Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pelatihan IT

Pelatihan IT di BLC Kabupaten Sragen

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


16 September 2010

Bangsa Kelelawar

Oleh :M Bashori Muchsin

NEGARA tak akan pernah bubar, sepanjang mereka yang diberi amanat tidak berlomba menyalahgunakannya," demikian pesan yang diadaptasikan secara hermeneuitika dari filsuf muslim kenamaan Ibnu Khaldun, yang mengkritik akar masalah potensi kehancuran dan bubarnya negara akibat perilaku elitenya yang sibuk berlomba memasung dan membusukkan nilai-nilai amanat.

Kritik tersebut, jika dipahami dari esensi filosofisnya, tidaklah sederhana mengingat yang disampaikan menyangkut dua aspek yang saling memengaruhi. Di satu sisi, ada aspek perbuatan manusia yang berupa pengabaikan dan bahkan penguburan amanat, sementara di sisi lain, terdapat pertaruhan yang sangat besar yang menempatkan negara sebagai objeknya. Keperkasaan negara tak akan bisa bertahan lama misalnya, manakala semakin banyak elemen strategisnya yang gagal menunjukkan dirinya sebagai pejuang.

15 September 2010

'Tragedi'' Open House Istana

Oleh: Ardi Winangun*

Keinginan Joni Malela untuk berjabat tangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak akan pernah kesampaian. Sebab, ketika dirinya antre untuk bisa bersilaturahmi dengan SBY dalam open house Idul Fitri 1431 H di Istana, ajal menjemput dirinya sebelum keinginan itu tercapai.

Open house kali ini sebenarnya oleh Joni Malela dan ribuan orang lain merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu. Sebab, mereka akan bisa bertemu langsung dengan presiden. Entah apa alasannya Joni Malela dan peserta open house lainnya rela berduyun-duyun datang ke istana untuk ikut antre, apakah hanya ingin berjabat tangan langsung dengan presiden, sekadar ingin masuk Istana, ingin curhat, atau entah motif-motif lain, yang penting mereka senang bila diberi ruang untuk bertemu dengan presiden.

Provokasi Pembakaran Al Quran

Oleh Rohman Al Bantani

DI tengah perayaan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, umat Islam mendapat ujian kesabaran cukup berat. Seorang warga Amerika yang mengatasnamakan umat Kristen, Dr Terry Jones, aktivis Dove World Outreach Center, melalui situs internet dan jejaring sosial mengajak seluruh umat kristiani sedunia untuk membakar Alquran pada 11 September 2010 nanti atau tepat pada hari kedua umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Bernaung dalam kampanye September 11th International Burn a Koran Day, Terry menuduh umat Islam secara keseluruhan dan syariat yang diyakini oleh umat Islam berperan dalam aksi teror terhadap World Trade Center pada 11 September 2001 yang lalu. (Kompas, 20 Agustus 2010). Sebagai seorang pastor senior, ajakan Terry Jones yang disiarkan dalam blog Dove World Outreach Center jelas akan memiliki dampak luas, paling tidak di Amerika Serikat yang sentimen terhadap Islam-nya masih demikian tinggi. Buktinya, sejak pertama digulirkan sampai tulisan ini dibuat, kurang lebih 5.500 aktivis jejaring sosial Facebook sudah menyatakan "kesukaan"-nya pada ajakan tersebut.

07 September 2010

Ssssstttt, Ada Layanan Hotspot Di Perpustakaan !

Kabar gembira bagi masyarakat Sragen, terhitung mulai hari ini tanggal 7 September 2010 layanan hotspot sudah bisa dinikmati di Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen JL. Pemuda No. 1 Sragen. Layanan ini terwujud berkat kerjasama  antara Kantor Perpustakaan dan Kantor Pusat Data Elektronik Kabupaten Sragen.

