Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen

JL. Raya Sukowati Barat No. 15 D SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pelatihan IT

Pelatihan IT di BLC Kabupaten Sragen

Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen merupakan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sragen di bidang perpustakaan. Pusat informasi dan Literasi Masyarakat Sragen ini terletak di JL. Raya Sukowati Barat NO. 15 SRAGEN, Jawa Tengah, Indonesia.

Pada tahun 2010, terpilih sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Pertama Se-Jawa Tengah. Telp. 02171 892721 Email perpustakaansragen@gmail.com. NOMOR POKOK PERPUSTAKAAN 33143E1014753.

Mari, Bersama Perpustakaan Kita Cerdaskan Bangsa!


04 Maret 2010

ASAL USUL DUKUH MARGOMULYO

Dahulu kala, konon ada sekelompok orang yang tinggal bersma-sama. Mereka tinggal disuatu tempat yaitu tanah tak bertuan. Tempat itu tak layak untuk disebut sebuah perkampungan, karena kondisinya sangat memprihatinkan. Tanah masih berlubang-lubang, kolam-kolam besar masih membentang di sana-sini, hanya sebagian kecil saja tempat kering, dan disitulah orang-orang tinggal. Setiap musim hujan tiba, tempat tersebut menjadi lautan lumpur, kadang-kadang lumpur itu bisa setinggi dada orang dewasa, maka tidak heran kalau lingkungannya sangat kotor

Apapun keadaannya, orang-orang yang tinggal di tempat tersebut hidup dengan rukun dan tenteram. Mereka hidup dari hasil bertani dan beternak kerbau. Hampir setiap orang di sana memiliki kerbau.

Pada suatu hari, bencana datang, bencana itu berupa datangnya ribuan lintah yang menyerang ternak-ternak mereka. Lintah adalah hewan yang menggigit dan menempel. Disekujur tubuh kerbau penuh dengan lintah, kalau hal ini dibiarkan saja, maka kerbau-kerbau itu bisa celaka.

Merekapun berfikir untuk mencari cara, bagaimana cara membersihkan lintah-lintah yang menempel di sekujur tubuh kerbau.
” Aku punya cara untuk membersihkanm lintah-lintah itu ! ”, Kata seorang kakek tua, yang mereka anggap sesepuhnya.
” O.. ya, bagaimana kek ?, mungkin kita bisa mengerjakannya bersama-sama ” tanya salah seorang warga.

” Iya.. mudah-mudahan cara ini bisa berhasil, mari kita ambil potongan bambu kira-kira satu depa, setelah itu kita belah menjadi beberapa bagian, lalu bambu itu kita haluskan, kemudian kita kerok tubuh kerbau itu dengan belahan bambu tersebut! ”
Wargapun akhirnya segera mencari bambu. Sesuai dengan petunjuk kakek, bambu-bambu itu dipotong kira-kira satu depa, lalu dibelah menjadi beberapa bagian baru kemudian dihaluskan.

Belahan-belahan bambu sudah terkumpul, lalu mereka menggiring kerbau-kerbaunya ke tempat yang kosong. Layaknya sebuah pertunjukan mereka melakukan secara bersama-sama. Kerbau ditambatkan lalu sedikit demi sedit warga mulai mengerok
tubuh kerbau dengan belahan bambu tersebut hingga rata, dan akhirnya pekerjaanpun selesai dilakukan.

Waktupun belalu, tetapi warga selalu mengingat peristiwa kerok kerbau itu. Sampai akhirnya ”Mbah Latuk” orang yang mereka percaya sebagai sesepuhnya kembali angkat bicara.

” Kerok kerbau adalah peristiwa yang penting bagi kita, bagaimana kalau peristiwa itu kita abadikan menjadi sebuah nama dukuh ? ” bukankah selama ini kita tinggal di sebuah tempat tanpa nama ?”
” Betul... betul...”, setuju... setuju...”

Ternyata wargapun sependapat dengan mbah Latuk. Sejak saat itulah tempat iti disebut sebagai dukuh Kerokan. Kerokan berasal dari kata Kerok dan warga menambahkan kata an di belakangnya sehingga menjadi ” Kerokan”.

