Oleh: Robertus Robet
Pengantar
Librisida atau ‘pembunuhan terhadap buku’ memiliki sejarah panjang di dunia.[2] Terdapat beragam sebab dan latar belakang mengapa buku dilarang dan dihancurkan. Majalah Times mengungkapkan bahwa di dunia barat ‘tradisi’ melarang suatu penerbitan setidaknya bisa dirujuk kembali pada tahun 1557 yakni ketika Paus Paul IV menetapkan “indeks buku-buku terlarang’ (The The Index of Prohibited Books). Sebuah ketetapan berisi daftar buku-buku apa yang ‘haram’ dibaca. Itu dikeluarkan dalam tujuan to protect Catholics from controversial ideas.[3]
Namun demikian, ‘pelarangan; rupanya boleh dibilang sebuah bentuk kekerasan yang relatif lembut dan termasuk ‘baru’ dalam sejarah kebencian terhadap buku. Selain pelarangan, sejarah mencatat bahwa ketakutan dan kebencian terhadap buku seringkali lebih banyak mengambil bentuk-bentuk penghancuran yang ekstrim yakni pembakaran! Pembakaran bukan hanya terhadap buku, tetapi juga perpustakaannya bahkan penghancuran terhadap manusia atau para pengarangnya. Fernando Baez mengungkapkan bahwa praktik pembakaran buku sudah dilakukan di Sumeria pada masa Antik yakni antara tahun 4100-3300 SM. Ia menyajikan temuan ekskavasi para antropolog di lantai empat sebuah kuil di kota Uruk. Penemuan itu, menurutnya, mengungkap sisi paradoksal dalam peradaban barat yakni bahwa salah satu penemuan buku paling awal terjadi justru pada tanggal yang sama dengan temuan penghancuran kepada buku pertama kali.[4]
Kekejian terhadap buku yang paling mutkahir yang dicatat dalam sejarah adalah penjarahan yang diikuti dengan pembakaran dan penghancuran National Library of Bagdad, Irak yang terjadi pada hari-hari penjatuhan Saddam antara tanggal 9-10 April 2003. Lebih dari satu juta koleksi hilang dan dibakar. Ini belum termasuk koleksi-koleksi lain yang musnah terbakar di Museum Arkeologi, Arsip Nasional dan kantor-kantor kementrian.[5]
Pengantar
Librisida atau ‘pembunuhan terhadap buku’ memiliki sejarah panjang di dunia.[2] Terdapat beragam sebab dan latar belakang mengapa buku dilarang dan dihancurkan. Majalah Times mengungkapkan bahwa di dunia barat ‘tradisi’ melarang suatu penerbitan setidaknya bisa dirujuk kembali pada tahun 1557 yakni ketika Paus Paul IV menetapkan “indeks buku-buku terlarang’ (The The Index of Prohibited Books). Sebuah ketetapan berisi daftar buku-buku apa yang ‘haram’ dibaca. Itu dikeluarkan dalam tujuan to protect Catholics from controversial ideas.[3]
Namun demikian, ‘pelarangan; rupanya boleh dibilang sebuah bentuk kekerasan yang relatif lembut dan termasuk ‘baru’ dalam sejarah kebencian terhadap buku. Selain pelarangan, sejarah mencatat bahwa ketakutan dan kebencian terhadap buku seringkali lebih banyak mengambil bentuk-bentuk penghancuran yang ekstrim yakni pembakaran! Pembakaran bukan hanya terhadap buku, tetapi juga perpustakaannya bahkan penghancuran terhadap manusia atau para pengarangnya. Fernando Baez mengungkapkan bahwa praktik pembakaran buku sudah dilakukan di Sumeria pada masa Antik yakni antara tahun 4100-3300 SM. Ia menyajikan temuan ekskavasi para antropolog di lantai empat sebuah kuil di kota Uruk. Penemuan itu, menurutnya, mengungkap sisi paradoksal dalam peradaban barat yakni bahwa salah satu penemuan buku paling awal terjadi justru pada tanggal yang sama dengan temuan penghancuran kepada buku pertama kali.[4]
Kekejian terhadap buku yang paling mutkahir yang dicatat dalam sejarah adalah penjarahan yang diikuti dengan pembakaran dan penghancuran National Library of Bagdad, Irak yang terjadi pada hari-hari penjatuhan Saddam antara tanggal 9-10 April 2003. Lebih dari satu juta koleksi hilang dan dibakar. Ini belum termasuk koleksi-koleksi lain yang musnah terbakar di Museum Arkeologi, Arsip Nasional dan kantor-kantor kementrian.[5]