Kenapa Malaysia Arogan, Kenapa Kita Loyo

Oleh : AS Laksana
INGATAN terkuat saya mengenai Malaysia adalah fakta lucu yang tertanam di benak tentang bagaimana penyair mereka membaca puisi. Dalam pembicaraan berdua dengan Sapardi Djoko Damono saat kami pulang dari sebuah acara, dia bilang, ''Penyair Malaysia itu ajaib sekali, Lak. Pernah ada satu acara, mereka membaca puisi secara play back.''

Saya membayangkan mereka membaca puisi seperti dua remaja Bandung yang bergaya seolah-olah sedang menyanyikan lagu Keong Racun. Jadi, mereka merekam dulu pembacaan puisi mereka. Ketika acara tiba, mereka tinggal naik ke panggung, mulut mereka berkecumik, dan tangan mereka bergerak-gerak seperti berdeklamasi.

Reaktualisasi UU Karya Cetak & Karya Rekam**

Oleh Romi Febriyanto Saputro*

Bangsa kita terkenal sangat pandai dalam membikin suatu peraturan ataupun undang-undang. Namun, ironisnya bangsa tercinta ini juga sangat pandai dalam  melalaikan dan mengingkari isi suatu perundang-undangan. Hal ini antara lain terjadi pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990. Undang-undang yang mengatur  tentang serah-simpan karya cetak dan karya rekam ini banyak mengalami hambatan dalam pelaksanaannya.
Dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990  yang diselenggarakan oleh Perpusda Jateng  pada tanggal 30 November 2006 terungkap bahwa undang-undang yang mengatur mengenai serah simpan karya cetak dan karya rekam ini belum berfungsi optimal. Perpustakaan Daerah Jawa Tengah sebagai institusi pemelihara baru bisa menyimpan sekitar 55 persen dari keseluruhan karya yang diterbitkan itu. UU no. 4/1990 hingga kini belum dilaksanakan sepenuhnya oleh penerbit dan pengusaha rekaman,  swasta maupun pemerintah di Jawa Tengah. 

06 September 2010

Negara di Tengah Momok Globalisasi

Oleh : I Wibowo

JUDUL buku ini amat provokatif: Negara Centeng! Bagaimana eksistensi negara di tengah pusaran globalisasi menjadi fokus buku ini. Mengandalkan pendekatan struktural, analisis ekonomi dan politik ditangani bersamaan, tidak terpisah.

Negara centeng merupakan metafora yang bermakna pelindung bayaran dari sekelompok kecil saudagar, nasional, maupun global (hlm 7). Di mana kedudukan negara centeng di antara literatur tentang negara?

Arief Budiman (1996) membagi teori negara menjadi dua kelompok besar. Pertama, teori yang menekankan negara sebuah lembaga mandiri, yang punya kepentingan dan kemauan sendiri. Kedua, teori yang mengatakan negara bukan lembaga mandiri. Negara hanya arena bagi kekuatan-kekuatan sosial bertarung untuk saling menguasai.

Andai Saya Manajer Toko Buku

Oleh : An. Ismato
ANDAI menjadi manajer sebuah toko buku yang agak besar, saya akan bergidik ngeri membayangkan prospek perbukuan ke depan. Rak-rak di toko saya terancam tetap penuh buku dalam waktu yang panjang. Perkembangan teknologi memungkinkan konsumen membeli dan membaca buku tanpa harus melangkahkan kaki ke toko buku. Bahkan, sekarang orang mulai bisa membaca novel di layar telepon genggam.

Mungkin masih ada beberapa orang yang akan berkunjung ke toko saya. Namun, mereka hanya akan membuka-buka buku secara sekilas. Satu atau dua buku akan menarik perhatian mereka. Tapi, setelah melihat label harga, mereka akan meletakkan lagi buku itu di rak. Kemudian, mereka bakal pulang dan memesan buku yang mereka inginkan tersebut lewat internet. Sebab, mereka menganggap harganya lebih murah daripada yang ditawarkan toko.

