orang siswa; Tingkat mahasiswa dan masyarakat umum. Dilaksanakan hari Rabu, 29 Oktober 2008; diikuti oleh 50 orang peserta.
Aneka lomba untuk siswa tingkat Taman Kanak-kanak sampai SMA. Kegiatan ini terdiri dari: Lomba mewarnai: untuk peserta tingkat Taman Kanak-kanak. Dilaksanakan hari Rabu, 29 Oktober 2008 dan diikuti oleh 40 orang peserta dari 25 sekolah di DKI Jakarta; Lomba melukis: untuk peserta tingkat Sekolah Dasar. Dilaksanakan hari Rabu, 29 Oktober 2008 dan diikuti oleh 50 orang peserta dari 35 sekolah. Tema lomba melukis adalah ”Dengan Buku Kita Bangun Bangsa”; Lomba menari tari kreasi tradisional: untuk peserta tingkat SMP. Dilaksanakan hari Selasa, 28 Oktober 2008; diikuti oleh 15 kelompok tari dari 13 sekolah di DKI Jakarta; masing-masing kelompok tari terdiri dari 5 orang; Lomba menyanyi solo lagu perjuangan dan lagu daerah: untuk peserta tingkat SMA. Dilaksanakan hari Selasa, 28 Oktober 2008 dan diikuti oleh 37 orang peserta dari 17 sekolah di DKI Jakarta; Lomba baca puisi tentang perpustakaan: untuk peserta tingkat SMA. Lomba ini dilaksanakan hari Senin, 27 Oktober 2008 dan diikuti oleh 50 orang peserta dari 18 sekolah.

Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi Perpusnas Woro Titi Haryanti dalam laporannya mengatakan bahwa sepanjang masa pendaftaran lomba, banyak sekali siswa sekolah yang mendaftar. Banyak pula dari mereka yang tidak dapat ikut lomba karena kuota lomba sudah dengan cepat terpenuhi. Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme siswa untuk mengikuti kegiatan ini. ”Mudah-mudahan, tahun depan kita dapat menyelenggarakan kegiatan serupa sehingga adik-adik yang belum bisa ikut berlomba tahun ini dapat ikut serta pada tahun depan,” katanya.

Selain itu acara juga dimeriahkan dengan Pameran Ragam Koleksi Perpustakaan Nasional RI dan perpustakaan lainnya seperti; Perpustakaan Instansi Pemerintah, yaitu Perpustakaan Bank Indonesia dan Perpustakaan UPT Proklamator Bung Karno, serta Pameran Foto dari FISIP UI. Untuk memeriahkan acara, ujar Woro Titi, acara juga dimeriahkan dengan bazar buku dan multi produk yang diikuti oleh 30 peserta.

Dalam kesempatan itu, Kepala Pusat Jasa itu menyampaikan ucapkan terima kasih kepada para pendukung acara rangkaian kegiatan ini, yaitu: Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) DKI Jakarta, Neumat School of Photography, Bank Indonesia (BI), PT. Reksa Honora, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), CV. Saree Jaya, Coca Cola Foundation, dan Astragraphia Documentation.
Sementara Kepala Perpusnas Dady P. Rachmananta mengatakan Undang-Undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dalam pembukaannya menyebutkan bahwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat, mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional. Berdasarkan hal tersebut, maka Perpustakaan Nasional RI turut bertanggungjawab untuk berpartisipasi aktif dalam pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Dady mengungkapkan bahwa Perpustakaan Nasional RI memahami benar bahwa tujuan pembangunan nasional dapat tercapai bila didukung oleh seluruh komponen bangsa, termasuk pemuda sebagai generasi penerus bangsa. ”Pemuda mempunyai peranan penting dalam menentukan kondisi dan nasib bangsa dimasa kini dan masa yang akan datang,” katanya. Untuk itu, pemuda Indonesia sebagai generasi penerus serta calon pemimpin bangsa di masa datang diharapkan mampu melanjutkan amanat untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa. Sejalan dengan hal tersebut serta tuntutan di era keunggulan bersaing, pemuda diharapkan untuk selalu siap berkompetisi dengan mengembangkan kualitas melalui peningkatan semangat, kreativitas, pola pikir, disiplin serta iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. ”Dengan partisipasi para pemuda Indonesia, melalui pandangan–pandangan yang visioner serta kedewasaan berpikir, maka tujuan pembangunan nasional dapat dengan cepat tercapai,” lanjutnya.

