Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


06 Desember 2011

Nilai Ujian Remidi

Cerpen Edy Firmansyah

Begitu mendapat kabar lewat sms dari Pak Usman, salah satu penjaga sekolah, bahwa Bu Astuti, guru matematikanya itu baru saja keluar dari sekolah, Nina bersama  dua karibnya; Linda dan Zahra, bergegas mengambil sepedanya masing-masing dan mengayuhnya cepat-cepat menuju sekolah. Nina beserta kawan karibnya ingin jadi orang yang pertama tahu apakah ia dan temannya lulus ujian remidi (ujian perbaikan) matematika yang diadakan siang tadi.

Sebab besok ia dan kawan karibnya bersepakat tidak masuk sekolah. ”Kalau kita bisa tahu malam ini, besok kita ndak usah masuk. Kita mejeng aja di mall. Ngeliatin cowok-cowok cakep. Enek kita khan liat wajah Bu Astuti terus.” Begitu usul Nina. Dan kedua kawan karibnya setuju.


Memang sudah jadi kebiasaan Bu Astuti kalau menggarap nilai ujian dilakukan di sekolah malam hari. Maklum saja, meski sudah kepala lima, hampir sama dengan usia bapak Nina, Bu Astuti belum juga menikah. Boleh dibilang perawan tua. Dan hingga saat ini tak pernah ada yang tahu alasan Bu Astuti kenapa belum menikah hingga sekarang. Karena itulah Bu Astuti kerap jadi gosip anak-anak sekolah. Teman-teman Nina. Baik yang seangkatan dengan Nina. Maupun yang junior. Dan itu pula yang dilakukan Nina dengan sahabat karibnya di warung Mpok Imah sembari menunggu Bu Astuti keluar dari sekolah malam itu. ”Mungkin selera dia terlalu tinggi sama laki-laki. Maklum dia khan keturunan priyayi.” Kata Zahra.

”Eh..ndak gitulah. Menurut cerita dari pamanku, yang kebetulan pernah satu sekolah dengan Bu Astuti, dia dulunya pernah punya pacar. Lalu pacarnya meninggal karena kecelakaan. Sejak itulah ia jadi dingin sama laki-laki.” Bantah Linda.

”Atau mungkin dia sama pacarnya sebenarnya sudah melakukan hubungan intim. Lalu pacarnya meninggal. Karena itulah ia jadi takut sama laki-laki. Takut ketahuan kalau sudah ndak perawan.” Timpal Zahra lagi.
”Ngarang kamu! Jangan ngaco ah.” Sanggah Linda

”Eh, bisa aja khan itu terjadi! Bisa jadi juga guru kita itu punya kelainan seksual. Hayoo..” ujar Zahra.
”Udah..udah. nggak penting khan ngomongin Bu Astuti dan segala tetek bengek hidupnya itu. Ndak ada pengaruhnya buat kita.” Ujar Nina. ”Mestinya yang kalian pikir sekarang kalian lulus apa tidak? Nggak lulus tahu rasa kalian semua. Kualat kalian semua nanti karena ngegosipin guru,” imbuhnya. Ketiganya lalu tertawa bersama.

Memang Bu Astuti termasuk salah satu guru yang tidak disukai Nina. Bahkan sebagian besar teman sekolahnya. Maklum saja, Bu Astuti tergolong guru killer. Kalau ulangan di kelas , Ia tak segan-segan melempar buku tugas murid-muridnya kalau tak bisa mengerjakan soal matematika dengan benar. Nina yang paling sering mendapatkan itu. Bahkan sampul buku tugasnya nyaris lepas karena sering dilempar-lempar Bu Astuti. Tak hanya itu. Bu Astuti juga kerap menampar pada siswa yang melakukan kesalahan dan tidak disiplin dan dianggap tindakannya tidak bermoral. Dan tiap kali marah wajah Bu Astuti seakan-akan berubah jadi menakutkan. Dan matanya merah seperti terkena noda darah.