Bukan Sebuah Mimpi Buruk

Oleh : Lan Fang

SELAMA pesantren-pesantren kecil di kampung dengan kiai-kiainya yang bersahaja itu masih ada dan terus berkiprah di tengah masyarakat, rasanya NU akan baik-baik saja. Rasanya tak akan terjadi apa-apa dengan NU. Menurut saya, merekalah yang selama ini mempertahankan dan menjaga kehormatan NU. Merekalah yang selama ini menjalankan peran NU sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang sebenarnya, justru ketika para petingginya sibuk menjadi selebritis, sibuk berebut jabatan dan proyek, sibuk menjajakan NU sebagai komoditas politik dan ekonomi, sibuk menjadi broker, jurkam, atau tim sukses.

Paragraf di atas adalah kutipan esai Acep Zamzam Noor, salah seorang di antara 15 penulis yang termaktub dalam buku Dari Kiai Kampung ke NU Miring. Selain Acep Zamzam Noor (putra Kiai Ilyas Ruchiyat (alm), salah seorang deklator PKB dari Pesantren Cipasung, Tasikmalaya), penulis lain adalah Mujtaba Hamdi, Riadi Ngasiran, Soffa Ihsan, Anggi Ahmad Haryono, Eyik Musta'in Romly, Sahlul Fuad, M. Arief Hidayat, M. Faizi, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Saprillah, Syaiful Arif, Mashuri, Surahno, dan Binhad Nurrohmat.

04 September 2010

Mewujudkan Visi Kerakyatan Undang-Undang Perpustakaan


Oleh Romi Febriyanto Saputro*
Tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 23 Januari 2007, Dewan Perwakilan Rakyat secara resmi mengesahkan RUU Perpustakaan menjadi Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Ironisnya, saat ini kondisi perpustakaan di tanah air belum banyak mengalami perubahan. Padahal, undang-undang ini memiliki visi kerakyatan yang cukup kuat. Visi untuk memberdayakan rakyat melalui perpustakaan.
Visi kerakyatan ini tampak dari cara undang-undang ini mendefiniskan perpustakaan. Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

02 September 2010

RI Perlu Belajar dari Korsel


Oleh Kacung Marijan

SERUAN agar Indonesia bersikap keras dalam menghadapi Malaysia belakangan semakin kuat, khususnya setelah mengetahui komentar perdana menteri Malaysia yang bernada ''mengancam''. Bahkan, ada yang menyerukan agar Indonesia memutus hubungan diplomatik. Masalahnya, apakah perselisihan itu harus diselesaikan melalui jalur ancam-mengancam atau sampai melakukan kekerasan?

Untuk ini, ada baiknya kita belajar dari Korea Selatan (Korsel) dalam menghadapi Jepang. Dua negara tetangga itu juga tidak luput dari ketegangan-ketegangan sebagaimana Indonesia dan Malaysia. Jepang pernah menduduki wilayah Korea pada 1910-1945. Itu merupakan kurun waktu penindasan bangsa Jepang terhadap bangsa Korea. Khususnya pada tahun-tahun pengujung pendudukan, banyak perempuan Korea yang dijadikan budak nafsu tentara Jepang.

01 September 2010

Problem Tapal Batas Indonesia-Malaysia


Oleh Saru Arifin

TENSI hubungan Indonesia-Malaysia yang terekam media menunjukkan perkembangan yang semakin buruk. Setidaknya, hal itu dipicu pernyataan Menlu Malaysia yang menolak meminta maaf atas insiden penangkapan petugas DKP beberapa minggu lalu. Sikap Menlu Malaysia tersebut dipersepsikan oleh publik Indonesia sebagai suatu arogansi yang bersifat menantang. Karena itu, hal tersebut malah memicu timbulnya berbagai reaksi masyarakat dalam bentuk demonstrasi maupun kampanye sentimen negatif terhadap negeri jiran itu.