Kepala Perpusnas juga mengatakan kegiatan ini juga merupakan wujud kepedulian Perpustakaan Nasional RI dalam menggalakkan kembali kecintaan bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, kepada para pahlawan dan tanah airnya. Peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan yang dilaksanakan setiap tahun selayaknya dapat mendidik dan mengukuhkan kepribadian angkatan muda untuk benar-benar menghayati semangat pengabdian kepada rakyat dan pengorbanan diri demi kepentingan nusa dan bangsa. ”Harapan kami, semoga kegiatan ini menjadi pintu gerbang masyarakat khususnya pemuda untuk dapat memanfaatkan sumber-sumber pengetahuan dan budaya nasional yang disimpan dan dikelola oleh Perpustakaan Nasional RI sehingga menjadi masyarakat yang cerdas dan berkualitas,” tandasnya.***

Peresmian Perpustakaan Ikut Ramaikan HUT Ke-37 Otorita Batam

BATAM - Peringatan HUT ke 37 Otorita Batam yang juga merupakan peringatan HUT terakhir bagi Otorita Batam berlangsung dengan sangat meriah, Minggu (26/10), di Lapangan Tumenggung Abdul Jamal, Batam.

Rangkaian acara digelar dalam rangka memperingati hari bersejarah bagi Otorita Batam tersebut, dimulai dengan Upacara Bendera di areal lapangan dilanjutkan dengan peresmian perpustakaan Otorita Batam dan diakhiri dengan pentas kesenian di Hall yang berada dalam kompleks Lapangan Tumenggung Abdul Jamal.

Dalam sambutannya, Ketua Otorita Batam Mustofa Wijaya menjelaskan bahwa HUT Otorita Batam pada tahun 2008 merupakan HUT yang terakhir karena pada HUT ini pula Otorita Batam berganti nama menjadi Badan Pengusahaan Kawasan Batam atau dalam dunia internasional dikenalkan dengan nama Batam Indonesia Free Zone Authority (BIFZA), logo pun ikut berganti, dari yang awalnya bergambar pulau Batam kini menjadi Burung Elang Emas.

Otorita Batam merupakan sebuah instansi yang dibentuk oleh pemerintah pusat melalui Keppres No 74/1971 yang menetapkan sebagian Pulau Batam sebagai daerah pengembangan industri. Menurut Mustofa Wijaya, keberadaan Otorita Batam dari 1971 hingga saat ini telah memberikan banyak kontribusi besar baik itu bagi masyarakat di sekitar kota Batam, di lingkup nasional maupun di lingkup dunia internasional.

Batam yang dahulu kala hanyalah hutan belantara kini telah berubah menjadi kota yang maju. Pengembangan industri di Batam tidak hanya menyerap tenaga kerja di sekitar Batam, namun juga dari hampir seluruh wilayah negara Indonesia. Dunia internasional pun telah mengenal Batam layaknya Bali, namun Bali lebih dikenal sebagai daerah wisata dan Batam dikenal sebagai daerah industri.

Lahirnya Undang-Undang No 44 tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Indonesia, serta PP No 46 tahun 2007 merupakan sebuah transisi yang harus dihadapi Otorita Batam menjadi Badan Pengusahaan Kawasan Batam . Badan Pengusahaan Kawasan Batam, menurut beliau harus mampu menciptakan produk unggulan agar kompetitif sebagai tempat berinvestasi. Perkembangan baru di lingkungan Otorita Batam harus disikapi semua karyawan dengan ketenangan bekerja dan melakukan efisiensi. Penggunaan layanan elektronik berbasis teknologi informasi untuk mengurangi pekerjaan manual terus ditingkatkan untuk mengurangi pemakaian kertas dalam pekerjaan.

Dalam acara yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Kepri, Walikota Batam, Kaperpusnas, Jajaran Muspida dan seluruh pegawai Otorita Batam ini, Ketua Otorita Batam juga meresmikan Perpustakaan Otorita Batam yang berada di dalam Gedung Perkantoran Otorita Batam.

Mustofa berterima kasih kepada Kaperpusnas Dady P. Rachmananta atas bantuan yang diberikan dalam pengembangan perpustakaan Otorita Batam. Kerjasama yang disepakati antara Perpustakaan Nasional RI dengan Otorita Batam pada bulan Agustus lalu telah berhasil terlaksana dengan baik dengan berdirinya perpustakaan yang representatif.

Kaperpusnas pada kunjungan di perpustakaan, menjelaskan bahwa perpustakaan Otorita Batam sudah berstandar internasional, namun koleksi yang dimiliki masih terbatas dan belum seluruhnya diproses, untuk itu perlu ada komitmen bagi BP Kawasan Batam untuk terus memajukan perpustakaan dengan menambah koleksi dan memperkerjakan tenaga-tenaga yang profesional.

T. Syamsul Bahri, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca yang juga Ketua Tim Pelaksanaan Pembangunan Perpustakaan Otorita Batam menjelaskan bahwa koleksi yang dimiliki Otorita Batam sangat berguna sekali jika dapat diakses oleh seluruh masyarakat, selama ini kita tidak pernah tahu bahwa putra Indonesia dapat membangun berbagai infrastruktur yang hebat, dengan perpustakaan ini semua masyarakat baik nasional maupun internasional dapat melihat bagamana majunya Batam.

Selamat ulang tahun Otorita Batam....
Selamat memakai baju baru dengan semangat untuk lebih maju...

sumber : hadeeputra

Revitalisasi Perpustakaan Umum Menuju Perpustakaan Modern

JAKARTA—Forum Perpustakaan Umum Indonesia (FPUI) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI kembali menyelenggarakan Seminar Nasional dan Workshop pada tanggal 21-23 Oktober 2008 di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih Jakarta Pusat. Acara dengan tema Revitalisasi Perpustakaan Umum Menuju Perpustakaan Moder, Terkoneksi, dan Bersahabat tersebut dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan H. Supriyanto. Menurut Ketua FPUI Hj. Tuti Muliaty dalam laporannya seminar dan workshop ini diharapkan akan memberi kesempatan bagi komunitas FPUI dan perpustakaan umum lainnya untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan berkaitan dengan masalah pemasaran atau promosi perpustakaan serta solusi tentang desain arsitektur perpustakaan umum yang modern. Peserta yang hadir lebih dari 120 orang Kepala Badan/Kantor Perpustakaan Umum dari seluruh Indonesia.

Pembicara dalam seminar adalah Rhenald Khasali (Pakar Pemasaran), Arief Suditomo (Pemimpin Redaksi RCTI/praktisi media), dan Paramita Atmodiwirjo (Ikatan Arsitektur Indonesia) dengan moderator Tina Talisa presenter TVOne. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas dalam sambutannya menyatakan perpustakaan umum sebagai salah satu pusat sumber daya informasi, sumber pengetahuan, sarana penelitian, rekreasi serta pelestarian khasanah budaya bangsa sudah seharusnya menerapkan teknologi informasi sebagai kebutuhan bagi pengelolaan perpustakaan agar dapat memberikan layanan informasi bahan pustaka bagi semua lapisan masyarakat atau pemustaka.

Sedangkan H. Supriyanto dalam sambutannya mengatakan selain harus memiliki koleksi yang memadai, dan teknologi infromasi, perpustakaan umum juga perlu menjalin interaksi jejaring antar perpustakaan, karena dengan jejaring ini akan membuat penyelenggaraan perpustakaan yang efisien. “Sebuah perpustakaan yang telah terkoneksi jejaring dalam skala yang besar akan menciptakan sesuah sumber daya informasi yang mampu memberikan layanan seluruh informasi jejaring secara cepat, tepat, dan murah,” katanya. Layanan demikianlah yang menjadi impian masyarakat untuk mendapat kesempatan memperoleh informasi, sumber data yang lebih lengkap, ujar Supriyanto menegaskan.

