Oleh :M Bashori Muchsin
NEGARA tak akan pernah bubar, sepanjang mereka yang diberi amanat tidak berlomba menyalahgunakannya," demikian pesan yang diadaptasikan secara hermeneuitika dari filsuf muslim kenamaan Ibnu Khaldun, yang mengkritik akar masalah potensi kehancuran dan bubarnya negara akibat perilaku elitenya yang sibuk berlomba memasung dan membusukkan nilai-nilai amanat.
Kritik tersebut, jika dipahami dari esensi filosofisnya, tidaklah sederhana mengingat yang disampaikan menyangkut dua aspek yang saling memengaruhi. Di satu sisi, ada aspek perbuatan manusia yang berupa pengabaikan dan bahkan penguburan amanat, sementara di sisi lain, terdapat pertaruhan yang sangat besar yang menempatkan negara sebagai objeknya. Keperkasaan negara tak akan bisa bertahan lama misalnya, manakala semakin banyak elemen strategisnya yang gagal menunjukkan dirinya sebagai pejuang.
NEGARA tak akan pernah bubar, sepanjang mereka yang diberi amanat tidak berlomba menyalahgunakannya," demikian pesan yang diadaptasikan secara hermeneuitika dari filsuf muslim kenamaan Ibnu Khaldun, yang mengkritik akar masalah potensi kehancuran dan bubarnya negara akibat perilaku elitenya yang sibuk berlomba memasung dan membusukkan nilai-nilai amanat.
Kritik tersebut, jika dipahami dari esensi filosofisnya, tidaklah sederhana mengingat yang disampaikan menyangkut dua aspek yang saling memengaruhi. Di satu sisi, ada aspek perbuatan manusia yang berupa pengabaikan dan bahkan penguburan amanat, sementara di sisi lain, terdapat pertaruhan yang sangat besar yang menempatkan negara sebagai objeknya. Keperkasaan negara tak akan bisa bertahan lama misalnya, manakala semakin banyak elemen strategisnya yang gagal menunjukkan dirinya sebagai pejuang.











