Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pelatihan IT

Pelatihan IT di BLC Kabupaten Sragen

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


11 Desember 2008

Quo Vadis Sekolah Berstandar Internasional?

"In times of drastic change, it is the learners who inherit the future." (E Hoffer)



Dalam Undang-Undang Sisdiknas 2003, pemerintah memperkenalkan klasifikasi sekolah baru. Sekolah itu antara lain disebut sekolah bertaraf internasional (SBI), sekolah dengan kategori mandiri (SKM), dan kelompok sekolah biasa (SB). Pada SBI, pihak penyelenggara pendidikan diberi ruang untuk menggunakan silabus pembelajaran dan penilaian yang umumnya dipakai pada sekolah menengah di negara-negara yang tergabung dalam OECD. Silabus pembelajaran dan penilaian itu hanya berfungsi sebagai bahan pengayaan terhadap kurikulum nasional (KTSP). Sementara itu, untuk sekolah dengan kategori mandiri, pihak penyelenggara pendidikan dapat memakai sistem kredit semester (SKS) sebagaimana lazimnya di perguruan tinggi. Di sisi lain, sekolah biasa hanya menyelenggarakan kegiatan pendidikan secara klasikal dan dengan menggunakan KTSP. Meskipun klasifikasi sekolah itu mungkin dipandang baik untuk mendorong perubahan dan meningkatkan kualitas pendidikan, karena sosialisasinya belum berjalan maksimal, hasilnya masih sedikit membingungkan masyarakat.

Pada 2004/05, SMA Negeri 70 Jakarta dan SMA Labschool mulai mengadopsi silabus Cambridge Advance Level (A Level) guna memperkaya kurikulum nasional pada siswanya. Selanjutnya program yang sama diperkenalkan di SMA Negeri 8 Jakarta, SMA Negeri 21 Jakarta, dan SMA Negeri 68 Jakarta. Sekarang, sekolah bertaraf internasional (SBI) itu sudah tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Tanah Air. Diperkirakan, menjelang berakhirnya tahun anggaran 2009, jumlah SBI akan mencapai 260 sekolah, terdiri dari SMA 100 sekolah, SMP (100), dan SMK (60) yang diharapkan akan mampu melepaskan predikat sekolah rintisannya (Pena Pendidikan/edisi daring, 28 Maret 2008).



Good practice



Meskipun penyelenggaraan program kualifikasi internasional masih relatif singkat, beberapa sekolah yang menggunakan Cambridge IGCSE/A Level di Jakarta sudah mulai berhasil menunjukkan hasil kerja kerasnya. Prestasi dan kemajuan yang diperoleh itu merupakan hasil pembinaan, dampingan, dan pengawasan yang dilakukan secara sistematis, teratur, dan terukur oleh tim pengembang SBI yang dibentuk Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta. Hal itu dapat dilihat dari semakin tumbuhnya kesadaran akan pentingnya untuk terus belajar dan berefleksi (reflective teaching and learning) serta berkembangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap pendidikan demokratis dan multikultural sebagaimana dibuktikan saat mereka melayani siswa dengan kemampuan, kecepatan, dan minat yang beragam. Guru dalam SBI semakin memahami makna dari konsep pembelajaran deep-learning, higher order thinking skills, dan contextual learning bagi siswa dan semakin mengetahui keterbatasan dan manfaat dari pembelajaran rote learning yang selama ini biasa dipakai di sekolah. Sementara itu, kemajuan pada siswa ditunjukkan dengan semakin tampaknya sikap kemandirian, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, kejujuran, toleransi, dan risk taking.

Hasil perolehan siswa pada ujian IGCSE dalam tiga tahun pertama (2005-2007) cukup menggembirakan. Sebagaimana diketahui, program Cambridge A Level merupakan golden standard-nya Cambridge International Examination (CIE) yang sertifikatnya sudah diakui sejumlah universitas ivy league mancanegara, seperti University of Cambridge, Oxford University, Harvard University, MIT, dan Stanford University. Kelebihan lain dari program ini adalah pembelajaran dan penilaian Cambridge IGCSE lebih menekankan pada kemampuan pemecahan masalah, menumbuhkan pemikiran kreatif, dan autentik (contextual learning), maka materinya terkesan sedikit lebih sulit. Pada IGCSE, hampir seluruh mata pelajaran yang dipilih (matematika, english as a second language, fisika, kimia, dan biologi), prestasi siswa sangat memberikan harapan seperti terlihat pada grafik perbandingan hasil IGCSE 2005-2006 dan 2006-2007 di bawah ini.



;;;;;;



Bahkan untuk mata pelajaran matematika, rata-rata siswa SMA negeri Jakarta yang memperoleh nilai (C-A) persentasenya lebih besar daripada siswa 140 negara partisipan silabus Cambridge IGCSE di seluruh dunia. Hasil IGCSE dan A Level periode 2005-2007 itu cukup memberikan gambaran bahwa siswa-siswa sekolah menengah kita juga mampu menunjukkan prestasi internasional mereka meskipun tanpa harus mengeluarkan anggaran sangat besar seperti pada kegiatan Olimpiade Sains dan Matematika.

Perkembangan SBI sejauh ini dapat dijadikan sebagai indikator akan besarnya minat dan keinginan pengelola pendidikan pada tingkat sekolah dan madrasah untuk melakukan inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan. Rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba mulai tumbuh dengan positif dan menggembirakan. Namun, yang agak sedikit merisaukan dari temuan kami di beberapa daerah, ternyata kecepatan sekolah-sekolah dalam melakukan perubahan (mengadopsi silabus pembelajaran dan penilaian asing) masih belum diimbangi dengan upaya yang sistematis untuk memperkuat dan meningkatkan mutu sumber daya kependidikan (kepala sekolah, guru, dan manajemen), membangun sistem kontrol dan akuntabilitas atas seluruh kegiatan akademis dan administrasi keuangan sekolah. Akibatnya, pertumbuhan SBI yang begitu cepat itu malah menimbulkan masalah, kontraproduksi, dan kehilangan arah (sense of direction). Dengan hilangnya pesan perubahan, yang sebelumnya tecermin dari perubahan manajemen sekolah yang menjadi lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif, program SBI ini diduga hanya akan membawa kecemasan baru pada masyarakat. Masih lemahnya mutu pengelolaan SBI diakui Surya Dharma PhD, Direktur Tenaga Kependidikan Depdiknas. Dari 260 kepala sekolah SBI yang diberikan tes kemampuan bahasa Inggris, TOEIC, menurut Surya Dharma, hanya 10% yang memiliki kemampuan memadai, sedangkan sisanya, 90% kemampuannya hanya mencapai skor 245, artinya masih di bawah tingkat dasar (elementary). Data lain, hasil ujian IELTS guru yang akan diproyeksikan dapat mengajar pada kelas rintisan internasional menunjukkan keadaan yang serupa. Dari sekitar 40 peserta, kurang dari 20% yang mampu memperoleh skor IELTS antara 4,0-4,5, sedangkan sisanya hanya memperoleh skor antara 2,5-3,7. Padahal seorang guru diizinkan mengajar program internasional harus memiliki skor minimal 6,5 pada IELTS (atau skor 550 pada TOEFL). Hasil penilaian terhadap kompetensi akademis dan kemampuan pedagogis guru pengajar menunjukkan keadaan hampir sama, memprihatinkan.

Atas dasar itu, Depdiknas diharapkan dapat sedikit menahan dan mengendalikan pertumbuhan sekolah-sekolah SBI. Depdiknas harus berani untuk mulai melakukan refleksi terhadap konsep dan pelaksanaan SBI sejauh ini. Depdiknas (direktorat-direktorat pembina tingkat pusat, pusat kurikulum, pusat penilaian, dan dinas pendidikan) harus dapat duduk bersama untuk merumuskan kembali kebijakan tentang SBI dengan lebih baik dan terukur. Depdiknas harus dapat menyusun roadmap SBI, revisited curriculum framework, mengkaji ulang standar, penilaian, dan evaluasi program yang digunakan selama ini. Agar hasil kajian itu dapat lebih optimal hasilnya, Depdiknas hendaknya dapat juga melibatkan sekolah-sekolah yang tergabung dalam national school plus (NSP) dan institusi pendidikan lainnya yang sudah berpengalaman dan berhasil mengelola program pendidikan internasional (international credentials). Depdiknas harus berusaha melepaskan sikap memiliki (possessive) yang berlebihan dan mulai menumbuhkan kemampuan bekerja sama (collaborative works) dengan lembaga/individu di luar pemerintah (non state agencies) yang mungkin selama ini dipandang sangat kritis terhadap beberapa kebijakan pemerintah.

Upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah didukung dengan program pengembangan guru, kepala sekolah, dan manajemen (capacity building), yang dilakukan secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh stakeholder pendidikan. Pemahaman terhadap pentingnya pembangunan sumber daya kependidikan (SDK) secara berkelanjutan itu harus ditanamkan pada setiap pengelola dan pelaksana kebijakan pendidikan pusat dan daerah. Selain itu, fungsi dan peranan kepala sekolah harus selalu semakin diefektifkan terutama yang berkaitan dengan manajemen pembelajaran (instructional management) serta monitoring dan evaluasi (monev). Kepala sekolah harus dapat menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi guru, siswa, dan manajemen sekolah lainnya. Lebih dari itu, kepala sekolah bersama pemangku pendidikan lainnya harus mampu membangun dan mengembangkan visi bersama sekolah dan mewujudkannya secara bersama pula. Setiap perubahan pasti akan melahirkan tantangan dan harapan baru. Namun, sebagaimana dikemukakan Hoffer pada awal tulisan ini, hanya bagi mereka yang mampu menjaga dan memupuk motivasinya untuk terus belajar (learner) yang akan dapat mewarisi dan mengendalikan masa depan planet yang selalu berubah ini.



Oleh Syamsir Alam, Tim Pendidikan Yayasan Sukma
Sumber Media Indonesia, 15 September 2008

Buku-Buku Untuk Anak Oleh Harun Yahya

Dapatkan secara cuma-cuma 7 Buku Untuk Anak Anda

1. Keajaiban Di Dalam Tubuh Kita
2. Selamat Datang di Dunia Semut
3. Berang-Berang Sang Ahli Pembuat Bendungan
4. Lebah Madu Pembuat Sarang Yang Sempurna
5. Pesona Di Angkasa Raya
6. Pesona Alam Satwa
7. Indahnya Islam Kita

Klik Judul di atas untuk download. Selamat membaca, anak-anakku sayang

KTT ASEAN yang Tertunda

ASEAN menoreh “sejarah” untuk kedua kali setelah Thailand memutuskan menunda KTT ASEAN Ke-14 yang seharusnya diselenggarakan di Bangkok, 14 Desember lalu, akibat protes masif rakyat terhadap pemerintahan di Bangkok.

Penundaan pertama KTT ASEAN terjadi dua tahun lalu di Filipina karena alasan topan besar yang melanda negara itu, meski banyak yang lebih percaya bahwa alasan utama penundaan itu adalah karena faktor ancaman teroris.KTT ASEAN Ke-14 ditunda sampai Maret 2009.

Myanmar, yang seharusnya mendapat giliran menjadi tuan rumah KTT 2006,gagal menjadi tuan rumah akibat tekanan mitranya di ASEAN karena pelanggaran hak asasi manusia. Filipina kemudian mengambil alih persiapan KTT. Penundaan KTT ini memunculkan reaksi di kalangan negara-negara anggota ASEAN lain.

Meski Singapura memahami alasan penundaan itu, tapi penundaan tidak boleh lebih lama daripada yang seharusnya. Singapura mendesak agar KTT digelar pada Januari, lebih cepat dari jadwal yang direncanakan semula, yaitu Maret 2009. Alasan Singapura ini bisa jadi ada kaitannya dengan krisis finansial global yang memengaruhi ASEAN,sehingga ASEAN perlu menggelar KTT lebih cepat.

Kementrian Luar Negeri Singapura bahkan dilaporkan mengusulkan agar KTT itu digelar di Jakarta.Penundaan itu menurut Filipina akan memberi kesempatan lebih banyak lagi kepada ASEAN untuk mempersiapkan diri. KTT yang ditunda itu sebenarnya memiliki nilai lebih karena rencananya akan dihadiri oleh pemimpinpemimpin organisasi internasional, termasuk PBB, Bank Dunia, IMF dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Rencana kehadiran mereka dalam KTT ASEAN itu harus dilihat dalam konteks upaya bersama mereka untuk mengatasi efek krisis keuangan global terhadap Asia Tenggara. Penundaan itu juga mendorong Indonesia untuk menawarkan diri menjadi tuan rumah dari serangkaian pertemuan-pertemuan tingkat menteri yang mendahului KTT.

*** Adalah keliru jika ada yang berpendapat bahwa penundaan itu kemudian mengurangi esensi dari kerja sama ASEAN.ASEAN, dengan atau tanpa KTT yang tertunda, tidak bisa melepaskan diri dari keharusan membangun profil ASEAN yang sama sekali baru.