Kehadiran Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan memperkuat posisi, peran dan keberadaan perpustakaan. Perpustakaan Umum sebagai salah satu bentuk perpustakaan yang melayani masyarakat umum selayaknya dapat menyesuaikan isinya, dengan mengikuti perkembangan kemajuan pengetahuan dan teknologi. Begitu juga para pengelolanya dituntut untuk selalu meningkatkan profesionalisme dengan mau belajar trehadap hal-hal yang baru, mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi dalam rangka memberikan layanan informasi kepada pemustaka secara profesional.

FPUI yang anggotanya terdiri atas berbagai perpustakaan umum di Indonesia dibentuk pada tanggal 3-4 Juli 2003 di Bogor Jawa Barat. FPUI adalah wadah kerjasama antar perpustakaan umum dalam meningkatkan layanan informasi dan bahan pustaka serta meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan kepada masyarakat. FPUI merupakan sharing knowledge bagi anggota forum perpustakaan umum dan masyarakat pemerhati pengembangan perpustakaan.

Sementara Rhenald Kasali seorang ahli manajemen pemasaran, prilaku konsumen, komunikasi dan strategi dalam pemaparannya mengatakan kemampuan menjual, memasarkan perpustakaan harus dimiliki oleh seorang pustakawan. Karena seorang pustakawan yang peduli akan pekerjaannya tentunya tidak akan tinggal diam, harus aktif, mencari terobosan, mencari solusi. “Saya seorang dosen, tentu tidak lepas dari sumber referensi, sumber bacaan, makanya saya peduli dengan buku-buku yang sebagai sumber bacaan saya,” ujarnya. Kemampuan membaca ini, katanya, ditularkan kepada keluarganya, pokoknya tidak ada waktu kosong yang terabaikan tanpa membaca. Bahkan saat ini ia mendirikan Komunitas Manca Jati Murni (Rumah Baca) atau taman bacaan di lingkungan tempat tinggalnya, yang ia berinama Rumah Baca. Koleksinya tidak kurang dari 5000 eksemplar dengan berbagai judul, bahkan ia bangga sekali kepada istrinya yang sangat mendukung. “Sekarang ini istri saya yang sepenuhnya mengelola Rumah Baca berikut aktivitas lainnya seperti berkebun, posyandu, pendidikan anak usia dini, mendongeng, kegiatan berbagai lomba (mendongeng, mengarang, mneggambar), dan lain-lain, dengan dibantu oleh 2 karyawan dan ibu-ibu sekitar tempat tinggal kami,” kata Ketua Umum Forum Masyarakat Komunikasi itu. Jadi inti dari pemasaran perpustakaan adalah: tetapkan sasaran dan pelajari perilakunya, produk (buku, mainan, tempat, lokasi), promosi dan komunikasi (aktif, mendatangi sekolah-skolah, spanduk, selebaran), events (selebriti mendongeng, peragaan busana, gathering, dll.), price (free of xharge, membersehip, harus bersih, tertib petugas), petugas (dilatih, dibentuk, selektif), sumbangan (dibantu media, penerbit, komunitas). seorang pustakawan, yaitu peduli. Kalau peduli kepada pekerjaannya, perpustakaan dan minat baca masyarakat Indonesia akan mengalami perubahan yang drastis.

Selain itu, menurut Arif Suditomo perpustakaan umum harus mengubah image. Image penting bagi perubahan paradigma. Kemajuan teknologi yang sangat mendukung untuk mengubah paradigma lama perpustakaan. Perpustakaan tidak lagi dikatakan sebagai gudang buku, tempat yang sepi, dengan rak-rak dan buku-buku yang berdebu, petugasnya ‘jutek’ dan lain sebagainya. Image ini harus diubah. Hal yang sama diungkap Paramita Atmodiwirjo dari Ikatan Arsitektur Indonesia, bahwa perpustakaan harus lebih menarik desainnya, agar memberi pemandangan yang indah ketika pengunjung datang, karena awal dari ketertarikan masyarakat untuk datang ke perpustakaan selain isinya (koleksi) adalah kenyamanan dan keindahan suasana lingkungan perpustakaan itu sendiri.***

sumber: www.pnri.go.id

Detail Berita Perpustakaan Nasional menyerahkan Perangkat Lunak dan Keras Program Aplikasi E- Library kepada Perpustakaan Daerah Propinsi

JOGYAKARTA - Bertempat di Ruang Sambisari, Inna Garuda Hotel pada hari Kamis 13/11/2008 Dady P. Rachmananta secara simbolis menyerahkan secara resmi pelaksanaan Penyediaan dan Instalasi Perangkat Lunak dan Keras bagi Perpustakaan di daerah propinsi sebagai Mitra dalam rangka Pengembangan Program e-Library tahun anggaran 2008. Hadir dalam acara tersebut pejabat dilingkungan Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan/Kantor Perpustakaan Daerah Propinsi.seluruh Indonesia
Dalam sambutnya Dady P. Rachmananta mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan yang ke dua kalinya. Yang pertama paket bantuan yang diserahkan kepada Perpustakaa Propinsi adalah software Micro VTLS, sementara di Perpustakaan Nasional menggunakan VTLS, karena mahalnya Licensi dan rumitnya maintenance juga jika terjadi kerusakan (bug) software selalu terlambat dalam memperbaiki, menjadikan program ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan bahkan program ini mandek ditengah jalan. Namun berbeda dengan program yang sekarang, program ini merupakan bentuk paket berupa perangkat lunak dan keras yang merupakan karya anak bangsa, yang didesain sesuai dengan kebutuhan perpustakaan di Indonesia saat ini maka jika terjadi masalah akan jauh lebih mudah untuk tangani karena ahli ahlinya ada di Indonesia.

Perangkat Lunak yang diserahakan kepada perpustakaan propinsi terdiri dari
a. Modul pengkatalogan
b. Modul sirkulasi
c. Modul Ekstrak data
d. Modul Opac
e. Operating system untuk server: windows server 2003
f. Operating system untuk PC: Windows XP. Yang semuanya merupakan software berlisensi.

Sementara perangfkat keras yang diserahkan kepada perpustakaan daerah propinsi sebagai mitra adalah; Satu unit Server, lima unit Personal Komputer, Barcode Reader, Barcode printer, UPS, Swiching Hub, dan Kabel Belden untuk jaringan. Daiharapkan perpustakaan penerima bantuan segera melakukan pembenahan berupa tempat untuk menyimpan server dan alat pendinginya, bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional untuk membuat Pangkalan Data Katalog Induk Nasional melalui kontribusi data dan sinkronisasi pangkalan data, Perpustakaan penerima diharapkan membangun sambungan internet untuk memudahkan komunikasi data, juga segera membangun dan mengembangkan koleksi digital, membentuk tim kerja yang khusus menangani pangkalan data, dan seracara terus menerus mengupdate isi database agar dapat diakses oleh pengguna.

Wisata Buku, Suatu Upaya Untuk Mencerdaskan Bangsa

Oleh Romi Febriyanto Saputro*

Buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Dengan membaca buku manusia dapat belajar tentang sejarah, peradaban, ilmu pengetahuan, sastra, budaya dan sains di masa lampau, masa kini dan meramalkan apa yang terjadi di masa depan. Buku juga dapat menjadi ins.pirasi bagi seseorang untuk mengembangkan kreatifitas, inovasi dan kompetensinya. Selain itu buku dapat menjadi penghibur hati di kala sedih, menumbuhkan semangat dikala lemah dan pengisi waktu di kala luang.

Begitu besar manfaat yang dapat diperoleh dengan membaca buku, namun ironisnya membaca buku belum menjadi budaya bangsa ini. Bahkan membaca buku kadang-kadang menjadi momok tersendiri bagi sebagian kalangan pelajar kita. Aktivitas membaca lebih terasa sebagai suatu beban daripada terasa sebagai kebutuhan pokok . Pelajar dan mahasiswa kita hanya gemar membaca buku untuk menghadapi momentum tertentu, seperti ujian, tugas dari pengajar dan ketika menyusun tugas akhir. Diluar itu kesadaran atas inisiatif sendiri untuk membaca masih relatif rendah.

Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk membaca memang bukan pekerjaan mudah dan memerlukan proses penyadaran yang berkesinambungan dalam jangka waktu yang relatif lama. Proses penyadaran masyarakat untuk gemar membaca inilah yang tampaknya kurang diperhatikan oleh pemerintah. Selama ini langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dalam merangsang minat baca masyarakat masih belum serius dan belum menyentuh lapisan akar rumput (gross root).

Bebaskan Pendidikan dari Belenggu Buku Paket

Oleh Romi Febriyanto Saputro

Artikel ini telah dimuat di Harian Kompas, 11 Oktober 2004

Komite Sanksi Bank Dunia telah mengeluarkan daftar hitam berisi nama 10 individu dan 26 perusahaan yang dianggap telah melakukan praktik curang dan korupsi dalam pelaksanaan Proyek Pengembangan Buku dan Bacaan (Book and Reading Development Project/BRDP) di Indonesia senilai 53.232.000 dollar AS, yang didanai Bank Dunia. Dengan dimasukkan dalam daftar hitam, perusahaan-perusahaan itu tidak berhak lagi menerima kontrak baru yang didanai oleh Bank Dunia selama periode yang ditetapkan, yakni 2-15 tahun. Selain itu, Bank Dunia juga meminta Pemerintah RI mengembalikan 10 juta dollar AS dari pinjaman proyek yang dinilai terindikasi kecurangan atau dikorupsi itu (Kompas, 30 September 2004).
Terlepas dari kebenaran berita di atas, proyek pengadaan buku paket memang rawan terhadap ancaman praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sebab, pengadaan buku paket menyangkut dana yang sangat besar jumlahnya dengan tingkat kesulitan yang relatif rendah. Dalam hal ini, pihak penerbit hanya membuat beberapa judul buku, kemudian menggandakan ribuan kali sesuai pesanan. Virus KKN memang ibarat (maaf) bau kentut yang menyengat, tetapi tidak dapat dilihat wujudnya.
Buku adalah kunci utama untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi dalam dunia pendidikan kita ternyata identik dengan permasalahan. Selain itu, satu hal lagi yang cukup mengganggu wajah dunia pendidikan kita adalah penjualan buku pelajaran secara langsung oleh penerbit kepada pihak sekolah. Nuansa nepotisme antara penerbit dan pihak sekolah sangat kental karena seolah-olah pihak sekolah menggantikan peran toko buku untuk mendistribusikan buku pelajaran. Pihak penerbit biasanya akan memberikan komisi tertentu kepada pihak sekolah untuk setiap buku pelajaran yang terjual.
Praktik pengadaan buku paket/pelajaran dalam dunia pendidikan kita cenderung tidak sehat. Model pengadaan buku paket/pelajaran seperti yang terjadi saat ini hanya akan memasung otoritas guru. Guru dipaksa dan terpaksa menggunakan buku paket/pelajaran yang sudah ditetapkan oleh pemerintah walaupun terkadang tidak sesuai dengan kondisi dan latar belakang anak didiknya.
Begitu pula praktik penjualan buku pelajaran oleh penerbit langsung ke sekolah hanya akan membebani siswa dari kalangan keluarga tidak mampu. Model pengadaan buku seperti ini jelas mengabaikan hakikat pendidikan itu sendiri dan lebih kental nuansa bisnisnya. Mengeruk keuntungan dari lahan pendidikan.
Praktik pengadaan buku paket/pelajaran seperti ini harus segera diakhiri. Pemerintah dapat menggantikan proyek pengadaan buku paket dengan uang bantuan pembelian buku pelajaran untuk murid, terutama dari kalangan yang tidak mampu. Murid diberi kebebasan untuk membeli buku pelajaran di toko buku setelah memperoleh saran, masukan, dan arahan dari guru. Biar mereka sendiri yang membeli buku pelajaran yang sesuai dengan selera masing-masing. Buku yang sudah dibeli oleh murid pada akhir tahun ajaran dikembalikan kepada pihak sekolah untuk dipergunakan oleh adik kelasnya.
Penjualan buku pelajaran secara langsung ke pihak sekolah oleh penerbit harus pula dilarang. Dalam hal ini, penerbit telah merendahkan martabat pihak sekolah sebagai institusi pendidikan menjadi institusi bisnis. Pendidikan yang mestinya bersifat sosial telah mengalami metamorfosis dengan roh kapitalis. Kapitalisme pendidikan ini pada akhirnya hanya akan membebani orangtua murid.