Jika dirunut berdasar sejarah atau konteks sosial ekonomi yang dikenal dengan istilah Malindo, tampaknya hubungan Indonesia-Malaysia selalu mengalami pasang-surut, bahkan cenderung tidak menemukan fase yang harmonis sebagai bangsa serumpun. Empat prinsip dalam hubungan bertetangga, yakni saling mengambil manfaat (mutual benefit), saling menjunjung pengertian (mutual understanding), saling menghormati (mutual respect), dan bertetangga dengan baik (good neighboring countries/neighborhood), tidak lagi berjalan efektif.

30 Agustus 2010

Potret Tumpulnya Nalar Politik

Oleh Achmad Maulani
BARU-baru ini Kementerian Dalam Negeri merekomendasikan pembatalan sejumlah peraturan daerah (perda) yang dianggap bermasalah. Tak tanggung-tanggung, perda yang direkomendasikan untuk dibatalkan mencapai 1.000 perda. Jumlah tersebut lebih banyak daripada tahun lalu, sekitar 800 perda. Sebelumnya, selama 1999-2006, di antara 5.054 perda yang diterima Kementerian Dalam Negeri, 930 perda bermasalah.

Tumpulnya nalar politik. Itulah kira-kira gagasan yang ingin disampaikan buku ini di tengah kekisruhan beragam perda bermasalah yang sering dinilai merugikan masyarakat. Beberapa pertanyaan mendasar yang bernada gugatan coba dimunculkan buku ini untuk memastikan bahwa otonomi daerah yang sedang berjalan memang tidak melenceng dan mengalami defisit dalam pemaknaannya.

Bertemunya Dua Santri Ngruki


 
Oleh : Ridlwan Habib
 
SEBAGAI alumnus Pondok Pesantren Al Mukmin di Ngruki, Cemani, Sukoharjo, keresahan Noor Huda Ismail tak kunjung reda. Konsultan keamanan investasi itu risau karena pondok tempatnya mencari jati diri remaja (1985-1991) masih selalu dicitrakan sebagai "kawah candradimuka" kader-kader teroris. Yang terbaru, pendiri pondok Ustad Abu Bakar Ba'asyir lagi-lagi ditangkap dan disangka polisi terlibat kasus terorisme di Aceh.

"Saya ingin dunia punya tafsir yang berbeda tentang Ngruki, tidak monolitik seperti sekarang," kata Huda suatu hari pada Desember 2009.

Saat itu draf naskah buku Temanku, Teroris? sudah selesai dan siap masuk ke percetakan. Namun, judul yang dipilih kala itu Jendela Kecil Santri Ngruki.

Pengalaman Menulis Buku Pengantar


ENTAH kebetulan atau tidak, esai Ridwan Munawwar di rubrik ini (Jawa Pos, 11 Juli 2010) yang berjudul Politik Buku Pengantar hadir saat saya sedang semangat-semangatnya menyelesaikan buku Pengantar Sosiologi. Buku itu saya mulai lebih dari tiga bulan yang lalu. Saya menulis dengan bersemangat karena dipicu tawaran untuk mengajar di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik sebuah kampus swasta. Karena itu, sebagai pengajar, saya harus bisa mengungkapkan pikiran dan gagasan secara lebih sistematis dan mudah dipahami pembaca (terutama mahasiswa).

Sebagai penulis buku-buku bertema pop ''berat'', saya seperti mulai hal baru saat menulis buku pengantar. Saya harus menulis hal-hal yang lebih sistematis. Hal itu bertujuan agar penyampaian materi dapat mendukung ketentuan kurikulum yang diajarkan di lembaga pendidikan. Juga, memudahkan suatu wacana akademik dipahami dalam keterkaitan satu materi dengan materi lain. Saya juga harus membatasi diri untuk berbicara hal-hal yang subjektif agar uraian-uraian yang disampaikan tidak keluar dari bingkai tema, materi, dan teori yang dibahas dalam buku tersebut.