Penundaan itu seharusnya juga tidak menunda pelaksanaan Piagam ASEAN yang menurut prosedur akan berlaku efektif tiga puluh hari setelah seluruh negara ASEAN mendaftarkan ratifikasi piagam ke Sekretariat ASEAN.

Jika saja KTT itu tidak ditunda, atau kalaupun akhirnya harus ditunda sampai Maret 2009,hal itu tidak mengurangi komitmen para pemimpin ASEAN untuk membuat ASEAN pada 2015 menjadi komunitas yang memperhatikan aspek keamanan, ekonomi, dan kemakmuran kawasan.

Kerja sama ASEAN dalam bidang keamanan dan politik menjadi salah satu bidang di mana ASEAN akan mempertaruhkan reputasinya sebagai entitas regional yang kokoh dan stabil. Untuk menjadi entitas regional yang kokoh dan stabil tidak ada pilihan lain bagi ASEAN kecuali memperluas dan memperdalam kerja sama antaranggota.

Dalam proses ini ASEAN harus mengedepankan prinsip bahwa kerja sama merupakan pilihan rasional untuk menyelesaikan berbagai persoalan politik dan keamanan kawasan. Dengan Piagam ASEAN, negaranegara ASEAN sepertinya akan bergerak di luar perlindungan terhadap kedaulatan masing-masing.

Kapan dan di mana saja KTT ASEAN akan digelar, menegaskan kembali bahwa ASEAN 2015 akan menjadi sebuah institusi regional yang kegiatannya bukan hanya komprehensif sifatnya, tapi juga institusi regional yang peran proaktifnya dibutuhkan ketika kawasan Asia Tenggara menghadapi tantangan dan spektrum ancaman baru yang tidak bisa diatasi hanya dengan mengandalkan pada kedaulatan mereka sendiri.

Ketika ASEAN berubah menjadi komunitas politik dan keamanan, anggota ASEAN akan bergesar dari enhancing sovereignty ke reducing sovereignty. Komunitas itu memperjelas langkah-langkah yang akan diambil oleh ASEAN dalam konteks keamanan regional dan menentukan prioritas dan agenda keamanan ASEAN.

Isu keamanan tradisional dan nontradisional harus menjadi agenda tetap KTT ASEAN. KTT ASEAN mendatang akan menjadi lebih strategis dan penting karena ia diharapkan menerima cetak biru komunitas politik dan keamanan ASEAN, sebuah dokumen yang menegaskan kembali pentingnya kerja sama bilateral antara negara anggota ASEAN, sementara tetap mengakui kedaulatan masing-masing anggota ASEAN untuk menjalan kebijakan luar negeri dan pertahanan mereka sendiri.

Cetak biru ini harus dilihat sebagai alat untuk merekonsiliasikan isu-isu keamanan tradisional dan nontradisional dalam kerangka kerja sama keamanan regional. KTT ASEAN mendatang mungkin bisa dimulai untuk membangun sistem keamanan transnasional ASEAN, sebuah format keamanan regional di bawah payung komunitas politik dan keamanan ASEAN.

Sistem seperti ini memiliki komponen kerja sama,share vision,penerimaan nilai-nilai inti baru, dan kemampuan beradaptasi terhadap kompleksitas kawasan. Pada 2015,ASEAN sepertinya akan menganut pemahaman yang lebih luas dan inklusif mengenai keamanan nasional yang mulai memerhatikan sistem keamanan regional yang lebih besar .

Pentingnya kerja sama maritim ASEAN dalam kerangka komunitas politik dan keamanan tentu tak boleh dilupakan.ASEAN perlu menerapkan pendekatan komprehensif yang memfokuskan pada keselamatan navigasi dan keamanan yang menjadi perhatian utama komunitas ASEAN.

Karena itu, tidak berlebihan jika KTT ASEANnantimenegaskanpentingnya ASEAN Maritime Forum, sebuah forum tukar menukar informasi dan dialog mengenai masalah-masalah maritim ASEAN. Bukan hanya itu. Dalam agenda nanti, KTT ASEAN mendatang harus menegaskan pentingnya membangun rasa saling percaya, misalnya dengan mengintensifkan pertemuan antara para menteri pertahanan ASEAN.

Interaksi dan kegiatan antarmiliter ASEAN juga harus ditingkatkan. Semuanya ini harus dipandang sebagai bagian dari upaya ASEAN untuk mencegah konflik dan membangun saling percaya. Transparansi dan pemahaman ini misalnya dapat diwujudkan dalam bentuk ASEAN Security Outlook dan konsultasi dan kerja sama mengenai masalah-masalah keamanan dan pertahanan regional di kalangan negara anggota ASEAN dan antara ASEAN dan mitra dialognya melalui pertemuan para menteri pertahanan ASEAN plus (ADMM plus).

*** Tidak ada yang dapat menjamin, KTT ASEAN sekalipun, bahwa komunitas ASEAN akan sama sekali bebas dari sengketa dalam dan antarnegara anggota ASEAN. Citra bahwa ASEAN memiliki berbagai konflik tampaknya masih akan muncul, sekalipun ASEAN telah menjadi komunitas ASEAN.

Komunitas politik dan keamanan ASEAN harus membuka ruang bagi munculnya gagasangagasan baru mengenai resolusi konflik dan penyelesaian sengketa secara damai. Dalam proses demikian perjanjian persahabatan dan kerja sama ASEAN (TAC) dapat memandu komunitas itu untuk menerapkan penyelesaian sengketa yang tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

Dalam memperkuat proses membangun resolusi dan manajemen konflik, akan lebih baik lagi jika itu didukung oleh kegiatan penelitian mengenai perdamaian. Maka sudah waktunya bagi KTT ASEAN untuk memutuskan membentuk ASEAN Institute for Peace and Reconsiliation. KTT ASEAN Ke-14 memang tertunda, tetapi itu tidak menutup ruang bagi ASEAN untuk mencari terobosan-terobosan yang sifatnya proyektif.

KTT ASEAN yang akan digelar Maret tahun depan dinilai akan menjadi lebih strategis karena membawa agenda yang akan menjadi basis kerja sama regional di masa depan. (*)

Bantarto Bandoro
Peneliti Institute of Defense and
Security Studiesdan Dosen Pascasarjana FISIP
Universitas Indonesia

Sumber Sindo, 11 Desember 2008

Krisis dan Ekonomi Daerah

Thursday, 11 December 2008
Krisis ekonomi 1997/1998 telah meluluhlantakkan sendisendi perekonomian nasional karena skalanya yang sangat masif. Namun, krisis 10 tahun lalu itu masih menyisakan beberapa pelaku ekonomi di daerah yang justru lebih bergairah akibat krisis ekonomi.

Saat itu, beberapa komoditas perkebunan harganya melambung di pasar internasional. Kebetulan pula krisis ekonomi membuat rupiah merosot nilainya. Pada momentum itu daerah-daerah dan pelaku ekonominya yang kebetulan memiliki komoditas pertanian/ perkebunan malah mendapatkan boom karena krisis ekonomi.

Akibat situasi itu, para pelaku ekonomi yang mempunyai basis kegiatan di sektor perkebunan malah berharap krisis jangan cepat berlalu. Kali ini, krisis ekonomi juga terjadi lagi,tentu dengan sebab yang berlainan ketimbang 10 tahun silam.Jika dikaitkan dengan posisi daerah,pertanyaan yang penting diajukan,apakah daerah (dan pelakunya) masih diuntungkan seperti krisis 1997/1998 lalu?

Karakteristik Krisis

Fakta yang tidak bisa ditutupi adalah realitas bahwa sektor ekonomi yang paling terguncang oleh krisis kali adalah pasar finansial (pasar modal).Perembetan krisis finansial di AS berlangsung amat cepat tanpa sempat pelaku ekonomi domestik (Indonesia) melakukan langkah antisipasi untuk mengeluarkan investasi portofolionya di sana.

Implikasinya, sebagian pelaku di lantai bursa ikut ambruk bersamaan dengan tumbangnya pasar finansial dunia. Selanjutnya, tanpa bisa dicegah lagi, kepanikan merembet ke semua pelaku di pasar modal, walaupun sesungguhnya sebagian tidak terkait dengan pasar di AS.Inilah yang membuat fondasi pasar modal di Tanah Air limbung akibat terjadi kolektivitas kepanikan.

Tidak sampai di sini,skala krisis kemudian meluas karena pemerintah gagal mengisolasi rembetan krisis ke nilai tukar.Penurunan nilai tukar rupiah mengakibatkan pelaku ekonomi semakin tertekan, apalagi bagi mereka yang utangnya (dolar AS) jatuh tempo. Deskripsi itu memberikan peta yang agak jelas bahwa secara teoretis krisis kali ini akan mengakibatkan dua sektor/ pelaku ekonomi yang paling terkena dampak.

Pertama,hancurnya pasar modal membuat kapitalisasi perusahaan- perusahaan yang tercatat di lantai bursa menjadi merosot drastis. Saat ini terdapat beberapa saham perusahaan yang cuma bernilai Rp50/saham (lebih murah dari harga sebuah permen). Dalam beberapa aspek, situasi ini hampir sama dengan krisis 1997/1998.

Akibat penurunan harga saham itu, banyak perusahaan besar sekarang ini sedang mengalami kesulitan likuiditas, bahkan sebagian sudah dilego ke pihak lain,termasuk pelaku ekonomi asing. Kedua, krisis ini juga memukul sektor industri yang berorientasi ekspor dan/atau tergantung bahan baku impor (dalam proses produksinya).

Industri yang berorientasi ekspor hancur karena perlambatan ekonomi dunia,sedangkan yang berbahan baku impor juga ambruk karena kurs rupiah yang terus merosot. Jadi, secara proyektif pelaku ekonomi skala menengah/kecil yang sebagian besar output-nya dijual ke pasar domestik, atau seluruh bahan bakunya mengandalkan sumber ekonomi domestik, tidak banyak mengalami gangguan.

Masalahnya, beberapa hal yang dulu terjadi pada krisis 1997/1998 saat ini tidak terulang. Misalnya krisis kali ini justru didahului oleh penurunan harga-harga komoditas pertanian di pasar internasional. Implikasinya, daerah-daerah produsen komoditas pertanian (dan perkebunan) saat ini tidak bisa mengambil keuntungan di tengah krisis ekonomi.

Bahkan, beberapa pelaku ekonomi kecil di sektor perkebunan (misalnya petani kelapa sawit) terjerat kredit sehingga harus menjual kebun mereka. Lainnya, pasar ekonomi dunia mengalami perlambatan yang jauh lebih berat daripada Indonesia, sehingga potensi untuk merebut pasar internasional menjadi tertutup. Ini juga memukul beberapa daerah yang sebagian komoditasnya dijual ke pasar dunia.

Paket Kebijakan Daerah

Bagi sebagian daerah, khususnya daerah tertinggal, memang situasi kali ini sangat berat, meski secara teoretis seharusnya dampaknya tidak akan sampai ke sana (daerah). Sekurangnya terdapat tiga hal yang akan dirasakan daerah akibat krisis ekonomi saat ini. Pertama, sektor pertanian dan perkebunan terpukul karena penurunan harga internasional dan perlambatan ekonomi dunia.

Sekarang sudah terdapat beberapa petani kecil yang menjual kebun agar terhindar dari jebakan kredit.Kedua,munculnya pengangguran baru, khususnya mereka yang terlempar (push-out) dari kegiatan di sektor pertanian/ perkebunan. Akselerasi pengangguran ini akan semakin cepat bila tren harga komoditas pertanian di pasar internasional tidak segera pulih.

Ketiga, pendapatan asli daerah juga berpotensi merosot, khususnya daerah-daerah yang sangat menggantungkan penerimaan dari sumber daya alam (minyak,gas,batu bara,dan lain-lain). Akibatnya APBD akan terganggu dan menekan pembangunan daerah. Menilik analisis tersebut,pemerintah diharapkan tidak mengonsentrasikan solusi krisis hanya ke sektor finansial dan industri.

Pemerintah harus mengalokasikan kebijakan dan sebagian sumber daya ekonomi ke daerah, karena dampak krisis juga sangat dirasakan di daerah. Dua paket kebijakan yang penting untuk dirumuskan adalah crash-program di bidang infrastruktur dan penguatan sektor pertanian/ perkebunan. Infrastruktur daerah harus menjadi prioritas ketimbang di pusat (Jakarta/Jawa) karena akan menggaransi bagi loncatan pemulihan ekonomi daerah.

Program ini sekaligus dapat menyerap tenaga kerja, khususnya apabila dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur pedesaan/pertanian. Adapun penguatan sektor pertanian di tempuh dengan jalan relaksasi modal bagi petani kecil dan percepatan pembagian lahan. Dengan jalan ini, semoga dampak krisis bisa sedikit diredam sehingga daerah tidak kembali terperosok di lubang yang sama.(*)

Ahmad Erani Yustika
Direktur Eksekutif Indef,
Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi
Universitas Brawijaya
Sumber Sindo, 11 Desember 2008

10 Desember 2008

Pembiayaan Pembangunan

Beberapa waktu lalu saya diundang mengikuti seminar di Buenos Aires,Argentina,untuk berbagi saran terkait pembiayaan pembangunan.Semua peserta,selain saya,berasal dari Amerika Latin.