Penghapusan proyek buku paket/pelajaran, baik yang disponsori oleh pemerintah maupun penerbit buku, dalam berbagai bentuk dan wujudnya akan melahirkan beberapa dampak positif. Pertama, mengembalikan otoritas dan martabat sang guru. Kedua, membudayakan pengajaran multi-arah. Ketiga, meningkatkan minat baca murid. Minat baca murid akan terus stagnan selama murid dikondisikan harus berpedoman dan merasa cukup hanya dengan satu macam buku paket/pelajaran saja.
Proses belajar-mengajar selama ini, diakui atau tidak, cenderung didominasi oleh pengajaran searah. Murid hanya dijadikan obyek yang harus menerima apa pun yang disampaikan guru, termasuk jenis buku ajar yang harus digunakan. Dengan membebaskan murid menggunakan buku ajar yang berbeda-beda, maka akan membuka ruang untuk berdiskusi, berdialog, dan berkomunikasi. Dengan demikian, proses belajar mengajar akan berlangsung dinamis, terbuka, dan demokratis.
Filsuf Paulo Freire menganjurkan agar proses belajar-mengajar hendaknya membangkitkan nalar dan kreativitas siswa dengan cara memotivasi siswa belajar mencari data, menganalisis data-data tersebut dalam arti yang sebenarnya.
Pengajaran multi-arah berarti mengajak murid berpikir dan memahami materi pelajaran. Bukan sekadar mendengar, menerima, dan mengingat-ingat. Setelah memahami materi pelajaran, barulah terbentuk pengetahuan baru yang masuk akal. Sesuatu yang masuk akal akan lebih tahan lama dalam memori ingatan murid. Bahkan jika lupa sekalipun akan mudah mengingatnya kembali.

Jangan lupa, minat baca murid akan terus stagnan selama murid dikondisikan harus berpedoman dan merasa cukup hanya dengan satu macam buku paket/pelajaran. Dengan buku pelajaran yang berbeda-beda dalam satu kelas, murid akan terdorong untuk membandingkan dan membaca berbagai referensi yang ada. Dan, jika murid merasa belum cukup dengan buku pelajaran yang ada di dalam kelas, mereka pun tentu akan melirik perpustakaan sekolah untuk memperkaya pengetahuannya.
Meningkatnya minat baca murid diharapkan dapat merangsang pihak sekolah untuk lebih meningkatkan kualitas perpustakaan sekolah yang ada. Pihak sekolah diharapkan dapat meletakkan posisi perpustakaan sekolah di tempat yang terhormat. Perpustakaan sekolah sudah selayaknya dijadikan pusat kegiatan belajar yang bersifat pluralitas untuk kegiatan belajar aktif, kerja sama, riset, dan interpretasi. Dengan demikian, diharapkan pendidikan di dalam sekolah akan mampu melahirkan generasi yang berbudaya membaca yang akan memberi pengaruh kepada masyarakat.