Soal moralitas itu Bu Astuti pernah membuat program yang kontroversial. Untuk menekan kenakalan remaja dan agar siswa-siswa di sekolahnya tak terjerumus pergaulan bebas, dia membuat program pelajaran rohani. Program itu diisi dengan mengaji. Jadwalnya dilakukan pada jam 5 pagi. Dilakukan bergiliran tiap kelas. Dan jangan coba-coba terlambat. Bisa merah pipi siswa yang terlambat karena kena tampar. Tak peduli perempuan. Apalagi laki-laki. ”mengaji dan disiplin adalah dua hal yang penting. Program ini akan melatih mental kalian agar tak gampar terjerumus pada hal-hal yang tak berguna dan membahayakan masa depan kalian.” Begitu Bu Astuti ketika memberi penjelasan.

Awalnya program itu berjalan lancar. Tapi lama-lama banyak wali murid yang protes. Pasalnya program itu dianggap tak lazim dilakukan pada jam 5 pagi. Dan itu mengganggu aktivitas keluarga. Terutama wali murd yang rumahnya jauh dari sekolah. ”Saya sampai sering dimarahi suami gara-gara tak menyiapkan sarapan pagi hanya untuk mengantar anak ke sekolah dini hari.” itu salah satu keluhan wali murid pada kepala sekolah.

Tapi Bu Astuti bergeming. Meski diprotes banyak wali murid program itu jalan terus. Puncaknya ratusan wali murid ngeluruk ke sekolah. Melakukan demo menuntut agar Bu Astuti dikeluarkan dari sekolah. Akhirnya program itu dihentikan. Tapi Bu Astuti tetap ngajar di sekolah itu. Dan seperti biasa sering mengerjakan tugasnya sebagai guru di sekolah sampai malam. Termasuk juga membuat nilai remidi.

Malam semakin larut. Bulan purnama berpendar-pendar di langit hitam bersama bintang gemintang. Suara layang layang menderu bersama suara pesawat yang baru saja lalu. Jalanan yang tadi ramai lambat laun mulai sepi. Suara anjing menyalak bersautan, suara kucing kawin di belukar, suara jengkerik jadikan malam makin menerbakan kengerian. Ketiga sahabat karib itu bersicepat mengayuh sepedanya masing-masing. Ketika jam menunjukkan pukul 9 Nina dan dua teman karibnya tiba di gerbang sekolah. Bergegas Nina menyandarkan sepedanya ke tiang bendera. Diikuti kedua temannya. Tiba-tiba Pak Usman menghampiri.

”Lama amat sih neng-neng ini. Masih kemana aja. Sampek gosong Pak Amat nungguinnya.”

”Alah…gosong. Ngomong aja mau nangih jatah rokok. Iya khan?” Nina merogoh kantong celananya lalu menyerahkan rokok pada Pak Usman. Pak Usman tersenyum lalu menyerahkan kunci ruang guru pada Nina.
”Ingat! Jangan lama-lama. Setengah jam lagi biasanya Pak Urip datang. Selesai liat langsung ke luar dan cepat pulang. Kalau sampai ketahuan Pak Urip bisa dilaporin ke kepala sekolah.”

”Beres. Percayakan sama kita-kita ini. Begitu urusan selesai langsung cabut kok pak!” ketiga kemudian bergegas lari menuju ruang guru. Angin dingin bertiup kencang. Batang-batang pohon bambu belakang sekolah bergoyang menimbulkan suara berderik yang panjang. Terdengar suara burung hantu. Dan lolong anjing di kejauhan.

Pelan-pelan Nina membuka pintu ruang guru. Menyalakan lampu. Kemudian ketiganya berhamburan menuju meja Bu Astuti. Tapi meja Bu Astuti ternyata bersih. Hanya sebuah HP di sisi meja. Sepertinya HP Bu Astuti ketinggalan. Tak ada berkas apapun di atas meja. Zahrah mengambil HP itu dan mulai membukanya. Entah apa yang ia liat. Sementara Nina mencoba menarik laci sebelah kiri meja itu. Ternyata  terkunci. Kemudian menarik laci sebelah kanan. Tak dikunci.