Tujuan seminar memang berupa upaya mencari alternatif pembiayaan pembangunan untuk Amerika Latin.Pendirian Banco del Sur (Bank Selatan) adalah sebuah contoh. Lembaga pendanaan ini menyediakan bantuan pembangunan dengan conditionalities yang lebih pas bagi kondisi negara-negara berkembang dibandingkan apa yang dipersyaratkan oleh Bank Dunia dan IMF.

Sebenarnya, ketika Asia dilanda krisis pada 1998, Jepang dan beberapa negara Asia sempat mengusulkan pembentukan sebuah lembaga pendanaan Asia, semacam ”Asia Monetary Funds”, namun gagal karena tidak disetujui Amerika Serikat (AS). Dalam krisis kali ini, usulan tersebut sempat kembali diangkat.

China, dengan cadangan devisa terbesar di dunia, mungkin bisa diharapkan “memimpin”jalan menuju pembentukan lembaga sejenis.Lebih dari sekadar pendanaan,beberapa isu berikut saling terkait menjadi bagian dari pembiayaan pembangunan.

Enam tahun lalu di Monterrey, Meksiko, ratusan pemimpin negara mendeklarasikan sebuah kesepakatan terkait pembiayaan pembangunan dengan isu-isu spesifik terkait perdagangan, bantuan pembangunan, investasi, penyelesaian utang luar negeri,mobilisasi sumber daya nasional, serta reformasi arsitektur keuangan global. Ringkasnya, deklarasi tersebut mencakup berbagai hal terkait pendanaan pembangunan.

Demi pencapaian MDGs, misalnya, negaranegara berkembang dianjurkan mengatasi ketergantungannya pada pembiayaan eksternal lewat peningkatan sumber daya dalam negeri. Untuk itu, dibutuhkan reformasi fiskal serta instrumen pengurangan dampak krisis ekonomi lain, termasuk pajak efektif terhadap perusahaan transnasional,pemberantasan korupsi, pencegahan capital flight, serta upaya mengembalikan dana “curian” penguasa korup yang disimpan di luar negeri.

*** Dalam perdagangan internasional perlu diupayakan perubahan arah dan paradigma dalam bernegosiasi dengan WTO.Percepatan liberalisasi perdagangan harus dibendung, minimal sejalan dengan kebutuhan pembangunan. Pada saat sama, negaranegara kaya perlu dituntut agar menghentikan subsidi (produk) pertanian yang diekspor ke negara berkembang.

Uni Eropa,misalnya,sudah berjanji menghentikan semua subsidi ekspor pada 2013 terlepas dari hasil negosiasi WTO.Sebuah langkah yang harus dirintis dari sekarang dan diikuti negara kaya lainnya. Aspek yang perlu dirumuskan ulang adalah peran lembaga keuangan internasional terkait keterlibatannya dalam perumusan kebijakan perdagangan.

Selama ini, agenda Aid Effectiveness negaranegara OECD, masih menggunakan kajian kelayakan kelembagaan dan kebijakan sebuah negara oleh Bank Dunia yang mensyaratkan percepatan liberalisasi sebagai ukuran “good policy and good governance”. Sesuatu yang disinyalir telah banyak merusak pasar dan UMKM negara penerima bantuan.

Hal ini,berbarengan dengan rendahnya komitmen negara kaya terkait bantuan pembangunan. Data dari Sekretariat OECD,misalnya, menunjukkan sebagian besar negara anggotanya tidak memenuhi janji mereka untuk memberikan bantuan sebesar 0,7% dari GDP.

Selain itu, diperlukan sebuah resolusi politik terkait perbaikan kuantitatif dan kualitatif bantuan serta pemantauan tentang berapa besar dana yang secara riil ditransfer dari Utara ke Selatan.Termasuk penyelesaian utang luar negeri yang selama ini merupakan porsi terbesar dari transfer dana Selatan yang miskin ke Utara yang kaya.

Pengurangan utang luar negeri masih jauh dari apa yang disepakati di Monterrey, yaitu alokasi 0,7% GDP untuk bantuan pembangunan negara kaya kepada negara miskin. Lebih dari itu, dalam Deklarasi Milenium tercantum kesepakatan untuk secara menyeluruh menyelesaikan utang luar negeri negara-negara berkembang.

Bagi Indonesia, kewajiban mencicil utang (dalam dan luar negeri) masih menyandera anggaran negara. Dalam RAPBN 2009 yang dibacakan Presiden SBY beberapa waktu lalu, porsi pembayaran utang tercatat hampir 15%, masing-masing Rp59 triliun untuk pokok utang dan Rp110 triliun untuk bunga utang.

Saat ini utang pemerintah tercatat sekitar Rp1.300 triliun atau lebih besar daripada anggaran belanja negara pada 2009 sebesar Rp1.222 triliun. Karena itu, perlu dicarikan solusi komprehensif agar utang yang sebagian besar merupakan warisan rezim sebelumnya itu tidak menjadi beban generasi saat ini dan mendatang.

Untuk utang luar negeri, mungkin bisa dimintakan haircut kepada kreditor secara bilateral atau multilateral. Alasannya, sebagaimana kita tahu, utang di masa lalu banyak yang tak tepat sasaran.Untuk utang dalam negeri, terutama dari obligasi rekap, pemerintah harus mengambil langkah bijak.

Apalagi, kini bank-bank tersebut banyak yang berpindah tangan.Paling tidak langkah yang diambil menguntungkan negara dan menghilangkan beban utang. Terakhir,Kesepakatan Monterrey terkait keharusan pelibatan negara berkembang dalam standard-setting bodies yang mengatur standar dan aturan (standards and codes) keuangan dan perekonomian.

Ketika krisis melanda dunia, berbagai standar yang digunakan dalam perekonomian global akan berdampak bagi negaranegara berkembang.Kenyataannya, semakin lemah sebuah perekonomian, semakin buruk dampak krisis yang menimpanya. Sebenarnya pemberlakuan standar dan aturan tersebut tidak begitu berpengaruh bila Kesepakatan Moneterrey dipegang teguh, bahwa pemberlakuannya bagi negara berkembang hanya secara sukarela.Kenyataannya, standar dan aturan ini secara konsisten dipakai sebagai persyaratan (conditionalities) bantuan oleh IMF dan Bank Dunia.(*)

Ivan A Hadar
Koordinator Nasional Target MDGs
Sumber Sindo, 10 Desember 2008

Saatnya Menjual Indonesia

Wednesday, 10 December 2008
Krisis global yang terjadi akan terus memakan korban. Indonesia tak luput dari gelombang krisis yang mengempaskan perekonomian banyak negara, termasuk pembuat sistem ekonomi itu sendiri.

Sekarang ini baru sebagian kecil dampak yang kita rasakan. Meski kecil,namun banyak pengamat memperkirakan sampai akhir Desember 2008 ini akan terjadi gelombang PHK sampai 500.000 orang. Bahkan puncaknya bisa melewati angka dua juta orang. Ini kita hanya bicara tentang pemutusan hubungan kerja. Belum lagi bicara dampak sosial yang ditimbulkannya.

Dijamin akan lebih serius dan lebih pelik lagi. Keadaan seperti ini memang tidak mudah bagi siapa pun.Bagi penguasa di pusat maupun daerah akan terus didemo para karyawan yang dipecat. DPR maupun DPRD juga demikian. Mereka diminta memperjuangkan suara para pekerja yang dulu telah memilihnya.

Bagi pemilik perusahaan juga pusing, sudah usaha tidak jalan (bangkrut), bayar pesangon yang akan menguras keuangan perusahaan, masih didemo lagi. Buat pekerja tak kalah menghabiskan energi. Di tengah kondisi yang serbasulit harus kehilangan pekerjaan. Kehilangan sumber penghidupan untuk menafkahi keluarganya.

Ditambah kadang masih harus demo menuntut pesangon yang tentunya memerlukan biaya dan menguras energi. Begitu banyak energi yang terbuang. Keadaan seperti ini merupakan saat yang tepat untuk ”menjual” Indonesia.Tahun 2008 ini turis yang datang ke Indonesia sekitar lima juta orang saja, tak sampai enam juta. Angka ini sama dari tahun ke tahun.

Tidak ada peningkatan yang signifikan. Entah tidak tahu apa penyebab wisatawan yang berkunjung di negeri Zamrud Khatulistiwa ini tak kunjung meningkat. Dan tak perlulah kita menyalahkan aparat pemerintah yang berwenang.Namun kalau memberikan masukan dan ide boleh kan?

*** Kondisi krisis ini bisa menjadi peluang yang menjanjikan buat Indonesia sebagai destinasi wisata. Ada beberapa faktor eksternal yang menguntungkan dunia pariwisata Indonesia. Pertama, dunia secara umum mengalami krisis.Para wisatawan dari Timur Tengah atau kawasan Asia yang tadinya menjadikan Amerika Serikat dan Eropa sebagai tujuan wisata bisa saja berpikir ulang karena faktor jarak dan biaya yang lebih mahal. Sementara Indonesia punya segalanya, pemandangan, kekayaan budaya, dan mudahnya mendapatkan barangbarang murah yang berkualitas.

Kedua,keadaan di India yang tidak aman.Dengan mudahnya para teroris menguasai Mumbai dan menghabisi wisatawan asing yang menginap di Hotel Oberoi, salah satu hotel termewah di India.Meski kejadiannya di Mumbai, namun dampak terornya bisa saja menyebar di seluruh destinasi wisata di India. India, yang sebelum teror Mumbai menjadi salah satu destinasi wisata dunia, kini pasti akan banyak mengalami penurunan jumlah wisata yang berkunjung ke sana.

Ketiga, kondisi di Negeri Gajah Putih yang tidak kondusif.Lebih dari tiga ratus ribu wisatawan asing tertahan di Bandara Suvarnabhumi karena diblokade pengunjuk rasa yang menuntut Perdana Menteri Somchai Wongsawat mundur.Walau sekarang dia sudah mundur, tidak serta-merta kondisi Thailand membaik karena penentuan perdana menteri berikutnya tidak akan mulus begitu saja.

Yang pro dengan Somchai pasti juga tak rela. Di saat wisatawan tertahan di bandara ingin meninggalkan Thailand yang jumlahnya lebih dari 300 ribuan orang, setidaknya lebih dari satu juta orang Thailand terganggu mata pencariannya karena mereka bergantung pada sektor pariwisata. Belum lagi pekebun anggrek yang tidak bisa menjual anggreknya ke mancanegara karena tidak adanya penerbangan keluar negeri. Keempat, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar.

Tentu ini akan mengguntungkan wisatawan asing. Karena mata uangnya bernilai lebih.Dengan uang yang sama mereka bisa membelanjakannya di Indonesia untuk barang atau jasa yang lebih banyak dan berkualitas. Ini adalah peluang buat Indonesia untuk menggantikan Thailand dan India sebagai destinasi wisata dunia.

Kita semua tahu dan sepakat, destinasi wisata Indonesia tak kurang dan tak kalah indahnya dibanding kedua negara tersebut.Kondisi politik juga relatif lebih stabil dibanding kedua negara tersebut. Ditambah lagi masyarakat yang ramah (mudah-mudahan keramah-tamahan bangsa ini masih tetap kuat).

*** Dengan segala nilai lebih itu, tak ada alasan buat kita untuk tidak ”menjual”Indonesia.Semua dari kita harus menjadi duta wisata. Jangan segan-segan untuk mempromosikan Indonesia di mana saja.

Kedutaan Indonesia di luar negeri bisa berperan lebih aktif lagi.Bukan tidak mungkin kalau pemerintah membebani para duta besar dengan target. Target untuk mendatangkan sebanyak-banyaknya wisatawan dari negara tempat mereka bertugas. Meski mengurus politik bilateral adalah tugas utama, namun kemampuan mendatangkan wisatawan ke Indonesia bisa menjadi salah satu poin untuk menilai keberhasilan tugas mereka.

Jadi jabatan duta besar tidak terbatas sebagai jabatan politis, tapi juga bisa berperan sebagai seorang marketer yang ”menjual”Indonesia. Dengan adanya kemajuan teknologi, perbuatan ”menjual” Indonesia bisa lebih mudah. Bisa dilakukan setiap warga negara ini. Kita bisa memanfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan Indonesia.

Atau bagi yang suka melakukan perjalanan wisata di daerah-daerah cantik di negeri ini, bisa juga mempost video dan foto objek wisata di Youtubeatau Flickr. Kita jual Indonesia dengan caracara sederhana yang kita bisa.Saat ini juga.

Mudah-mudahan apabila semua kita ”menjual” Indonesia, dampak krisis bisa sedikit tertanggulangi karena datangnya para wisatawan mancanegara ke Indonesia akan menggairahkan sektor industri wisata yang juga banyak menyerap tenaga kerja dan menghidupkan perekonomian di daerah sekitar destinasi wisata. Saatnya buat kita untuk menjelajah, mengenal, dan menjual wisata Indonesia. Karena hidup adalah perbuatan, mari melakukan perbuatan ”menjual” Indonesia.(*)

Soetrisno Bachir
Ketua Umum Partai Amanat Nasional
Sumber Sindo, 10 Desember 2008

Resensi Buku: Kepemimpinan SBY di Mata Dino

Oleh Budi Setiawanto

Jakarta (ANTARA News) - Wimar Witoelar pernah menulis buku "No Regret" berisi kesan-kesannya selaku Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid.

Kini giliran Dino Patti Djalal menulis buku "Harus Bisa! Seni Memimpin a la SBY" juga berisi kesan-kesannya selaku Juru Bicara Presiden mengenai gaya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kedua buku itu mengungkap pencitraan figur Presiden dari kaca mata penulisnya.

Wimar menyebut Abdurrahman Wahid sebagai "the greatest man" (orang termasyhur), Dino menyebut SBY sebagai atasan, sahabat, dan mentor yang tidak ada bandingannya.

Bedanya, Wimar menulis tatkala Gus Dur alias Abdurrahman Wahid telah lengser, sedangkan Dino menulis buku itu saat SBY masih berkuasa. Buku Wimar ditulis dalam bahasa Inggris, buku Dino dalam bahasa Indonesia.

Buku Dino lebih detil dalam penulisan karena ditulis berdasar catatan harian selama mendampingi SBY meskipun tak bisa ditemui hal-hal yang berisi ketidaksetujuan penulis terhadap SBY apalagi kritik penulis terhadap kekurangan SBY.

Padahal SBY telah berpesan, "Dino, kalau engkau ingin menulis tentang apa yang saya pikir dan lakukan, tulislah secara obyektif. Ceritakan tentang kebenaran, say what I do, what I have done. Itu abadi, Din."

Dino hanya mengatakan, "Buku ini saya tulis dengan hati nurani yang bersih."

Sebenarnya ada "ketidaksetujuan" Dino ketika SBY memutuskan akan langsung ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dari Jayapura tatkala mendengar kabar terjadi gempa dan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004.

Saat itu mereka dan rombongan sedang berada di Bumi Cenderawasih untuk menghadiri perayaan Natal.

Dino menyarankan SBY ke Jakarta terlebih dahulu dengan pertimbangan antara lain kondisi korban dan kerusakan di Aceh masih belum jelas dan kedatangan di Jakarta bisa memberi waktu untuk mempersiapkan kunjungan ke Aceh yang lebih matang.

Namun Dino tak berani menunjukkan ketidaksetujuannya secara langsung ke SBY. Ia ungkapkan hal itu pada halaman 4 dengan kalimat "Jujurnya, malam itu saya masih bertanya dalam hati apakah kepergian Presiden ke Aceh merupakan keputusan yang tepat."

Alhasil Dino berujar, "Keputusan Presiden SBY untuk segera `maju ke depan` dan tiba di Aceh pada hari kedua setelah tsunami adalah keputusan yang tepat dan sangat strategis bagi proses pembuatan kebijakan pemerintah setelahnya." (halaman 6).

Sebaliknya Dino mengkritisi Amien Rais yang juga telah berada di Aceh tetapi tidak merespon tawaran SBY saat rapat darurat bersama di Pendopo Gubernur Aceh untuk memberi komentar, tambahan, atau usulan penanganan bencana dahsyat itu.

"Beliau justru memilih mengeluarkan kritik pedas di luar melalui media, ketimbang memberi usulan konstruktif dalam rapat bersama seluruh pejabat," tulis Dino tentang Amien Rais dalam buku yang diterbitkan oleh "Red & White Publishing" itu.

"Saya dulu kebetulan juga pengagum Amien Rais namun dari peristiwa itu ada satu pelajaran penting yang saya petik untuk para pemimpin masa depan: ada masanya di mana semua pemimpin bangsa harus dapat melupakan ego politiknya dan bahu-membahu bersatu menangani suatu krisis nasional."(halaman 8).

Buku setebal 437 halaman plus 18 halaman untuk lembar dedikasi, kata pengantar, dan daftar isi ini berisi penilaian Dino tentang kepemimpinan SBY.

Dalam Bab I bertajuk "Memimpin Dalam Krisis", dari bencana Aceh, Dino menyimpulkan kepemimpinan SBY sangat tepat karena dalam krisis selalu berada di depan dan mengubah krisis menjadi peluang tercipta perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dari kasus penculikan wartawan Metro TV oleh gerilyawan Irak, Dino menilai SBY merespon masalah secara "realtime" (seketika), ketika menaikkan harga BBM pada 2005 Dino menilai SBY pemimpin yang berani mengambil risiko, saat prihatin atas penculikan bocah berusia 5 tahun bernama Raisya, SBY dinilai Dino sebagai pemimpin yang melakukan hal tepat.

Bab II bertajuk "Memimpin Dalam Perubahan" berisi penilaian Dino tentang kepemimpinan SBY dalam birokrasi. Dino menilai SBY sebagai pendobrak birokrasi.

"SBY tahu sekali bahwa birokrasi tidak akan mengubah dirinya sendiri kecuali mulai diubah oleh pimpinan politik," tulis Dino pada halaman 78.

SBY juga dinilai sebagai pemimpin yang bisa melakukan transformasi diri. Menurut Dino, sejak SBY dilantik menjadi Presiden pada Oktober 2004 ada empat transformasi diri yang dilakukan yakni menjadi seorang ekonom, menjadi "crisis leader", mendudukkan diri di atas kepentingan golongan (above politics), dan menjadi negarawan internasional.

Pendek kata, menurut Dino, SBY telah memaksa diri dan dipaksa situasi untuk menggali kemampuan baru sekaligus meningkatkan kapasitas kepemimpinannya.


"SBY Tidak"

Bab III bertajuk "Memimpin Rakyat dan Menghadapi Tantangan" menggambarkan kepemimpinan SBY yang merakyat dan penuh ketulusan hati.

Dino memperhatikan ada teknik SBY yang baik disimak oleh calon pemimpin.

Kalau SBY menjabat tangan seseorang maka untuk dua atau tiga detik itu perhatiannya akan terfokus hanya pada orang di depannya: tangannya diremas erat, matanya menatap bola mata orang itu, dan senyumnya diarahkan hanya pada orang itu.

SBY seolah-olah mengatakan kepada orang yang disapanya, "Di sini, detik ini, hanya ada saya dan kamu."

"Hal ini penting karena bagi saya tidak ada yang lebih menyebalkan daripada menjabat tangan seseorang yang matanya menerawang pada orang lain," tulis Dino pada halaman 153.

SBY juga digambarkan Dino sebagai pemimpin yang ingin langsung mendapat masukan dari rakyat untuk mewujudkan demokrasi langsung.

Contoh yang tampilkan adalah ketika dialog SBY dengan para petani di Waduk Jatiluhur pada 11 Juni 2005.

Pada acara itu SBY memberi nomor telepon genggamnya (0811109949, buku Dino tidak menyebutkan nomornya) yang bisa dihubungi 24 jam sehari.

Akibatnya, nomor telepon SBY itu mengalami gangguan karena tak mampu menampung banyaknya orang yang mengirim pesan melalui layanan pesan singkat (SMS).

Hal terpenting dalam Bab III itu adalah kesan Dino bahwa SBY merupakan pemimpin yang konsisten menjaga warna politiknya dan menjunjung tinggi etika politik.

"Yang lain bisa saja berpolitik kotor: SBY tidak. Yang lain bisa menyebarkan isu bohong melalui SMS atau fitnah keji melalui media: SBY tidak. Yang lain bisa bermain politik uang: SBY tidak. Yang lain bisa kampanye hitam: SBY tidak. Yang lain bisa melancarkan politik penghancuran: SBY tidak. Yang lain bisa menyebarkan selebaran gelap: SBY tidak. Yang lain bisa menghalalkan segala cara untuk kekuasaan: SBY tidak." (halaman 178).

Sejumlah penebar fitnah disebut seperti Eggi Sudjana dan Zaenal Ma`arif tetapi terhadap salah seorang mantan petinggi TNI Dino hanya berani menyebut "Jenderal X".

Dino pun menjadi tahu perilaku standar dari penebar fitnah. Pertama, mereka melontarkan fitnah biasanya dengan cara bombastis dan sikap penuh keyakinan. Kedua, mereka dengan keras kepala mengancam membeberkan bukti-bukti untuk mendukung fitnah itu. Ketiga, setelah proses hukum berjalan mereka meminta maaf dengan segala kerendahan hati kepada orang yang difitnah agar terhindar dari bui.

Dari kasus tersebut, Dino menggambarkan bahwa SBY merupakan pemimpin yang pemaaf, tiada dendam.

Surat balasan SBY atas permohonan maaf dari Zaenal Ma`arif pun tertera pada halaman 211-214 buku ini. Surat balasan itu ditulis sendiri oleh SBY dan orang yang membacanya akan melihat dengan jelas akhlak dari SBY, kata Dino.

Bab IV bertajuk "Memimpin Tim dan Membuat Keputusan" memaparkan gaya kepemimpinan SBY yang sangat mementingkan kekompakan kabinet karena banyak menteri yang berasal dari partai politik. SBY selalu menegaskan bahwa selama menjadi menteri maka loyalitas adalah kepada Presiden dan Pemerintah.

Namun kenyataan mencatat bahwa SBY beberapa kali merombak kabinet dengan beragam alasan yang intinya menunjukkan bahwa kekompakan kabinet merupakan salah satu kerikil pemerintahan SBY.

Pada bab ini pula digambarkan bahwa SBY membela juru bicara Andi Mallarangeng atas desakan pimpinan DPR agar jangan terlalu banyak berkomentar dan Dino yang disebut-sebut sebagai agen asing.

Atas tudingan sebagai agen asing, Dino pada halaman 225 menulis, "Saya sudah mengabdi untuk Republik selama 20 tahun lebih dan saya lahir dari keluarga Pegawai Negeri yang nasionalis. Jadi bisa anda bayangkan betapa gregetnya perasaan saya mendengar celotehan `edan` seperti itu."

Dalam pengambilan keputusan, Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut SBY sebagai figur peragu, lambat, dan tidak "decisive" (tegas).

Dalam ilmu manajemen ada istilah "thinking on your feet" atau orang yang dapat berpikir sambil berdiri. Bagi Dino, SBY melakukan lebih dari itu: beliau bisa "deciding on the run" atau mengambil keputusan sambil berlari.

Judul buku ini diambil dari subbab bertajuk "Harus Bisa!" dalam Bab IV. Dalam menghadapi setiap situasi, SBY selalu mengatakan kepada pembantunya,"Harus Bisa!".

"Beliau paling tidak suka kalau ada pembantunya yang sudah kalah atau jatuh mental sebelum bertarung. Berkali-kali SBY menyatakan dalam pidato publiknya: Kita jangan menjadi bangsa yang cengeng dan manja," tulis Dino pada halaman 254.

Pada Bab V bertajuk "Memimpin Di Pentas Dunia", Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin nasionalis dan internasionalis.

"Sebagai diplomat profesional, saya berpendapat bahwa SBY adalah salah satu `foreign policy President" terbaik selama ini," tulis Dino pada halaman 284-285. "Foreign policy President" merupakan istilah diplomasi tentang tipe Presiden yang mempunyai perhatian besar pada dunia internasional dan memegang kendali diplomasi.

Selain sebagai sosok nasional dan internasionalis, pada bab ini Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang menyentuh hati dan menyembuhkan luka, percaya diri dalam mengambil sikap, peka terhadap situasi, menanam dan memanfaatkan "political capital" dalam diplomasi, mengukir sejarah diplomasi, dan menggagas ide melahirkan inovasi.

Pada bab VI bertajuk "Memimpin Diri Sendiri", Dino menggambarkan SBY sebagai pemimpin yang menghormati ketepatan waktu, menjadi diri sendiri, pemimpin yang tidak mendewasakan kekuasaan, dan pemimpin bermental tangguh.

Bila Wimar tak ada penyesalan menjadi juru bicara Gus Dur, Dino tentu saja sangat bangga menjadi juru bicara seorang Presiden yang ia gambarkan sangat perfeksionis.

"Saya sering merasa seperti kuda lumping yang mengejar kuda balap," tulis Dino dalam epilog.

Banyak pernyataan SBY dan cerita menarik yang belum diberitakan sebelumnya dapat disimak dalam buku yang dihiasi parade ratusan foto kegiatan SBY.

Dalam pengabdian kepada SBY, Dino menulis bahwa yang ada hanyalah kehormatan dicampur kecemasan apakah telah memberikan yang terbaik kalau tiba masanya meninggalkan Istana. (*)

Sumber www.jawapos.co.id

Membangun Rumah Kebahagiaan

Tempo hari saya berkirim SMS ke Arvan Pradiansyah, penulis buku The 7 Laws of Happiness, karena sejak awal saya sangat menyukai tulisan-tulisannya. Buku pertamanya You Are a Leader (2003), lalu kedua Life is Beautiful (2004), dan buku ketiga Cherish Every Moment (2007). Semua bukunya begitu memesona dan menjadi best seller di pasar. Hadirnya buku The 7 Laws of Happiness (2008) semakin mempertebal positioning Arvan sebagai penulis buku-buku laris dan bermutu di bidang pengembangan diri.

Ada ungkapan bijak dari Dave Gardner: ''Success is getting what you want, happiness is wanting what you get.'' Ungkapan sederhana ini menunjukkan bahwa kesuksesan berbeda dengan kebahagiaan. Jika kita amati secara seksama, sudah begitu banyak buku-buku yang mengupas dan menjelaskan bagaimana cara menjadi orang sukses. Sukses di sini identik dengan pencapaian sesuatu (sifatnya material-kuantitatif). Namun, masih banyak yang belum menyadari bahwa kesuksesan tersebut ternyata tidak identik dengan kebahagiaan (happiness). Karena yang terakhir ini lebih bersifat spiritual-kualitatif.

Kebahagiaan memang intangible dan bersifat relatif tergantung dari sudut mana orang melihat. Perumpamaan pengendara mobil mewah melihat penarik becak dengan enak bisa tidur pulas tanpa masalah setelah bekerja. Sedangkan dirinya yang bermobil mewah tak bisa menikmati tidur pulas karena terbebani banyak masalah. Ini setidaknya mengartikulasikan relativitas kebahagiaan itu. Boleh jadi si penarik becak juga akan beranggapan sama bahwa enak sekali si pengendara mobil mewah, ke mana-mana ada yang melayani, sampai membuka pintu mobil saja ada yang membukakan.

Melalui buku The 7 Laws of Happiness ini, Arvan menunjukkan kepada kita bahwa sifat relatif dari kebahagiaan itu dikendalikan oleh pikiran. Arvan menjelaskan bahwa menjaga pikiran adalah kunci dari kebahagiaan (hlm. 35-39). Jika Anda ingin bahagia maka jagalah pikiran agar tetap berpikiran positif terhadap segala sesuatu. Karena itu, otak yang menjadi alat (tool) pikiran harus senantiasa dipelihara agar tetap sehat dalam operasionalnya. Bagaimana caranya? Anda bisa baca selengkapnya di halaman 40-60 buku ini.

Sejatinya, cara membaca buku ini tidaklah sulit. Meski tergolong buku tebal (jika dibandingkan dengan buku-buku Arvan sebelumnya), tapi kerangka teori buku ini sudah sangat jelas disampaikan sejak awal. Inilah kelebihan Arvan dibanding penulis-penulis buku pengembangan diri lainnya. Bangunan teori (meski di pengantar Arvan membantah bukan buku teori) yang disampaikan penulis buku memberikan pesan bahwa ada tujuh pikiran yang mesti kita pilih untuk mengantarkan kita pada ruang kebahagiaan.

Tiga pikiran pertama terkait dengan diri kita sendiri yaitu sabar (patience), syukur (gratefulness), dan sederhana (simplicity). Tiga pikiran kedua berkaitan hubungan kita dengan orang lain yaitu kasih (love), memberi (giving), dan memaafkan (forgiving). Satu pikiran terakhir yang menjadi puncak adalah berkaitan hubungan kita dengan sang Pencipta yaitu berserah (surrender).

Arvan mengakui bahwa bangunan teori praktis yang ditulis di buku ini bukanlah sesuatu yang baru. Jika kita membaca bukunya yang kedua yang menjadi best seller yaitu Life is Beautiful, konsep tentang kesabaran, bersyukur, rela memaafkan, pasrah, ikhlas, dan sebagainya sudah pernah dibahas. Hanya, bedanya di buku Life is Beautiful konsepnya masih berserakan. Nah, di buku The 7 Laws of Happiness konsep-konsep luhur nan agung tersebut dikumpulkan agar terbentuk bangunan konsep teori yang utuh, mudah diingat, dan ada tahap-tahapannya. Dengan begitu penerapannya mudah dilakukan (aplicable) oleh siapa saja.

Di tengah dominasi kultur masyarakat yang serba instan saat ini, membangun rumah kebahagiaan bagi saya bukanlah sesuatu yang mudah. Sabar yang menjadi fondasi utama bangunan bagi kebanyakan orang masih terasa sulit. Orang yang sabar terkesan lambat meski esensinya tidak. Karena jika kita bersabar maka kebahagiaan terasa mudah dirasakan. Sabar di sini saya maknai sebagai sikap proaktif mengendalikan emosi dan nafsu untuk tujuan sesaat.

Arvan menempatkan sabar sebagai fondasi dan pasrah sebagai plafon bangunan bukan tanpa alasan. Bagi saya, dua jalan itulah yang menjadi intisari jika kita mau memeras saripati buku ini. Jika sabar sudah mewujud dalam perilaku maka hanya kepasrahanlah tempat mengembalikan segala masalah. Karena itu, sabar dan pasrah bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Hadirnya buku ini akan semakin mempertebal keyakinan kita bahwa sejatinya yang dicari dalam hidup bukanlah kesuksesan namun lebih pada kebahagiaan yang abadi. Bukankah agama juga mengajarkan pada kita berdoa agar senantiasa hidup dalam kebahagiaan (fiddunyaa hasanah) dan mati pun juga dalam kebahagiaan (aakhiroti hasanah)? (*)

---

Judul Buku : The 7 Laws of Happiness; Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia

Penulis : Arvan Pradiansyah

Penerbit : Kaifa, Bandung

Cetakan : I, September 2008

Tebal : 423 halaman

---

Abdul Muid Badrun, Entrepreneur dan Associates Researcher Circle of Information and Development (CID) Jakarta

Berhaji Bersama Nabi

Khudzuu 'anny manasikakum! Berhajilah kalian dengan tuntunan haji yang telah aku ajarkan! Demikianlah anjuran Rasulullah dalam salah satu haditsnya.

Hanya ada dua orang sahabat yang dibonceng menunggangi unta oleh Rasulullah saat beliau melakukan rangkaian ibadah haji. Keduanya adalah Usamah bin Zaid dan Fadhl bin Abbas. Nabi kerap membonceng mereka secara bergantian. Dengan cara ini Nabi hendak mengajari para sahabat yang lain tata cara melakukan ritual haji (manasik) melalui Usamah dan Fadhl. Kedua orang ini kemudian menjadi rujukan para sahabat yang ikut dalam rombongan haji Nabi. Hal ini bisa dimaklumi, karena kafilah haji Nabi kala itu diikuti oleh massa yang sangat banyak, sekitar 120.000 orang. Dengan demikian, dapat dimengerti jika harus ada ''asisten'' yang bisa membantu Nabi memberikan penjelasan kepada umat.

Perjalanan haji yang dilakukan Nabi beserta rombongan adalah sebuah ekspedisi yang cukup berat dan melelahkan. Yakni perjalanan darat dari Madinah menuju Makkah yang berjarak tak kurang dari 497 kilometer. Padahal hanya menunggang unta dan sebagian berjalan kaki. Mereka harus melewati padang gurun serta berbukitan yang tandus dan gersang. Wajar jika rombongan Nabi beberapa kali berhenti untuk bermalam dan berisitirahat di sejumlah tempat yang dilalui sebelum tiba di Makkah.

Beberapa daerah yang menjadi tempat persinggahan Nabi di antaranya Dzul Hulaifah, Suqya, Abwa', Juhfah, Sarif, serta Ghadir Khumm. Nama terakhir itu adalah tempat di mana Rasulullah mengumpulkan para sahabat sepulang dari menunaikan haji untuk membeberkan keistimewaan yang dimiliki Sayyidina Ali, sahabat dekat sekaligus menantu Nabi. Bagi kaum Syiah, peristiwa Ghadir Khumm ini kemudian dicatat sebagai monumen pembaiatan Ali. Yang menarik, rute yang dilalui rombongan Nabi waktu berangkat haji tidak berbeda dengan jalur yang dilewati ketika pulang ke Madinah.

Buku karya O. Hashem ini sangat detail dan lengkap merekam perjalanan haji Rasulullah. Dicetak dengan ukuran yang unik, yakni berbentuk persegi empat dengan sampul hard cover, penulis melengkapi sajian tulisannya dengan hiasan aneka foto dan sketsa pendukung yang membuat buku ini menarik dan tidak melelahkan saat dibaca.

Secara garis besar, kronologi perjalanan haji Nabi bisa disimpulkan dalam beberapa bagian penting. Pada 24 Dzulqa'dah tahun 10 Hijriyah bertepatan 21 Februari 622 M, nabi memimpin keberangkatan rombongan besar dari Madinah menuju Makkah. Pada 4 Dzulhijjah Nabi dan kafilah tiba di Makkah. Artinya, perjalanan itu ditempuh dalam waktu 10 hari.

Setibanya di Makkah mereka langsung melakukan thawaf qudum sebagai pertanda kedatangan. Beragam praktik ibadah sunnah (termasuk umrah) dilakukan Nabi sebelum memasuki masa puncak haji, yakni 8 sampai 13 Dzulhijjah.

Rangkaian prosesi haji pun selesai pada 13 Dzulhijjah. Nabi dan rombongan lalu berpamitan dengan cara melakukan thawaf perpisahan sebelum kembali ke Madinah. Tidak lama setelah itu, 124 hari dari keberangkatan haji awal itu atau tepat 12 Rabiul Awal 11 H, Nabi meninggal dunia. Wafatnya utusan Allah paling mulia ini memberikan dampak sosiologis yang cukup besar dan berpengaruh pada kehidupan masyarakat muslim, lebih-lebih yang berada di Madinah. Namun, Abu Bakar kemudian dapat menyadarkan umat Islam bahwa Muhammad juga manusia yang pada akhirnya harus menghadap Zat yang menciptakannya. Beruntung, sebelum wafat Nabi masih sempat mengajarkan manasik haji kepada para sahabat. Muhammad meninggal dunia ketika ajaran-ajarannya telah disampaikan dengan sempurna.

Di samping mengulas tentang sejarah manasik haji, buku ini secara utuh juga menggambarkan sosok Nabi Muhammad, tokoh panutan dan makhluk istimewa di mata Allah. Muhammad adalah pribadi yang sangat bersahaja. Pola hidupnya tak jauh dari keseharian masyarakat Arab yang rata-rata miskin. Beliau menisik bajunya sendiri, mendandani sandal, menimba air, mencuci pakaian, memerah susu kambing, serta menggembala ternak dengan mengambil upah pada saudagar Arab. Makanan kesehariannya hanyalah gandum, kurma, dan bahkan seringkali berpuasa karena memang tidak ada makanan yang hari itu bisa disediakan keluarganya.

Oleh karena itu, dalam karyanya Histoire de la Turque, peneliti asal Prancis, Lamartine, pernah mengungkapkan, ''Kalau kebenaran tujuan, kecilnya alat yang dipakai, serta besarnya hasil yang dicapai, merupakan ukuran kebesaran seorang manusia, maka adakah orang yang lebih besar dari Muhammad?'' Kesimpulan Lamartine ini sekaligus menepis tudingan sinis dari para orientalis Barat yang kerap mengejek Muhammad dan memandangnya secara negatif.

Ada beberapa catatan penting yang kita petik setelah membaca sejarah yang terjadi empat belas abad silam itu. Pertama, literatur yang komprehensif mengupas seputar haji ala Rasulullah, ternyata cukup langka ditemukan. Hampir tidak ada referensi haji yang bercerita secara kronologis, rinci, dan lengkap mengenai kisah perjalanan haji Nabi Muhammad. Kedua, ritual tahunan ini hanya wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu dari segi biaya (finansial, mental, dan sosial). Ketiga, Nabi hanya memerintahkan umat mengikuti caranya berhaji. Keempat, ternyata Nabi hanya berhaji sekali seumur hidupnya.

Buku ini dengan jernih menjelaskan bagaimana Rasul menunaikan sekaligus mengajarkan tata cara ibadah haji dengan jalan menapaktilasi rute haji yang telah dilalui para Nabi sebelumnya (thariqul anbiya'). Mulai dari persiapan yang dilakukan, cara manasik, apa yg dilaksanakan Rasul di sela-sela melakukan haji, bagaimana beliau melakukan wisata religi, di mana saja tempat-tempat yang memiliki warisan nilai sejarah, bagaimana mengakhiri prosesi haji, apa saja peristiwa yang terjadi setelah pulang dari haji, sampai pada detik-detik terakhir menjelang wafatnya junjungan agung kaum muslimin itu. Mungkin akan lebih seru dan menarik jika buku ini juga dicetak versi gambar grafisnya atau dalam bentuk komik. (*)

---

Judul Buku : Berhaji Mengikuti Jalur para Nabi

Penulis : O. Hashem

Penerbit : Mizan, Bandung

Cetakan : I, Agustus 2008

Tebal : 251 Halaman

Sumber Jawapos, 7 Desember 2008

Klab Baca Para Mbah

Klab Baca Para Mbah
Jika bertemu dengan Sigit Susanto, penulis buku Menyusuri Lorong-lorong Dunia (1&2), mintalah ia berkisah lagi tentang Klab Baca Yayasan James Joyce di kota Zurich, Switzerland, yang beberapa kali ia ikuti. Klab baca ini unik oleh dua hal: peserta dan prosedur mereka membaca buku.

Nyaris semua peserta klab adalah orang-orang ''magriban'' yang sisa hidup mestinya mereka pakai untuk memperbanyak doa. Masing-masing orang tua ini dengan khusyuk memangku buku babon karya James Joyce yang berjudul Ulysses. Ada yang membawanya dari rumah, tapi bagi yang tak punya atau tertinggal langsung saja mengambilnya dari rak yang tersedia dalam ruangan. Saya tak tahu pasti apa yang ada di pikiran orang-orang tua itu berhadapan dengan buku bantal tersebut. Mungkin disamakan dengan kitab suci dan karena itu diperlakukan layaknya benda sakral.

Ke-23 anggota klab itu dipandu seseorang yang juga tak kalah tuanya. Namanya Fritz Senn, seorang pegawai pengairan. Lantaran kegilaan pada karya-karya Joyce ia dibaptis oleh dunia sebagai joycean dan menjadi alamat pertanyaan bagi siapa pun yang ingin tahu tentang Joyce dan karya-karyanya. Atas kegilaan ini, ia diganjar anugerah: 3 kali menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Koln, Zurich, dan Dublin.

Senn inilah yang menjadi pemandu membaca buku Ulysses setebal bantal itu. Setiap pekan, secara reguler, diperlukan waktu 1.5 jam. Tentu tak digilir satu per satu membacanya. Sang ''imam'' memutarkan CD yang berisi rekaman bacaan atas buku itu. Kurang lebih tiga halaman. Yang lain menyimak, seperti mendengarkan doa keselamatan dari dunia lain. Setelah itu dipersilakan peserta bertanya apa saja yang berhubungan dengan teks yang dibacakan tadi. Lalu bubar.

Yang membuat Sigit Susanto tersentak adalah, kelas membaca Ulysses ini sudah berlangsung, allamak, 3 tahun. Itu pun belum rampung. Jadi sudah 3 tahun setiap pekan orang-orang tua itu datang, duduk tenang menyimak, lantas pulang. Mereka --membaca lambat seperti siput-- barangkali ingin menghikmati dan menapaktilasi bagaimana buku itu ditulis Joyce dengan menghabiskan waktu selama 8 tahun.

Dan, membaca sampai 3 tahun lamanya satu buku jangan harapkan bisa dilakukan anak-anak muda yang suka mengambil jalan pintas menyelesaikan sesuatu. Itu hanya bisa terjadi oleh penggila buku dan oleh mereka yang terperangkap-sadar dengan pamor yang dipancarkan penulis buku itu. Mungkin mereka menganggap Joyce adalah nabi yang mereka percaya bisa memberi ketenangan hidup di usia mereka yang sudah senja.

Kisah klab baca Joyce itu adalah kisah bagaimana orang-orang melakukan intimasi dengan buku dalam sebuah prosedur yang disepakati. Jika bukan tradisi panjang bergelut dengan buku, pastilah orang-orang itu tak mau berpayah-payah membaca buku yang mereka tahu benar bahwa itu hanyalah reka-reka penulisnya saja, tapi anehnya mereka percaya seperti mereka percaya pada hisab masa depan yang dilakukan para penujum. Apalagi sampai menitip secara sukarela sebagian usianya untuk melahap sebuah buku dengan cara yang rada aneh.

Di Indonesia klab baca buku seperti yang dilakukan Yayasan James Joyce itu nyaris tak ada. Apalagi mengkaji sastra. Pernah ada satu klab baca di Bandung yang khusus membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Klab Baca Pramoedya namanya. Dikelola oleh Tobucil dan diikuti semua umur. Tapi, tampaknya klab baca ini mulai kehabisan darah dan perlahan masuk peti mati. Tapi mereka sudah meninggalkan tradisi baik.

Bukan klab baca itu yang membuat saya tertegun, melainkan apa yang setiap subuh saya lihat di sebuah langgar Muslimat NU dekat rumah kontrakan saya di Krapyak Jogja dan barangkali nyaris di semua pesantren yang bertebaran di seluruh Nusantara. Sekira subuh para mbah putri dan mbah kakung itu sudah berbondong-bondong ke langgar mendengarkan santiaji dari kiai, setelah sebelumnya didahului pembacaan doa-doa rutin yang jadi prosedur baku. Dan itu dilakukan saban minggu dengan jadwal berkumpul yang tetap.

Menurut saya, ini adalah klab baca tradisional yang spektakuler dan luar biasa tuanya dalam tradisi lisan di Indonesia. Aturan main dalam ''klab baca'' tak kalah didaktiknya dengan Klab Baca Joyce. Ada buku (kitab) yang dibaca. Jika Klab Baca Joyce menggunakan dua bahasa (teks berbahasa Jerman dan pengantar diskusi bahasa Inggris beraksen Irlandia), maka ''klab baca'' para mbah ini juga menggunakan dua bahasa (bahasa teks dari Arab, sementara penyampaiannya memakai bahasa Jawa yang diaduk dengan bahasa Indonesia).

Misalnya, sang kiai menyitir satu hadis dan satu ayat, lalu diterangkan serat-serat maknanya. Dibuka sesi pertanyaan. Lantas pulang. Dan akan kembali pekan berikutnya dengan melangkah ke hadis dan ayat berikutnya. Saya kira metode ''klab baca'' ini secara tak langsung tersusun tanpa sadar dari pengalaman mereka menanggap wayang yang umumnya lebih banyak mendengarkan ketimbang berbantahan sebagaimana kita saksikan dalam seminar-seminar adu kepintaran. Mereka kerap memperlakukan dan menempatkan buku (kitab) sebagai sumur kebenaran yang menuntun kepada ketenangan jiwa. Karena begitu sakralnya sebuah buku, maka memperlakukannya pun harus dengan cara-cara yang arkaik dan santun.

Mungkin klab baca para mbah itu terlalu rudin dan arkaik untuk kita praktikkan di era ketika tradisi membaca (buku) masih diperjuangkan oleh para penganutnya yang fanatik. Tapi jangan remehkan tradisi membaca gaya para mbah ini yang justru ditimba dari tradisi lisan yang berbaur dengan tradisi menonton (nanggap wayang).

Di titimangsa ini kita memang tak boleh menjadi terlalu fakir dan pasrah melahap metode dan prosedur yang bersifat liyan dari pengalaman autentik masyarakat jika kita tak ingin sebuah klab baca mati sejak langkah awal.

Klab baca para mbah itu bisa dijadikan contoh ihwal prosedur pembacaan (membaca sedikit demi sedikit dan barangkali juga sesekali diisi oleh musikalisasi teks); pilihan bacaan (misalnya membaca bersama Kitab Babad Tanah Djawi, Centhini, atau ratusan kitab sastra yang sudah menjadi klasik dan sekaligus ini usaha menghidupkan warisan budaya yang terkubur); cara memperlakukan bacaan (ini soal intimasi dan kemudahan akses bacaan jika anggota tak memilikinya); dan semangat mempertahankan konsistensi waktu yang tak lapuk diganyang usia. (*)

Muhidin M Dahlan, kerani di Indonesia Buku (I:BOEKOE) Jogjakarta
Sumber Jawa Pos, 7 Desember 2008

Presentasi 10 Besar Lomba Menulis Artikel 2008

Dewan Juri Lomba Menulis Artikel Pelajar 2008, setelah melakukan penilaian terhadap 103 naskah tingkat SD, 34 naskah tingkat SMP, dan 31 naskah tingkat SMA memutuskan 10 peserta dari masing-masing kategori untuk melakukan presentasi pada tanggal 18 Desember 2008 pukul 08.00 WIB di UPTD Perpustakaan Dinas P & K Kab. Sragen JL. Pemuda No. 1 Sragen

Tingkat SD
No Nama SD
1 Eriana Nugraheni SD N Katelan 1 Tangen
2 Yeni Winarti SD N Gringging 2 Sambungmacan
3 Umar Agus Wijayanto SD N Juwok 2 Sukodono
4 Isna Nurul Khasanah SD N Brojol 1 Miri
5 Desi Susilowati MIN Trobayan Kec. Kalijambe
6 Peni Lestianingsih SD N Keden 2 Kec. Kalijambe
7 Jessica Aurel Fatima L SD N Gemolong 4
8 Monita Kukuh Pisesa SD N Japoh 1 Jenar
9 Galuh Ramandani SD N Mojopuro 1
10 Anne Miriam RH SD Birrul Walidain Sragen

Tingkat SMP

No Nama SMP
1 Nisaul Azmi Hajar SMP N 1 Gemolong
2 Yani Dwi Pratiwi SMP N 1 Gemolong
3 Coirul Juwanah SMP N 1 Gesi
4 Mentari Ruhita Putri SMP N 1 Gesi
5 Imtiyaz Hanafiyah SMP MTA Gemolong
6 Rufidah Maulina SMP MTA Gemolong
7 Said Shidieq SMP Darul Ihsan Sragen
8 Tri Sulistyo SMP N 1 Gemolong
9 Henny Tri Nulatsih SMP N 1 Gesi
10 Lilik Riyanto MTS N 1 Gemolong

Tingkat SMA

No Nama SMA
1 Ririn Widiyastuti SMK Muhammadiyah 3 Gemolong
2 Hermawan Putro Sutrisno SMA N SBBS Gemolong
3 Sakti Mahardika SMA N SBBS Gemolong
4 Heryanto SMA PGRI 2 Gemolong
5 Yuli Tri Widiastuti SMA PGRI 2 Gemolong
6 Riza Nur Utami SMK N 1 Sragen
7 Desi Permatasari MAN 1 Sragen
8 Pangastuti Ayuning Tyas SMA N 3 Sragen
9 Ana Iswati SMK N 1 Sragen
10 Tedy Maulana SMA Muhammadiyah 1 Sragen

Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat

03 Desember 2008

Hasil Lomba Sinopsis Pelajar 2008

BERITA ACARA
PENILAIAN LOMBA SINOPSIS
TINGKAT KABUPATEN SRAGEN
TAHUN 2008
Nomor : 041/02/146/2008


Pada hari ini, Sabtu, 2 Desember 2008 di Sragen, Dewan Juri Lomba Sinopsis Tahun 2008 telah memutuskan pemenang lomba sinopsis, sebagai berikut :
I. Tingkat SD
No. Nama Sekolah Total Nilai Ket.
1 Gita Tri Utami SD N I Ngargotirto Sb. Lawang 92.0 Juara 1
2 Amanda Agus Miarsih SD N Karang Anom I Sukodono 90.7 Juara 2
3 Natalie Margaretha SD N Gondang 1 90.0 Juara 3
4 Tri Mardhiyah SD N Jetis Karangpung I Kalijambe 87.3 Harapan 1
5 Muh. Saifudin SD N Trobayan Kalijambe 87.0 Harapan 2
6 Upik Anisa Rahmawati SD N Jetis Karangpung I Kalijambe 86.7 Harapan 3
7 Pria Santi Rahayu. SD N Gringging 2 Sb.Macan 86.0
8 Narendra Wafa Rahmania SD N Puro 1 Kr.malang 86.0
9 Agita Tias Ayu Ningsari SD N Wonorejo I Kalijambe 83.7
10 Sintia Aprilia W. SD N Kalimacan Kalijambe 82.7
11 Umi Ermawati SD N Gebang I Sukodono 80.7
12 Sri Mulyani SD N Banyurip 1 Jenar 80.0
13 Adindra Maharsi Kusuma Astuti SD N Kristen Krida Wacana Srg 80.0
14 Radisha Maila Afifah SD N Sragen 2 80.0
15 Aprilia Eka Ayuningtyas SD N Saren 2 Kalijambe 79.7
16 Alma Permata Sari SD N Gabus 1 79.3
17 Viggi Ghosandi SD N Banaran I Kalijambe 79.0
18 Malikah Najibah SD N Gemolong 2 79.0
19 Nopta Ningrum Rohmah Tiara SD N Bendo 2 Sukodono 78.0
20 Hanifah Nuraini SD N 12 Sragen 77.7
21 Dwi Lestari SD N Majenang 2 Sukodono 77.0
22 Faishal Muhyiddin SD IT Az Zahra 77.0
23 Ananda Putri Anggita SD N Denanyar 1, Tangen 77.0
24 Syarifah Nur Laila SD N Ngandul I Sb. Lawang 76.7
25 Ni Ketut Puspita Setya Ningtyas SD Giri Margo I Miri 76.3
26 Ulul Albab Tiara SD N 19 Sragen 76.3
27 Mei Nurul Hidayah SD N Newung I Sukodono 76.0
28 Wahyu Dwi Romadlon MI N Banaran Kalijambe 76.0
29 Fifit Indriyantari SD N Gemolong 2 76.0
30 Putri Wulandari SD N Baleharjo 2 Sukodono 75.7
31 Diana Ayu Novitasari SD IT Az Zahra 75.7
32 Zulfa Latifah Nur’aini SD IT Az Zahra 75.7
33 Bella Jania Nur Rahma SD N 12 Sragen 75.0
34 Ratnawati Handayani SD N Bendo I Sukodono 75.0
35 Puji Lestari SD N Juwok I Sukodono 75.0
36 Salma Rachmanda Soegiarto SD N 12 Sragen 74.7
37 Ervina Kusumawati SD N Sambungmacan 1 74.7
38 Deta S SD N 19 Sragen 74.7
39 Ervina Juli Kusuma Wardani SD N Gabugan 1, Tanon 74.7
40 Erida Widya Charisma SD N 12 Sragen 74.3
41 Rahmatul Rahayu Ningrum SD N Brojol I Miri 74.3
42 Dewi Safitri SD N Tegal Ombo 2 Kalijambe 74.3
43 Bima Nugrahanto SD N Kr. Anyar 2 Sb. Macan 74.0
44 Tyas Bunga Kumala SD N Pringanom 1 74.0
45 Marzella Geovani Safitri SD N 17 Sragen 73.7
46 Nurul Khatimah SD N Denanyar 1, Tangen 73.7
47 Mahesa Putri Wahyuning Tyas SD N 12 Sragen 73.3
48 Yessi Ramadhani SD N Gemolong I 73.3
49 Yemima Kristian CT SD N 17 Sragen 73.3
50 Ardina Esa Annisa Adha SD N Kristen Krida Wacana Srg 72.7
51 Wela Ardha Permata Sari SD N Katelan I Tangen 72.7
52 Anik Meilinda SD N Soko 2 Miri 72.7
53 Zaky Jauhar Irfan SD IT Az Zahra 72.7
54 Dewi Rohmatullaili Robiah SD N Tangen I Gesi 72.7
55 Kristina Linda Sari SD Muh Sragen 72.7
56 Fransiska Sinta Devi M. SD N 3 Sragen 72.7
57 Khoiratun Jannah SD N Mondokan 1 72.7
58 Asri Eka Putri SD N Jati I Sb. Lawang 72.3
59 Zango Anisa Agni SD IT Az Zahra 72.3
60 Firstania Salsafira SD IT Az Zahra 72.3
61 Wayan Astin Hermawati SD N Gabus 1 72.3
62 Dinda Fitri Badriyah SD IT Az Zahra 72.0
63 Ilham Adil Saputra SD N Gabus 1 72.0
64 Erika SD Blimbing 1,Sambirejo 71.7
65 Della Oktaviani SD N 12 Sragen 71.3
66 Sidiq Ari Pamungkas SD N Bendo 3 Sukodono 71.0
67 Danan Aji Yuliyanto SD N Doyong I Miri 71.0
68 Tohari Catur Pamungkas SD N 3 Sragen 71.0
69 Rizky Dwi Jayanti SD N Banaran I Sb. Macan 70.7
70 Apriyanto Adi N SD Gemantar 1 70.7
71 Naza Rizka SD N 3 Sragen 70.3
72 Ivan Fadilah SD Pare 2 70.3
73 Dinar Apriani SD N 15 Sragen 70.3
74 Nurul Tri Lestari SD N Dawung 2 Jenar 70.0
75 Sri Rahayu SD N Gebang 3 Sukodono 70.0
76 Fathin G Bil Faqih SD Birul Walidain 69.7
77 Septa Intan SD N 19 Sragen 69.7
78 Ady Fauzy SD N Nglorog 1 69.7
79 Novi Dwi Riyanti SD Pare 1 69.7
80 Binar Kristi Lasika SD N 15 Sragen 69.7
81 Neni Komandi Setyowati SD N Kliwonan 3 69.7
82 Arif Setiawan SD N Gabus 1 69.3
83 Sarwindah SD N Sine 3 69.3
84 Kurniawan Dwi Saputra SD N 3 Sragen 69.3
85 Ayoga Dreda Pradipta SD N 3 Sragen 69.3
86 Azka Chilma Sayyida SD N 3 Sragen 69.3
87 Ilham Basit Saputra SD N 3 Sragen 69.3
88 Aris Satiti SD Gemantar 1 69.3
89 Deshandra Tutut Rahmania SD N 15 Sragen 69.3
90 Viky Dwi Agustina SD N Jirapan 3 69.3
91 Nabela Febrianti SD Tempelrejo 1 69.0
92 M. Ihsan Tri Wibowo SD Pare 2 69.0
93 Indah Kusuma Putri SD N 15 Sragen 69.0
94 Fahmi Ismail SD N Katelan I Tangen 68.3
95 Rafif HAnif Fawwazi SD IT Az Zahra 68.3
96 Rafi Al Muhasibi SD N Banaran 4 Sb. Macan 68.3
97 Linda Esti Damayanti SD N 5 Sragen 68.3
98 Anik Astuti SD N Gabus 2 68.0
99 Nazun Afifah SD N Sunggingan I 68.0
100 Qonik Listiana SD N Bagor 3 Miri 67.3
101 Abryanto Siliwangi SD N 3 Sragen 67.3
102 Rini Rahmawati SD Tempelrejo 1 67.0
103 Ria Ageng Pangastika SD N Tegaldowo 1 66.3
104 Salsabiela Praha Karima Reza SD N Banaran 4 Sb. Macan 66.3
105 Inayah Adityana Warsono SD N Gemolong I 66.3
106 Dinta Ainurrohim SD N Katelan I Tangen 66.0
107 Cesar Garin Satri SD N Doyong 2 Miri 66.0
108 Firda Rahmawati SD N I Geneng Miri 66.0
109 Dwi Puji Lestari SD N Kandangsapi 1 Jenar 65.7
110 Nadia Shafira Dahani SD N Katelan I Tangen 65.7
111 Widyaningsih SD N Peleman 2 65.7
112 Novi Rahayu SD N 8 Sragen 65.0
113 Desty Alvinda SD N 15 Sragen 64.0
114 Erlangga Ananta Yudha SD IT Az Zahra 63.7
115 Choirul Taufik Nur Rohmah H. SD N Banaran 4 Sb. Macan 63.7
116 Rizal Pratama SD N Pungsari 1 Plupuh 63.0
117 Muklis SD N Brojol 3 Miri 61.7
118 Azalia Nusita Valentino SD N 8 Sragen 61.7

II. Tingkat SMP
No. Nama Sekolah Total Ket.
1 Arifinanda Aulia Ardhi SMP N 1 Gemolong 94.0 Juara 1
2 Ariska Aditiara SMP N 1 Gemolong 92.3 Juara 2
3 Henny Tri Nulatsih SMP N 1 Gesi 85.0 Juara 3
4 Islami Sulistiowati SMP N 1 Gemolong 83.3 Harapan 1
5 Sari Trisnaningsih SMP N 1 Sragen 80.7 Harapan 2
6 Devie Argian Gustina SMP N 1 Gesi 76.7 Harapan 3
7 Venaswari Hanna Tyastiti SMP Darul Ihsan Muh 74.7
8 Laras Tanjung Pangesti SMP N 1 Gesi 74.3
9 Desi Asri Ani SMP 4 Sragen 73.7
10 Sarila Budi Wardani SMP N 1 Sambirejo 71.7
11 Agista Rizka R. SMP N 2 Sragen 71.7
12 Choirul Juwanah SMP N 1 Gesi 71.0
13 Tri Wahyu Ningsih SMP N 2 Sragen 71.0
14 Fawas Taufiq Abdullah SMP N 2 Sukodono 70.0
15 Anita Anjarsari SMP N 2 Sukodono 70.0
16 Ria Nainggolan SMP N 2 Sragen 70.0
17 Desti Siga Dewi SMP N 2 Sragen 70.0
18 Rudi Akir Saputro SMP N 1 Kedawung 69.7
19 Yashinta Novia Sari SMP N 2 Sragen 69.7
20 Tri Novita Sari SMP 4 Sragen 67.7

III. Tingkat SMA
No. Nama Sekolah Total Ket.
1 Khoirun nisak MAN 1 Sragen 86.3 Juara 1
2 Agus Prasetyo SMK N 2 Sragen 83.0 Juara 2
3 Eni Lukitowati SMK N 1 Sragen 82.0 Juara 3
4 Nuryani SMA N 3 Sragen 79.3 Harapan 1
5 Wahyu Sekti Retnaningsih SMA N 1 Gondang 79.0 Harapan 2
6 Wahyu Enggar Wati MAN 1 Sragen 77.7 Harapan 3
7 Hadid Cahyono SMA N 3 Sragen 77.3
8 Istinganah MAN 1 Sragen 77.3
9 Sri Supatmi MAN 1 Sragen 77.0
10 Dewi Khoiriyah MAN 1 Sragen 76.0
11 Rohmah S. MAN 1 Sragen 75.0
12 Ardila Puji Nugroho SMA N 3 Sragen 72.7
13 Sri Handayani SMK Sukawati Gemolong 72.3
14 Alfitra Setyawijaya SBBS Gemolong 72.0
15 Wisnu Muliawati MAN 1 Sragen 71.7
16 Taksus Monalisa Adistin SMA Muh 1 Sragen 71.0
17 Halimah SMA N 3 Sragen 71.0
18 Wulandari Nur Hidhayah SMA Muh 1 Sragen 70.3


Demikian Berita Acara Pemenang Lomba Sinopsis Tingkat Kabupaten Sragen Tahun 2008. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Sragen, 2 Desember 2008
Mengetahui, Dewan Juri
Kepala UPTD Perpustakaan
Dinas P & K Kab. Sragen 1. Romi Febriyanto Saputro, SIP.
(Ketua)

Sumanto, SH. MM
Penata Tk. 1 ……………………………………
NIP. 500 057 680 2. Indah Yudhi Perwitosari, SE.
(Juri I)


…………………………………..
3. Nur Istiqomah, A.Md.
(Juri II)


…………………………………..
4. Eka Rossita, ST.
(Juri III)


…………………………………..

01 Desember 2008

Pemenang Lomba Perpustakaan Sekolah 2008

BERITA ACARA
PENILAIAN LOMBA PERPUSTAKAAN SEKOLAH
TINGKAT KABUPATEN SRAGEN
TAHUN 2008


Pada hari ini, Sabtu, 29 November 2008 di Sragen, Dewan Juri Lomba Perpustakaan Sekolah Tahun 2008 telah memutuskan pemenang lomba perpustakaan sekolah, sebagai berikut :
I. Tingkat SD


1 SD N 5 Plumbungan Kec. Karangmalang; nilai; 950; Juara 1
2 SD N 1 Pilangsari Kec. Ngrampal ; nilai 930 Juara 2
3 SD N 2 Mojodoyong Kec. Kedawung ; nilai 890 Juara 3
4 SD N 2 Jetak Kec. Sidoharjo; nilai 870
5 SD N 1 Pilang Kec. Masaran ; nilai 850
6 SD N 1 Pungsari Kec. Plupuh ; nilai 830
7 SD N 1 Tegalombo Kec. Kalijambe ; nilai 810
8 SD Santo Fransiskus Kec. Sragen ; nilai 790
9 SD N 1 Jenar Kec. Jenar ; nilai 770
10 SD N 1 Gemolong Kec. Gemolong ; nilai 750
11 SD N 2 Toyoga Kec. Sambungmacan ; nilai 745
12 SD N 1 Gabugan Kec. Tanon ; nilai 740
13 SD N 1 Ngandul Kec. Sumberlawang ; nilai 735
14 SD N 1 Tunggul Kec. Gondang ; nilai 730
15 SD N 1 Dawung Kec. Mondokan ; nilai 725
16 SD N 1 Majenang Kec. Sukodono ; nilai 725
17 SD N 2 Blangu Kec. Gesi ; nilai 725
18 SD N 2 Sunggingan Kec.Miri ; nilai 725
19 SD N 1 Jetis Kec. Sambirejo ; nilai 725

2.Tingkat SMP


1 SMP N 1 Gemolong ; nilai 955 Juara 1
2 SMP N 5 Sragen ; nilai 930 Juara 2
3 SMP N 1 Sidoharjo 890 Juara 3
4 SMP N 1 Jenar ; nilai 870
5 SMP N 1 Mondokan ; nilai 850
6 SMP 1 Gesi ; nilai 830
7 SMP N 2 Miri ; nilai 820
8 SMP N 2 Sambirejo; nilai 800
9 MTS N Tanon ; nilai 780
10 SMP N 1 Sukodono ; nilai 750
11 SMP N 1 Kalijambe ; nilai 750
12 SMP N 1 Sambungmacan ; nilai 750
13 SMP N 2 Plupuh ; nilai 750
14 SMP N 2 Kedawung ; nilai 740

III. Tingkat SMA


1 SMA N 1 Sragen ; nilai 900 Juara 1
2 SMK N 2 Kedawung ; nilai 850 Juara 2
3 SMA N 1 Gemolong ; nilai 800 Juara 3
4 SMA N 1 Sukodono ; nilai780
5 SMA N 1 Tangen ; nilai 760
6 SMA N 1 Sumberlawang ; nilai 750
7 SMK N 1 Miri ; nilai 740
8 SMK N 1 Kalijambe ; nilai 740
9 SMK N 1 Plupuh ; nilai 740
10 SMK N 1 Sambirejo ; nilai 740

Demikian Berita Acara Pemenang Lomba Perpustakaan Sekolah Tingkat Kabupaten Sragen Tahun 2008. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Sragen, 29 November 2008
Dewan Juri
1. Romi Febriyanto Saputro, S. IP
(Ketua)


……………………………………

2. Ari Ginartanto
(Anggota)


…………………………………..

3. Suwondo Edi Nugroho
(Anggota)


…………………………………..

XL AWARD 2008: Writing & Photo Competition

PT. Excelcomindo Pratama Tbk (XL) menyelenggarakan lomba karya tulis dan foto XL Award 2008 dengan total hadiah Rp. 200 juta
KATEGORI PESERTA
A. Wartawan
B. Masyarakat Umum
LOMBA KARYA TULIS
Tema :
1. Regulasi pemerintah bidang telekomunikasi dan konsekuensi bagi industri selular.
2. Mencari layanan nilai tambah (VAS) seluler paling efektif dan bermanfaat bagi publik
3. Konvergensi IT dan Telekomunikasi dan keuntungan bagi masyarakat.
4. Masa depan 3G dan peluang WiMAX di pasar Indonesia.
5. Dampak investasi di sektor telekomunikasi seluler terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
6. Turunnya tarif telekomunikasi terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masayarakat Indonesia.
7. Pengaruh perkembangan telekomunikasi seluler terhadap perkembangan industri tertentu di Indonesia.
LOMBA FOTO
Tema :
1. Selular dan kebutuhan masyarakat menengah ke bawah.
2. Edukasi seluler kepada pelanggan.
3. Ketatnya persaingan antar operator.
4. Jaringan telekomunikasi menjangkau daerah-daerah pelosok negeri.
5. Kepedulian industri selular keapda masyarakat dan pelanggan.
KRITERIA UMUM PENILAIAN
1. Kesesuaian dengan tema
2. Visualisasi
3. Unsur teknis
PERSYARATAN
Lomba Karya Tulis

Materi tulisan pernah dipublikasikan di media cetak/media online antara 1 Oktober – 31 Desember 2008 untuk wartawan, dan dipublikasikan di media cetak/media online/blog pada periode/waktu yang sama untuk umum. Materi tulisan berformat feature dan in-depth reporting (untuk wartawan). Materi tulisan berformat feature, in-depth reporting, atau opini dan bukan berformat laporan ilmiah (untuk umum)
Materi tulisan yang dikirim harus :
a. Dalam format file MS Word (Soft copy)
b. Disertai bukti pemuatan berupa kliping asli bukan fotocopy (untuk media cetak) atau link website/blog melalui email (untuk media online/blog)
c. Materi tulisan belum pernah dan tidak sedang diikutsertakan dalam
lomba sejenis yang diselenggarakan XL maupun pihak lain.
d. Setiap peserta bias mengirimkan maksimal 3 (tiga) tulisan.
Lomba Foto :

Materi tulisan pernah dipublikasikan di media cetak/media online antara 1 Oktober – 31 Desember 2008 untuk wartawan, dan dipublikasikan di media cetak/media online/blog pada periode/waktu yang sama untuk umum.
Materi foto dikirim dalam bentuk :

a. Tercetak dengan ukuran A-4 (bias lewat pos/kurir/diantar langsung)
b. Soft copy dalam format JPG (biar lewat email)
c. Bukti pemuatan berupa kliping asli bukan fotocopy (untuk media cetak) atau link yang dikirim melalui email ke peserta (untuk media online/blog)
d. Materi foto belum pernah dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis yang diselenggarakan XL maupun pihak lain.
e. Foto harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan.
f. Setiap peserta bias mengirimkan maksimal 3 (tiga) foto
HADIAH LOMBA
Juara I untuk setiap kategori dan jenis lomba Rp. 18.000.000,-
Juara II untuk setiap kategori dan jenis lomba Rp. 13.000.000,-
Juara III untuk setiap kategori dan jenis lomba Rp. 8.000.000,-
Juara harapan I untuk setiap kategori dan jenis lomba Rp. 3.000.000,-
Juara harapan II untuk setiap kategori dan jenis lomba Rp. 2.000.000,-
Tiap pemenang akan mendapatkan : Sertifikat + Thropy + Pulsa XL Rp. 1.200.000,-
PENGIRIMAN HASIL KARYA
1. Hasil karta artikel tulis dan foto serta bukti pemuatan (menuliskan alamat URL dan bagi peserta umum yang mempublikasikan tulisan atau fotonya melalui blog/website) dikirimkan ke:
Pantitia XL Award 2008 Writing & Photo Competition
Jl. Prof. Dr. Soepomo Komplek Bier No 1A
Menteng Dalam, Jakarta Selatan.
Telp. 021 83702660, 32709418
2. Soft copy karya tulis (MS Word) dan foto JPG (maksimum 2 M) dikirim ke XLAward@xl.co.id
3. Karya tulis dan foto diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 5 Januari 2009
4. PR Agency, XL dan dewan juri akan menguumkan pemenang pada acara XL Award 2008 yang berlangsung pada akhir Januari 2009.
Pantitia XL Award 2008 Writing & Photo Competition
Jl. Prof. Dr. Soepomo Komplek Bier No 1A
Menteng Dalam, Jakarta Selatan.
Telp. 021 83702660, 32709418
CP: Hari Nugroho (08161854142), Yus (081510782447)

26 November 2008

RAPBD 2009; Peyorasi Otonomi Daerah

RAPBD 2009; Peyorasi Otonomi Daerah
Oleh Irfan Ridwan Maksum *

Sudah menjadi perhelatan rutin, menjelang akhir tahun, menurut peraturan perundang-undangan, semua daerah otonom di Indonesia harus sudah mempersiapkan RAPBD tahun berikutnya untuk disampaikan kepada pejabat yang berwenang agar mendapat approval (persetujuan). RAPBD kabupaten-kota sudah harus disiapkan untuk disampaikan ke gubernur selaku wakil pemerintah, sedangkan RAPBD provinsi disampaikan ke menteri dalam negeri.

Di tiap daerah seantero republik ini seharusnya sudah dilakukan penggodokan RAPBD 2009 antara DPRD dan pemerintah daerahnya. Jika ingin otonomi itu efektif, semua pihak di daearah harus memperhatikan penahapan tersebut.

Kenyataannya di Indonesia, baik daerah yang kaya sumber-sumber pendapatan sendiri maupun daerah yang mengandalkan kucuran dana perimbangan, masih alot membahas RAPBD-nya, bahkan ada yang berada di tahap KUA (kebijakan umum anggaran) dan PPAS (pagu anggaran sementara).

Persoalan yang dihadapi sangat bervariasi. Beberapa daerah serius memperhatikan pos anggaran bagi pemilu yang akan digelar pada 2009 di daerah masing-masing. Terdapat pula daerah yang terkendala justru karena pembengkakan akibat penyesuaian ortala baru karena PP 41 Tahun 2007 mengenai susunan organisasi dan perangkat daerah. Selebihnya ada daerah yang menyalahkan jerat Permendagri 32 Tahun 2008 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah yang tidak fleksibel terhadap pos DAU.

Peyorasi

Hampir semua daerah mengartikan pelaksanaan otonomi daerah secara kaku dengan mengikuti mekanisme prosedural dari pemerintah yang kadang justru mengorbankan kepentingan daerahnya. Kalau diperhatikan, itu sesungguhnya bermuara di elite yang menerjemahkan aturan main di tingkat nasional. Bahasa elite daerah, mereka tidak ingin dikorbankan aturan-aturan tersebut.

Terjadi peyorasi otonomi daerah. Kondisi tersebut diperparah sikap mental elite dalam organ-organ pemerintahan daerah yang kurang aksesibel serta tidak sensitif terhadap keadaan setempat. Keadaan itu membawa kepada otonomi daerah yang jauh dari harapan masyarakat.

Peyorasi otonomi daerah di Indonesia sudah lama terjadi. Diakui para pakar otonomi daerah di Indonesia, penyelenggaraan otonomi daerah di negeri ini dilakukan sejak Hindia Belanda. Hindia Belanda mengembangkan otonomi daerah diawali dengan otonomi yang bercorak mendua: pertama, bangun kelembagaan untuk kaum pribumi yang elitis; kedua, kelembagaan otonomi daerah bagi kepentingan bangsa Belanda sendiri yang ada di pelosok Nusantara. Dalam dua kelembagaan tersebut, masyarakat Indonesia pada umumnya terpinggirkan.

Kelembagaan yang kedualah yang diteruskan hingga saat ini. Perubahan kelembagaan terutama ditandai dengan pergantian rezim dan beberapa hal teknis pemerintahan. Mulai pergantian rezim kolonial diganti rezim kemerdekaan hingga pergantian antarrezim di era kemerdekaan ditandai pula perubahan tata kelola pemerintahan yang bersifat teknis, termasuk diadopsinya pilkada.

Tampak peyorasi yang tertanam lama tersebut sudah membudaya. Sesuatu yang unik terjadi, mengapa peyorasi tersebut sangat tampak justru di era demokratisasi yang amat kental sejak reformasi bergulir di negeri ini? Bahkan, pilkada dan pemilu legislatif tidak mampu menghadirkan otonomi daerah yang berdampak positif bagi masyarakat.

Jika dikaitkan dengan perjalanan sejarah bangsa ini, teori dari pemikir pembangunan yang mengatakan berbagai sistem tata kelola kenegaraan di negara berkembang yang diadopsi dari negara maju hanyalah imitasi merupakan jawaban tepat untuk menjelaskan fenomena peyorasi (Shah: 2005).

Kesadaran Elite

Idealnya, program pembangunan dan pemerintahan haruslah untuk rakyat. Tetapi, pikiran peyorasi membawa kepada anggaran yang terbatas -khususnya di berbagai daerah yang minus, dimaknai dihabiskan dulu (terutama) untuk belanja tak langsung (ongkos tukang) berdasarkan Permendagri. Hal inilah yang menyebabkan beberapa daerah yang minus sedang kelabakan merancang APBD 2009 karena acuan DAU lama sesuai Permendagri tersebut tidak cukup lagi seiring dengan perubahan desain organisasi dan tata laksananya.

Seharusnya, berapa yang dibutuhkan untuk pembangunan di daerahnya dikembangkan terlebih dahulu setelah membahas ke mana daerah mau membangun. Jika uangnya terbatas, elite daerah harus berani mengatakan belanja tidak langsung dikurangi, dan jika terjadi perubahan kelembagaan (organ pemerintahan), semestinya jangan berpikiran membesarkan struktur, tetapi kembangkan pemikiran miskin struktur, kaya fungsi.

Kesadaran elite lokal di sini menjadi penentu. Para elite lokal lebih dominan memikirkan apa yang menjadi kepentingannya dalam penyelenggaraan otonomi daerah di tempatnya dan tidak didasari ideologi untuk membangun kepentingan bersama daerahnya.

Kondisi itu diperparah oleh kerangka kerja di tingkat nasional yang masih kaku. Kerangka kerja di tingkat nasional amat ditentukan oleh persepsi Departemen Dalam Negeri yang tidak memiliki desain otonomi daerah yang jelas. Departemen ini langsung berperan dalam perubahan yang bersifat struktural melalui wacana perubahan UU Pemerintahan Daerah dan peraturan organiknya yang dicekoki pula oleh peyorasi otonomi daerah, serta sangat dihinggapi persepsi lemahnya sumberdaya lokal dalam menyelenggarakan otonomi daerah. Walhasil, kondisi lokal dan nasional semakin memperkeruh peyorasi otonomi daerah.

Dengan demikian, elite lokal dan nasional harus sama-sama memiliki perspektif yang kontra terhadap peyorasi otonomi daerah. Hilangkan imitasi otonomi daerah di Indonesia dan berpkirlah ameliyorasi terhadap otonomi daerah untuk kemajuan Indonesia.

*. Irfan Ridwan Maksum, pengajar pada program Pascasarjana Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI, Depok
Sumber Jawa Pos, 22 November 2008