Perpustakaan Dan Meaningful Learning

Oleh Romi Febriyanto Saputro

Tulisan ini telah dimuat di Harian Banjarmasin Post, 2 Februari 2005

Meningkatkan minat baca masyarakat merupakan misi utama dari perpustakaan sesuai amanah pendiri bangsa ini dalam pembukaan UUD 1945, yakni ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu ciri bangsa yang cerdas adalah memiliki minat baca yang cukup tinggi. Bahkan dalam Alquran perintah untuk membaca merupakan ayat yang pertama kali turun. Hal ini berarti, tinggi rendahnya minat baca suatu bangsa akan menentukan tinggi rendahnya peradaban bangsa itu di hadapan bangsa lain di dunia.
HAR Tilaar (1999) mengungkapkan, membaca pada hakikatnya merupakan proses untuk memiliki ilmu pengetahuan. Proses memiliki ilmu pengetahuan merupakan suatu proses yang lebih dikenal dengan belajar. Belajar yang merupakan inti dari pendidikan sebagian besar didominasi kegiatan membaca. Ilmu pengetahuan yang berkembang sangat pesat itu, tidak mungkin lagi dapat dikuasai melalui proses mendengar atau transisi dari sumber ilmu pengetahuan (guru) tetapi melalui berbagai sumber ilmu pengetahuan yang hanya dapat diketahui melalui membaca.
Salah satu metode pembelajaran yang sangat mendukung bagi peningkatan minat baca masyarakat adalah metode pembelajaran konstruktivisme. Menurut E Mulyasa (2002), fokus pendekatan konstruktivisme bukan pada rasionalitas, tapi pada pemahaman. Inilah alasan utama mengapa konstruktivisme dengan cepat dapat menggantikan teori perkembangan kognitif sebagai dasar dalam penelitian dan praktik pendidikan. Daya tarik dari model konstruktivisme ini adalah pada kesederhanaannya.

Perpusda Jateng, Alternatif Ruang Bermain Anak-anak

Oleh Romi Febriyanto Saputro
Artikel ini telah dimuat di Kompas Jateng, 31 Mei 2005

Ruang bermain untuk anak-anak di Kota Semarang memang masih sangat minim sebagaimana dikeluhkan Eddy Prianto dalam artikel Kota Kita 3 Mei 2005. Penulis sepakat dengan Eddy Prianto bahwa selama ini kita memang alpa memberikan zona bermain untuk anak-anak kita. Padahal dunia anak adalah dunia bermain, suatu pengalaman indah yang tidak mungkin terulang ketika anak-anak memasuki alam dewasa.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Perpustakaan Daerah Jawa Tengah yang terletak berdekatan dengan Taman Budaya Raden Saleh dapat dijadikan alternatif ruang bermain untuk anak. Hal ini mengingat salah satu fungsi penting perpustakaan adalah fungsi rekreasi.
Fungsi rekreasi ini perlu dikembangkan oleh perpustakaan untuk menampilkan wajah perpustakaan yang indah, sejuk, dan bersahabat dengan anak, dalam upaya menumbuhkan minat baca anak-anak sejak dini.
Perpustakaan perlu didesain sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak dengan memberikan suatu ruang khusus untuk anak-anak.
Saat ini Perpustakaan Daerah Jawa Tengah telah memiliki ruang layanan khusus anak-anak. Keberadaan ruang layanan anak ini tentu saja kurang memenuhi syarat sebagai arena bermain anak yang ideal. Karena itu, perlu dikembangkan dengan membangun arena bermain yang berada di luar gedung perpustakaan.
Merger halaman Perpustakaan daerah Jawa Tengah ditambah dengan areal Taman Budaya Raden Saleh dapat disulap menjadi arena bermain anak yang ideal. Aneka jenis sarana permaianan, baik yang dianggap tradisional maupun modern, dapat digelar di tempat ini.
Dalam hal ini, penulis tidak terlalu mempermasalahkan jenis permainan karena yang lebih penting bukan soal tradisional atau modern, melainkan bagaimana permainan tersebut dapat membawa manfaat positif bagi perkembangan psikologis anak. Sinergi Perpustakaan Daerah Jawa Tengah dengan pengelola Taman Budaya Raden Saleh sangat dibutuhkan untuk terlaksananya ide di atas.
Disamping itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang diharapkan mampu berperan aktif memfasilitasi terwujudnya arena bermain anak yang bersinergi dengan perpustakaan.
Perpustakaan yang dikelilingi ruang bermain anak yang terbuka untuk umum dapat dijadikan model/percontohan pembangunan perpustakaan yang ideal. Dengan demikian, aspek pengembangan minat baca masyarakat dapat bersatu dengan aspek rekreasi bagi anak-anak.