”Hei lihat kayaknya ada di tumpukan berkas ini.” Ketiga lalu pelan-pelan membacai tumpukan berkas yang diambil dari laci itu. Lama sekali mereka mencari sampai akhirnya Linda berbisik.

”Kayaknya ini yang kita cari.” Linda mengibas-kibaskan dua lembar kertas yang telah distreples. Nina merebutnya lalu membacanya. Benar di bagian atas kertas itu tertulis: HASIL NILAI REMIDI PELAJARAN MATEMATIKA TANGGAL 10 Juni 2010. Dibawahnya ada daftar nama siswa dan angka hasil ujian. Ketiga memelototi kertas itu. Mencari namanya masing-masing.

Fatimatuz Zahrah = 7,8
Linda Ananda = 6,9
Malik Prasetya = 7,1
Nina Susilowati = 7,5 
Wina Ningrum = 8

Ketiganya melompat-lompat kecil begitu membaca hasil ujian remidi itu. Ketiganya lulus. Tapi begitu membaca nama Wina semuanya terkejut.
"Bukankah Wina sudah mati enam bulan lalu karena gantung diri gara-gara dikeluarkan sekolah sebab nggak mampu bayar SPP?" tanya Nina. Teman-temannya hanya mengangkat bahu.
"Lalu kenapa nilainya bisa keluar?"
Tiba-tiba bulu kuduk mereka berdiri. Listrik mendadak mati. Beberapa menit kemudian listrik menyala kembali.

”Dasar PLN sialan! Bikin jantung berdebar aja.” Gerutu Nina.

”Eh, kalian harus melihat ini dech.” Ujar Zahra lirih sambil menunjukkan HP Bu Astuti. Nina dan Linda mendekat ke Zahra. Zahrah kemudian memutar sebuah video di HP tersebut.
”Bukankah perempuan itu Bu Astuti?” Tanya Nina

”Entahlah. Tapi mirip sekali.” Ujar Zahrah. Dalam video itu terdapat adegan perempuan yang wajahnya mirip dengan Bu Astuti tengah duduk bersila di depan sebuah dupa. Mengenakan sampir merah dengan dada sedikit terbuka. Rambutnya panjangnya terurai. Mulutnya komat-kamit. Memandangi sebuah foto laki-laki. Kemudian meludahi foto itu tiga kali. Cuih! Cuih! Cuih!

Selang beberapa lama kemudian setelah ritualnya selesai perempuan itu berjalanan mendekati pojok ruangan, lalu membuka karung yang berisi tiga ekor anak anjing yang sudah diikat. Perempuan yang mirip dengan Bu Astuti itu mencekik leher seekor anjing. Lalu memakannya mentah-mentah.

Ketiga sahabat itu saling melongo menyaksikan video tersebut. Ada rasa ngeri dalam dada mereka. Tiba-tiba listrik mati kembali.

”PLN sialan!” teriak Nina lagi. Beberapa menit kemudian listrik menyala kembali. Dan betapa terkejutnya ketiga sahabat karib itu. Sebab begitu listrik menyala, Bu Astuti sudah berdiri di depan mereka dengan mata merah dan mulutnya belepotan darah.

TENTANG PENULIS
Edy Firmansyah penulis kumpulan cerpen “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Pernah bergiat di Sanggar Bersastra Kita (SBK) Madura. Selain menulis cerpen juga menulis puisi dan artikel yang dimuat di berbagai media massa terkemuka di Indonesia seperti; KOMPAS, JAWA POS, MEDIA INDONESIA, SINDO, SINAR HARAPAN, PELITA, SUARA KARYA, BALI POST, Dsb. Kini tinggal di Pamekasan, Madura.

Sumber: Kompas,  6 Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar