08 Mei 2010

Perjuangan Jadi Single Parent


Oleh : Lailiyatis Sa'adah

Situasi puncak dalam kehidupan yang berujung kebahagiaan menjadi dambaan setiap insan. Namun, sebaliknya, ketika dalam situasi paling rendah, yang berwujud dalam rupa-rupa kesedihan dan musibah menerpa, tak banyak yang mampu menyikapinya dengan tegar dan sabar. Maka, tidak jarang, keputusasaan yang berakhir duka (sebut saja seperti bunuh diri) seringkali ditempuh oleh mereka yang tak tahan memikul beban nasib tersebut.

Padahal, sebagai manusia berakal, mestinya sadar diri bahwa bahagia, sedih, senang, adalah bumbu-bumbu kehidupan yang datang silih berganti. Lalu, mengapa banyak di antara kita enggan menikmati situasi hidup serba-kesulitan?

Buku ini, memberikan teladan mulia untuk dijadikan refleksi bersama, yang di dalamnya, berisi uraian-uraian pengalaman hidup penuh terjal yang dialami seorang ibu rumah tangga, yang tak lain adalah penulis buku ini sendiri, Emmy Kuswandari.

Dari segi penulisan alur cerita, mungkin tidak ada kesulitan menyemai kata demi kata, apalagi Emmy adalah seorang wartawan di salah satu koran ternama di ibu kota, yang sudah pasti sangat gampang ia menulis pengalaman-pengalaman pribadinya itu. Tetapi, dari aspek lain, penulisan kisah-kisah penuh haru di buku setebal 184 halaman ini sungguh butuh keberanian dalam mengungkapkan setiap detik hembusan napas kesedihan yang ia alami. Apa gerangan?

Emmy bercerita tentang suka-duka menjadi orang tua tunggal, atau yang biasa disebut single parent. Bagaimana tidak, dalam diri Emmy, tatkala hati dan pikiran masih dirundung kemarahan, kesedihan, dan kekalutan, di saat yang sama juga harus menyiapkan diri untuk tegak berdiri dan melanjutkan kehidupan. Pada titik inilah batin Emmy terus merintih.

''Saya tahu, dilema ini tidak mudah dilalui siapa pun yang menjadi orang tua tunggal, entah dia laki-laki atau perempuan. Tak sedikit yang terpuruk dan enggan untuk bangkit lagi. Tapi mentari harus terbit lagi bukan untuk menggantikan pekat malam? Saya sadar, pasti ada ketakutan menghadapi masalah finansial, kebutuhan komunikasi, siapa yang akan membantu mengasuh anak, bagaimana mengatur waktu dan bertumpuk ketakutan lain terhadap peran baru lain. Tetapi persoalan akan sedikit lain, bila memang sejak awal seseorang berniat untuk menjadi orang tua tunggal'' (hlm. 13-14).

Dari sana, dapatlah dimengerti betapa kuatnya kondisi psikologis Emmy dalam menanggung semua derita batin akibat perpisahan secara sepihak oleh suaminya, yang menurut pengakuan Emmy, ia (suaminya) sedang melancong ke negeri unta. Dan waktu itu, ternyata sudah ada janin dalam rahim Emmy.

Hal itu membuat Emmy berada dalam situasi serbabingung dan bimbang; antara ''menggugurkan'' dan mempertahankan kandungannya. Namun Emmy rupanya memilih jalan yang benar. Ia mempertahankan bayinya lahir ke dunia, walau risikonya harus mengurus semua keperluannya dari sejak hamil hingga melahirkan. Anak itu oleh Emmy diberi nama Benaeng Ulunati Bhumy Taruwara.

Bhumy terus tumbuh kian dewasa. Ia menampakkan kepekaannya dengan banyak bertanya hal-hal yang ada di sekitarnya, dan bahkan di luar pengetahuan atau inderanya. Dan salah satu pertanyaannya kepada Emmy, yaitu tentang siapa dan di manakah ayahnya? Emmy tersentak kaget. Sebab Bhumy pertama kali menanyakan perihal ayahnya itu ketika masih berumur dua tahun. Di usia itu, menurut Emmy, jauh meleset dari prediksinya, yang diperkirakan putra mungilnya itu bakal bertanya tentang ayahnya di usia sekolah.

Bagaimana Emmy mampu menjelaskannya? Emmy sadar, anaknya harus tahu persoalan yang sebenarnya, siapa dan di mana ayahnya. Tetapi apakah di usia dua tahun adalah waktu yang tepat bagi Bhumy untuk tahu semuanya? Sebelum waktunya tiba, Emmy berusaha memalingkan perhatian Bhumy ke persoalan-persoalan lain.

Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika Bhumy beranjak usia empat tahun, ia kembali bertanya soal ayahnya dengan sedikit atraktif, berbeda dengan pertanyaaan-pertanyaan sebelumnya. Bhumy tiba-tiba melipat tangan di depan dada. Dia berdoa: ''Ya Tuhan, buatkan ayah untuk aku ya. Yang bisa antar sekolah. Yang ganteng ya Tuhan. Cepat buatkan ya Tuhan. Satu saja untukku.'' Raut mukanya serius. Tapi usai berdoa, dia tersenyum ke arah saya (Emmy), lalu bertanya, ''Bunda, kapan ya ayah selesai dibuat Tuhan?'' (hlm. 65).

Karena itu, bukan main-main, buku ini merupakan kisah nyata dari segala problematika kehidupan Emmy bersama keluarganya. Lantas, mengapa Emmy berlapang dada dan seolah tidak merasa keberatan permasalahan keluarganya diketahui orang lain (pembaca)? Dan apa sebenarnya motif Emmy berkenan menerbitkan catatan-catatan pribadinya ini dalam bentuk buku?

Sudah pasti, bisa ditebak bahwa kemungkinan yang paling rasional, alasan Emmy menulis dan menerbitkan buku ini tidak lain setidaknya karena dua hal. Pertama, dalam rangka berbagi pengalaman dan sebagai pelajaran berharga bagi pembaca, bagaimana semestinya mendidik anak, terutama bagi mereka orang tua tunggal, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, boleh jadi apa yang menimpa Emmy, banyak pula dijumpai di sekitar kita.

Kedua, Emmy berharap, dengan diterbitkannya catatan-catatan pribadinya itu, dapat dibaca oleh anaknya kelak, bila sudah tumbuh dewasa. Jadi, Emmy menjawab semua kegelisahan anaknya tentang siapa dan di mana ayahnya itu lewat catatan-catatan yang diterbitkan dalam buku ini. Walaupun sebenarnya, Emmy pasti sadar, risiko menerbitkan buku sangatlah besar, yaitu persoalan rumah tangga Emmy, yang semestinya tak perlu diekspose, karena sangat privasi, kini terkuak dan diketahui banyak orang.

Namun, mutiara hikmah dari terbitnya buku ini adalah perjuangan seorang perempuan menghidupi keluarganya. Emmy tidak putus semangat membesarkan Bhumy, meski harus bersusah payah, membanting tulang. Rasa-rasanya, inilah potret riil perempuan tangguh di zaman modern sekarang ini. (*)

*) Lailiyatis Sa'adah, Pustakawan AIDA di Jember, dan guru PAUD di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

---

Judul Buku: Tuhan, Buatkan Ayah untuk Aku, Ya...

Penulis: Emmy Kuswandari

Penerbit : Kanisius Jogjakarta

Cetakan : I, Maret 2010

Tebal : 184 halaman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar