Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


12 Juli 2010

Sepak Bola Memartabatkan Bangsa

KEHADIRAN buku ini memang memiliki relevansi dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Buku ini tidak meniatkan diri sebagai buku panduan penonton, rumus-rumus prediksi kemenangan, atau profil pemain. Buku mungil ini justru memberikan suguhan wacana multiperspektif mengenai sepak bola di Benua Afrika dan Afrika Selatan. Kumpulan empat artikel di buku ini merupakan studi intensif dan analitis dengan perspektif sosiologis, antropologis, etnografis, historis, dan politis. Sepak bola menjadi tema inklusif untuk membaca nasionalisme, politik global, ekonomi global, sosial-kultural lokalitas, proyek demokratisasi, dan lain-lain.

Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Fakta itu mengejutkan dan menakjubkan karena negara di benua miskin tersebut sanggup memikat FIFA untuk membuat keputusan mengesankan. Pilihan Afrika Selatan sebagai tuan rumah mencakup kalkulasi kebijakan sepak bola, politik, ekonomi, sejarah, sosial, dan kultural. Justin van der Merwe menjelaskan bahwa keputusan itu merupakan proyek ambisius FIFA untuk menduniakan sepak bola dengan konsekuensi politis. Politik persepakbolaan dunia dengan gamblang tergelar di Afrika Selatan. Piala Dunia tidak sekadar urusan sepak bola, tapi pemahaman atas nasib dan ambisi Benua Afrika.

Afrika Selatan dengan sejarah kelam apartheid sanggup mengubah diri demi pemartabatan melalui sepak bola. Diskriminasi ras pernah menodai sepak bola di Afrika Selatan dalam ajang kompetisi lokal dan dunia. Kebijakan rasial membuat Afrika Selatan kerap tercoret karena mengabaikan politik kesetaraan dan HAM dalam olahraga. Masa kelam itu menjadi sumber pembelajaran untuk membenahi diri saat godaan menjadi tuan rumah Piala Dunia diperebutkan oleh pelbagai negara. Afrika Selatan tampil dengan semringah dan gairah. Kemenangan untuk menjadi tuan rumah itu ditopang oleh proyek demokratisasi sejak 1990-an dan olahan spirit dari perpolitikan Nelson Mandela. Piala Dunia 2010 diartikan Merwe sebagai bukti proyek kesetaraan dalam tatanan sepak bola internasional dan memperkuat persekutuan di antara Benua Afrika dan blok negara-negara berkembang di benua lain.

''Olahraga adalah agama di Afrika Selatan.'' Pernyataan itu impresif dan menggambarkan ekspresi puncak atas model resistansi terhadap warisan rezim apartheid. Kutipan dari Farred (1997) dan Nauright (1997) menyebutkan, ''Afrika Selatan merupakan negara paling gila olahraga di dunia.'' Biografi olahraga itu memang tidak sekadar ucapan karena geliat Afrika Selatan dalam pentas dunia memang kerap diacukan pada olahraga untuk mengatasi stigma politik apartheid. Politik bisa membungkam, tapi olahraga membebaskan dan menggairahkan hidup.

Kutipan berikut ini mungkin bisa jadi ilustrasi makna sepak bola di Afrika Selatan dalam masa rezim apartheid: ''Sepak bola memberikan ruang untuk melepaskan emosi dan menikmati kebersamaan dengan ribuan fans lainnya. Ia menjadi suatu ajang pembebasan sementara dari pengawasan penguasa kulit putih yang membuat para buruh kulit hitam terpecah, diintai bahaya, hidup tidak layak, dan kehilangan nilai-nilai kehidupan'' (Anderson, Bilert, dan Jones, 2001). Hendricks (1989) juga mengakui bahwa sepak bola memberikan jalan kepada orang-orang di Afrika Selatan untuk menemukan idola kehidupan dalam tegangan tekanan politik dan impian kebebasan.

Kegilaan Afrika Selatan dalam sepak bola bisa ditelusuri dalam sejarah pengenalan sepak bola oleh penjajah pada 1870-an. Sepak bola pada masa itu dimainkan oleh orang kulit hitam, kulit putih, ras India, dan ras campuran. Sepak bola menjadi ikon dari pembedaan kelas dan jalan politik. Connie M. Anderson, Troy A. Bielert, dan Ryan P. Jones dalam Aku Afrika maka Aku Bersepak Bola: Sepak Bola dan Gairah Berbangsa menjelaskan, ''Sepak bola merupakan olahraga milik kelompok etnis, kelas, agama, dan atlet yang dimarginalkan oleh kalangan penguasa.''

Marginalisasi itu tidak diratapi, tapi dijadikan argumentasi dalam mengafirmasi sepak bola sebagai spirit dan praktik pembebasan. Proses panjang tersebut membuat Afrika Selatan berhasil membuktikan diri untuk menjadikan sepak bola sebagai simbol kesetaraan pada hari ini.

Sepak bola mengantarkan Afrika Selatan pada pergaulan dunia secara interaktif. Masa kelam apartheid yang tergantikan dengan pengakuan Afrika Selatan pada 1990-an dalam ajang sepak bola dunia memberikan akses pencalonan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Usaha itu pernah dilakukan pada 2006, tapi gagal karena kalah satu suara. Kegagalan itu pun bisa ditafsirkan secara politis karena pada putaran terakhir pemilihan tidak dihadiri oleh Nelson Mandela selaku presiden Afrika Selatan. Pendekatan dan aroma politik ternyata menentukan nasib suatu negara dalam ajang perebutan menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Usaha itu memang gagal, tapi membuktikan ambisi Afrika Selatan untuk mendapat pengakuan internasional dan bermartabat di mata FIFA. Paul Darby menganggap kerja keras Afrika Selatan yang memikat publik sepak bola dunia merupakan realisasi proyek menantang eurosentrisme dalam tubuh FIFA. Resistansi itu menggambarkan pertarungan kekuatan sepak bola bangsa-bangsa Afrika dengan sepak bola Eropa Barat. Keberhasilan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 tentu memberikan arti penting dalam proses panjang Afrika Selatan menyapa dan memikat dunia.

Dunia pun bakal menikmati Afrika Selatan dalam suguhan pertandingan sepak bola, biografi politik, eksotisme lokalitas, progresivitas demokratisasi, praktik politik kesetaraan, dan lain-lain. Afrika Selatan berhasil memikat dunia kendati memiliki sejarah kelam. Benua Afrika secara politis ingin setara dengan benua-benua lain dalam kancah politik-ekonomi global. Sepak bola menjadi juru bicara. Pemaknaan Piala Dunia 2010 membuka jalan bagi Afrika Selatan dan negara-negara di Benua Afrika untuk menyuarakan diri demi pemartabatan bangsa di mata dunia. (*)

*) Bandung Mawardi , Pengelola Jagat Abjad Solo

Judul Buku: Afrika Gila Bola: Politik Sepak Bola Tuan Rumah Piala Dunia

Penulis : Connoe M. Anderson dkk

Penyunting: Geger Riyanto

Penerbit: Kepik Ungu, Depok

Cetak : Mei, 2010

Tebal: 168 halaman


Sumber : Jawa Pos, 11 Juli 2010

0 komentar:

Posting Komentar