Dukuh Kerokan menjadi populer, terutama di wilayah Desa Jono, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen. Nama Kerokan menjadi sensasi di sana-sini, tidak jarang orang bertanya. ” Kenapa dukuh Kerokan ” apakah warganya sering masuk angin ? begitulah pikiran orang yag belum mengenal asul-usulnya.

Kini zaman sudah berubah, dukuh kerokan dulu masyarakatnya masih tertinggal, sekarang masyarakatnya sudah maju dan moderen. Tapi nama Kerokan masih menjadi bahan olok-olokan. Terutama anak-anak muda, kadang-kadang mereka malu kalau diejek teman-temannya. ” Masuk angin... masuk angin...! ”

Untuk menghilangkan Imed negatif dari nama Kerokan tersebut, akhirnya pada tahun 1990, Mbah Yoso Suwarno sesepuh dukuh tersebut, bersama-sama dengan warga bermusyawarah, akhirnya disepakati nama Kerokan diubah menjadi Margomulyo. Margo artinya jalan dan Mulyo Artinya lurus. Dengan nama baru ini diharapkan warga Margomulyo hidup dengan menggunakan jalan yang lurus yaitu jalan kebenaran.
Pesta kecilpun diadakan untuk menyambut nama dukuh yang baru. Semua warga berkumpul, dan ikut memanjatkan do’a untuk dukuhnya. Beritapun menyebar, bahwa dukuh Kerokan diganti namanya menjadi Margomulyo, hingga sekarang ini.

Tetapi walaupun demikian, nama Kerokan tidak bisa dilupakan begitu saja. Hal ini terbukti masih banyak orang menyebut dukuh Margomulyo dengan Kerokan.

Legenda Ki Ageng Butuh

Di suatu tempat yang semula berupa hutan yang lebat, konon sangat angker dan banyak dihuni berbagai macam binatang buas nuansa alamnyapun sangat angker, di tempat itu biasa disebut padukuhan BUTUH. Di tempat tersebut tinggal seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat disekitar padukuhan tersebut yaitu bernama Ki Ageng Butuh. Dia adalah seorang ki ageng yang karismatik juga pandai dalam ilmu agama, beladiri dan ahli dalam bidang pertanian. Maka tidak aneh bila masyarakat di butuh kehidupannya maju pesat, tentram dan damai di bawah pimpinan beliau. Banyak orang bertanya siapakan sebenarnya Ki Ageng Butuh itu.

Konon ada suatu kisah dimana setelah Kerajaan Majapahit runtuh banyak keturunan raja dari kerajaan tersebut cerai berai. Salah satunya adalah Pangeran Handaya Ningrat yang menetap di daerah pengging dengan merubah namanya menjadi Ki Kebo Kenanga. Ia hidup bersama istrinya tercinta. Ki Kebo Kenanga adalah seorang pemimpin yang bijaksana, cerdas serta trampil dalam bidang apa saja termasuk bidang pertanian, pemerintahan lebih-lebih bidang keagamaan yakni agama Islam. Yang mana beliau adalah salah satu murid kesayangan dari Syeh Siti Jenar. Karena kepiawian beliau dalam memimpin daerah dan banyaknya pengikut ajaran agamanya. Maka Sultan di Demak Bintoro khawatir bilamana menjadi pesaingnya di dalam memerintah ditanah Jawa. Kemudian Sutan Demak mengutus Sunan Kudus untuk menghadapkan Kebo Kenanga di Keraton Demak, namun tidak berhasil. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus Sunan Kalijaga untuk mendatangi kembali Ki Kebo Kenanga di Pengging di temani oleh Sunan Kudus. Dengan mandat Kanjeng Sultan, ”Bilamana Kebo Kenanga tidak mau sowan ke Demak maka Purbawasesa di tangan kedua Sunan tersebut” ( di izinkan untuk membunuhnya ).

Dalam pertemuan itu terjadi dialog yang alot antara Ki Kebo Kenanga, Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, sampai-sampai Sunan Kudus sempat marah mengancam untuk membunuh Ki Kebo Kenanga namun dihentikan oleh Sunan Kalijaga. Akhir dari dialog itu di sepakati Ki Kebo Kenanga tidak dihukum melainkan dia diminta untuk mengasingkan diri pergi dari bumi perdikan dengan menghilangkan nama sebenarnya. Tetapi Ki Kebo Kenanga punya permintaan bahwa bayi yang sedang didalam kandungan istrinya kelak kalau sudah besar harus menjadi seorang Raja di tanah Jawa. Permintaan tersebut disetujui oleh Sunan Kalijaga dan ia berjanji dia sendiri yang akan mendidik dan membimbing anak Ki Kebo Kenanga hingga menjadi Raja. Beginilah dialog antara Ki Kebo Kenanga dengan Sunan Kalijaga :

Sunan Kalijaga : Ngger..... Kenanga, hidup itu harus adil dan bijaksana..... Begini bagaimana kamu selamat bersama keluargamu sedang Sultan Demak juga tidak malu, kami berdua mempunyai rencana buat angger.
Kebo Kenanga : Maaf..... Kanjeng Sunan Kalijaga sekiranya jalan keluar itu baik untuk semuanya hamba akan melaksanakannya.
Sunan Kalijaga : Begini..... jika kamu untuk sementara mengasingkan diri, masalah laporanku ke Demak Bintoro nanti aku dan Sunan Kudus yang akan mengaturnya. Dan bila kamu punya permintaan kami berdua akan membantu meluluskan, angger.....
Kebo Kenanga : Baiklah Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Kudus jika saya harus mengasingkan diri dari bumi pengging, saya Kebo Kenanga memohon agar kelak keturunan saya dapat menjadi raja dan menurunkan raja di tanah Jawa ini.
Sunan Kalijaga : Allahu Akbar..... ya..... yaa..... aku berjanji untuk mengantarkan putramu kelak menjadi Satria Pinunjul dan dapat menjadi raja di tanah Jawa. Tetapi aku minta selama engkau mangasingkan diri mohon untuk merahasiakan jati dirimu yang sebenarnya sebelum putramu kelak menjadi raja.

Kemudian Ki Kebo Kenanga beserta istri dan murid-muridnya yang setia mengasingkan diri meninggalkan perdikan Pengging menuju ke arah timur tepatnya di dukuh BUTUH, Desa Gedongan termasuk wilayah Sragen yang letaknya di Kecamatan Plupuh.

Ketika Ki Ageng Pengging ( Ki Kebo Kenanga ) menetap di daerah tersebut sambil melanjutkan mengajar ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu yang lain pada murid dan masyarakat setempat, sesuai dengan kesepakatan Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ia sengaja menyembunyikan jati dirinya dan berganti nama KI AGENG BUTUH.

KAYU JATI POLENG

Lokasi : Desa Poleng, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen.
Dipun cariosaken dening : Amelia Ratna A

“Pedhut ing Kraton Kasunanan Surakarta”
Alkisah punika lumampah saking keluarga Kraton Kasunanan Surakarta, rikala semanten ingkang dados panguasa tunggal Kanjeng sinuhun Pakubuwana IV dipun cariosaken bilih kalenggahan raja punika anggadahi panguasa ingkang tunggal.Dados boten mokal bilih sang Prabu kathah pawestri ingkang dipun dadosaken garwo, uga ing tata praja. Awit saking punika garwa ampil sang Prabu ingkang tumindak sekeng kalayan krabat ing wewengkon kraton.

Carios punika bukanipun saking patrap rongeh para selir
ingkang dados para punggawa tumindak sing ngrusak paugeran , kedadosan garwa ampil Pakubuwana ingkang nama Sekar Kedhaton kalayan Pangeran Harya Sengara kekalih titah kalawau dipun sumurupi Pakubuwana IV ingkang dadosaken sang Prabu dados murka, Sekar Kedhaton banjur nampa pidana pati. Sajroning pakunjaran Sekar Kedhaton sirna, ora ana sing ngerti sapa kang nylametake , sang Prabu banjur duka punggawa sing dadi sasarane, sang Prabu utusan marang punggawane supaya golek sisik melik panggonane Sekar kedhaton. Pungkasane ora ketemu dodok selehe Sekar Kedhaton.

Kedadehane Desa Poleng”

Mobah mosike swasana Kraton Kasunanan Surakarta, sabubare Sekar Kedhaton kasil mlayu saka pakunjaran.

Kanthi nggawa rasa susah, Sekar Kedhaton lakune kapuntal-puntal lelana ijen deweke tumeko ing alas Poleng sing kiblate sak lor wetan punjere Kraton Kasunanan Surakarta. Ing wewengkon Poleng kala semanten taksih awujud wono sing isih ketel banget, ora mokal ing kono isih gawat lan akeh kewan galak, ora ana pawongan kang wani mlebu alas mau. Sekar Kedhaton ing kahanan kaya mangkono namung pasrah manggon ana ing alas, dheweke ndelik ana sajroning wit “ kepoh” sing growong, wong sak kiwa tengene kanga aran “leng” ya ing kono mau Sekar Kedhaton ndelik nyingkir saka Kraton.

Wusananipun bebasan sak rapet-rapete nutupi bathang bakale uga mambu. Prajurit sandi mau bisa ngerteni panggonane Sekar Kedhaton banjur marak sowan marang sang Prabu, menawa Sekar Kedhaton ndelik ana ing kepoh growong . Sang Prabu banjur nimbali para tukang tenung supados merjaya garwa kang tumindak nistha kanthi cara alus

“ Misteri Teluh Jati Poleng”

Cara apa wae ditindakake para tukang tenung sing di dawuhi supaya Sekar Kedhaton bisa sirna saka janaloka. Kabeh cara wis ditindakake ananging pejah gesangipun titah kala wau sampun ginaris ing khodrat namung Gusti ingkang maha Agung ingkang kuwaos.
Tenung – tenung kala wau mbadal saka Sekar Kedhaton malah wit – witan sak kiwa tengene sing ketaman kalebu wit jati, wong kolot ngandarake “ jati poleng”
Kena ngapa Sekar Kedhaton mbadal saka tenung?

Alkisah carios Sekar Kedhaton tumindak nistha kalayan punggawa Harya Sengara mau amung rekadaya saka para selir –selir sanes supados sekar Kedhaton bisa sumingkir saka Kraton, jalaran selir –selir mau nduweni rasa meri marang Sekar Kedhaton mula banjur pokal gawe sing ora trepsila. Ngada – ada Punggawa Harya Sengara ngrusak paugeran kalayan Sekar Kedhaton supaya ing wewengkon Kraton dadi geger lan krungu menawa Sekar Kedhaton tumindak nistha, sing pungkasane Sekar Kedhaton bisa sumingkir saka Kraton. Mula Sekar Kedhaton banjur ngankake sumpah lan janji “ Yen mengko kepoh lan jati ing sak kiwa tengene kang kena sawab tenung saka Kraton kasunanan kuwi bisa males larane atiku marang wong –wong sing padha aniaya” mula ya ora aneh tumeka saiki aran “ jati poleng” kumandhange kondhang kanggo tumindak durjana. (luput benere wallohu alam) marang para – para ingkang maos.

Miturut juru kunci Kayu Jati poleng Mbah Praya Semita utawa para pamuka adat ing Desa Poleng nyariosaken bab sing wis kulina kedaden sing ana sambung rapete karo Kayu Jati Poleng kasebut bisa kanggo ndadekake wong dadi lara sing ora mbetah, ngenggoni panggonan ora krasan, lan bisa konggo nyirnakake manungsa.ana anggepan yen manawa sawijining wong njaban desa ora kena nggawa barang kang awujud apa wae ing Desa Poleng mau yen wewaler iku dilanggar bakal nekakake bebaya. Wonten malih wong – wong Desa ing kono menawa nglampahi krama ya mung sak kiwa tengene.

Kang kabukten kayu Jati Poleng tumeka seprene isih ana sawijining kayu jati tuwa udakara telung meter dawane sing wus awujud kayu glondhong mula ya ana panggonan mau di anggep dadi panggonan sing kramat sing di yakini bisa paring pangayoman marang masyarakat sak kiwa tengene.

KYAI AGENG SRAGEN

Pada zaman dahulu, terciptanya desa Sragen diawali dari kisah kerajaan Mataram di Kartasura yang pada waktu itu gempar karena seorang putera Pangeran Tepasana yaitu Raden Mas Garendi menentang kebijakan para narapraja Mataram, terutama terhadap Patih Pringgalaya yang sangat dekat dengan Kompeni Belanda. Kompeni Belanda terlalu jauh mencampuri urusan dalam kerajaan Mataram, Pangeran Tepasana ayahnya terpaksa dihukum mati tanpa jelas kesalahannya. Tidak aneh bila ia ingin membalas dendam. Dalam usaha itu dia mendapat bantuan dari orang-orang China di Kartasura serta sebagian abdi dalem narapraja Mataram.

Pada suatu hari, Raja Paku Buwana II berbincang-bincang dengan Tumenggung Alap-alap di DalemAgung. Pada waktu itu para narapraja terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu: pendukung Kanjeng Sunan atau Paku Buwana II, pendukung Patih Pringgalaya dan pendukung Raden Mas Garendi.

Tumenggung Alap-alap menceritakan bahwa Raden Mas Garendi melakukan pemberontakan terhadap kompeni. Mendengar hal itu Kanjeng Sunan bingung harus memihak kepada siapa, dan Alap-alap mengusulkan untuk memihak Raden Garendi. Itu merupakan usaha untuk mengembalikan nama dan kewibawaan Sunan. Namun Sunan menolaknya dengan alasan senjata yang dimiliki orang Jawa hanya bambu runcing, keris, tombak, dan sejenisnya. Sedangkan yang dimiliki kompeni senapan dan mesiu yang kuat. Dan dia takut para prajurit dan rakyatnya mati sia-sia.

Setelah mendengar alasan Kangjeng Alap-alap dapat memetik suatu sikap Kanjeng yang tidak teguh pendirianya dandapat tebujuk oleh rayuan. Sikap seperti itu dapat membahayakan tumenggung sendiri sebagai narapraja Mataram.

Bila suatu saat sunan terkena bujuk rayu pringgalaya dan akhirnya membantu kompeni,patih bisa denganmudah menyingkirkannya dari Bumi Mataram.
Sabda kanjeng terus terdengar jelas di telingga Alap-alap, maka dari itu dia memutuskan dia berserta keluarganya harus pergi dari Kartasura untuk menghindari kemungkinan yang bisa terjadi yang dapat merugikannya.

Pada hari yang ditentukan, pergilah Tumenggung dari Surakarta. Malam harinya mereka berangkat ke arah timur di desa Kranggan di daerah Sukawati. Di sanalah Alap-alap mengangkat dirinya sebagai pendeta dengan nama Kyai Srenggi untuk kelancaran penyamarannya.

Sementara itu apsukan pemberontakan dibawah kekuasaan Raden Mas Garendi dan kapten sepajang pimpinan orang-orang Cina mengharap bantuan darisuna,sesuaijanji sunan sendiri.namunbantuan itu takkunjung bahkan diketahui memihak kepada Kompeni. Menyaksikanhal itu ragen garedi marah danakanmengadakan pemberontakan yang sanga brutal.

Kartasura bersimbah darahdanmayat-mayat bergelimpang disepanjang jalan. Rombongan kanjeng sunan pergi kearah timut yang dikawal oleh kompeni. Sesampai mereka didesa Laweyan dan perjalanan diteruskan ke panaraga. Akhirny pada tahun1742 kraton Kartasura jebol dan diangkatlah Raden Garendi menjadi sunan baru dengan gelar Sunan Kuning.

Sementara itu patih dan Kompeni belanda berkerja sama menglawan sunan Kuning sebagai imbalan peluasan wilayah. Dan skhirnya kapten wilhem pemimpin kompeni meminta bantuan ke Batawi. Tak lama kemudian bantuan itu datang, terjadilah pertempuran yang lebih dasyat lagi dari yang sebelumnya, kartasura porak poranda.
Dan karena perlengkapan dan jumlah sedadukompeni lebih lengkap dan banyak, pasukan pemberontak kalah hebat. Sesudah sunan kuning Di singkirkan kanjeng sunan kembali menduduki tahtanya.

Seberapa bulan kemudian kanjeng bosan di Kartasura keadaan yang porak poranda. Setelah disuruh untuk mencari tempat yang baru, dipilihlah kota Sala sebagai calon kraton yang baru.

Pada waktu pangeran Mangkubumi yang menjadi salah satu pendukung Raden Garendi berasil lolos dari Surakarta, dia bersama keluarga dan beberapa prajurit dan bangsawan pergi dari Kartasura. Sampailah mereka di desa Kranggan, di sanalah pangeran mendapat kabar ada seorang brahmana sakti mandraguna yang bernama Kyai Srenggi. Pergilah mereka ke Kyai Srenggi untuk berkenalan dan mohon petunjuk.
Begitulah awalnya pertemuan pangeran langsung menceritakan apa yang terjadi, bagaikan petir di siang bolong mendengar pengakuan Kyai bahwa ia sebernarnya adalah Tumenggung Alap-alap yang menjadi salah satu narapraja Mataram yang membenci kompeni.

Kemudin pangeran Mangkubumi mengangkat Kyai sebagai senopati perangnya dan memintanya berganti nama kyai Ageng Sragen serta mengganti desa Kranggan menjadi desa Sragen.
Begitulah selanjutnya kyai Ageng Sragen dianggapSebagai cikal bakal desa Sragen dan menjadi leluhur para penguasa pemegang kekuasaan di Kabupaten Sragen – Sukowati.

KYAI AGENG SRAGEN

Pada zaman dahulu, terciptanya desa Sragen diawali dari kisah kerajaan Mataram di Kartasura yang pada waktu itu gempar karena seorang putera Pangeran Tepasana yaitu Raden Mas Garendi menentang kebijakan para narapraja Mataram, terutama terhadap Patih Pringgalaya yang sangat dekat dengan Kompeni Belanda. Kompeni Belanda terlalu jauh mencampuri urusan dalam kerajaan Mataram, Pangeran Tepasana ayahnya terpaksa dihukum mati tanpa jelas kesalahannya. Tidak aneh bila ia ingin membalas dendam. Dalam usaha itu dia mendapat bantuan dari orang-orang China di Kartasura serta sebagian abdi dalem narapraja Mataram.

Pada suatu hari, Raja Paku Buwana II berbincang-bincang dengan Tumenggung Alap-alap di DalemAgung. Pada waktu itu para narapraja terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu: pendukung Kanjeng Sunan atau Paku Buwana II, pendukung Patih Pringgalaya dan pendukung Raden Mas Garendi.

Tumenggung Alap-alap menceritakan bahwa Raden Mas Garendi melakukan pemberontakan terhadap kompeni. Mendengar hal itu Kanjeng Sunan bingung harus memihak kepada siapa, dan Alap-alap mengusulkan untuk memihak Raden Garendi. Itu merupakan usaha untuk mengembalikan nama dan kewibawaan Sunan. Namun Sunan menolaknya dengan alasan senjata yang dimiliki orang Jawa hanya bambu runcing, keris, tombak, dan sejenisnya. Sedangkan yang dimiliki kompeni senapan dan mesiu yang kuat. Dan dia takut para prajurit dan rakyatnya mati sia-sia.

Setelah mendengar alasan Kangjeng Alap-alap dapat memetik suatu sikap Kanjeng yang tidak teguh pendirianya dandapat tebujuk oleh rayuan. Sikap seperti itu dapat membahayakan tumenggung sendiri sebagai narapraja Mataram.

Bila suatu saat sunan terkena bujuk rayu pringgalaya dan akhirnya membantu kompeni,patih bisa denganmudah menyingkirkannya dari Bumi Mataram.
Sabda kanjeng terus terdengar jelas di telingga Alap-alap, maka dari itu dia memutuskan dia berserta keluarganya harus pergi dari Kartasura untuk menghindari kemungkinan yang bisa terjadi yang dapat merugikannya.

Pada hari yang ditentukan, pergilah Tumenggung dari Surakarta. Malam harinya mereka berangkat ke arah timur di desa Kranggan di daerah Sukawati. Di sanalah Alap-alap mengangkat dirinya sebagai pendeta dengan nama Kyai Srenggi untuk kelancaran penyamarannya.

Sementara itu apsukan pemberontakan dibawah kekuasaan Raden Mas Garendi dan kapten sepajang pimpinan orang-orang Cina mengharap bantuan darisuna,sesuaijanji sunan sendiri.namunbantuan itu takkunjung bahkan diketahui memihak kepada Kompeni. Menyaksikanhal itu ragen garedi marah danakanmengadakan pemberontakan yang sanga brutal.

Kartasura bersimbah darahdanmayat-mayat bergelimpang disepanjang jalan. Rombongan kanjeng sunan pergi kearah timut yang dikawal oleh kompeni. Sesampai mereka didesa Laweyan dan perjalanan diteruskan ke panaraga. Akhirny pada tahun1742 kraton Kartasura jebol dan diangkatlah Raden Garendi menjadi sunan baru dengan gelar Sunan Kuning.

Sementara itu patih dan Kompeni belanda berkerja sama menglawan sunan Kuning sebagai imbalan peluasan wilayah. Dan skhirnya kapten wilhem pemimpin kompeni meminta bantuan ke Batawi. Tak lama kemudian bantuan itu datang, terjadilah pertempuran yang lebih dasyat lagi dari yang sebelumnya, kartasura porak poranda.
Dan karena perlengkapan dan jumlah sedadukompeni lebih lengkap dan banyak, pasukan pemberontak kalah hebat. Sesudah sunan kuning Di singkirkan kanjeng sunan kembali menduduki tahtanya.

Seberapa bulan kemudian kanjeng bosan di Kartasura keadaan yang porak poranda. Setelah disuruh untuk mencari tempat yang baru, dipilihlah kota Sala sebagai calon kraton yang baru.

Pada waktu pangeran Mangkubumi yang menjadi salah satu pendukung Raden Garendi berasil lolos dari Surakarta, dia bersama keluarga dan beberapa prajurit dan bangsawan pergi dari Kartasura. Sampailah mereka di desa Kranggan, di sanalah pangeran mendapat kabar ada seorang brahmana sakti mandraguna yang bernama Kyai Srenggi. Pergilah mereka ke Kyai Srenggi untuk berkenalan dan mohon petunjuk.
Begitulah awalnya pertemuan pangeran langsung menceritakan apa yang terjadi, bagaikan petir di siang bolong mendengar pengakuan Kyai bahwa ia sebernarnya adalah Tumenggung Alap-alap yang menjadi salah satu narapraja Mataram yang membenci kompeni.

Kemudin pangeran Mangkubumi mengangkat Kyai sebagai senopati perangnya dan memintanya berganti nama kyai Ageng Sragen serta mengganti desa Kranggan menjadi desa Sragen.
Begitulah selanjutnya kyai Ageng Sragen dianggapSebagai cikal bakal desa Sragen dan menjadi leluhur para penguasa pemegang kekuasaan di Kabupaten Sragen – Sukowati.

LEGENDA SUMUR PREMBEH

Disusun Oleh : Lathifah Riana Sari
Kelas : 8
Sekolah : SMP N 2 TANGEN



Alkisah seorang wali yang bertugas menyebarkan agama Islam di berbagai wilayah Jawa. Dahulu Wali tersebut tengah melewati desa yang belum mengenali agama, mengerti itu pun dia bermukim sementara untuk mengenalkan agama Islam. Dulu ia pernah ditentang oleh warga sekitar karena mereka kira wali tersebut tidak mempunyai keyakinan seperti warga sekitar. Tetapi ia tidak putus asa untuk menyebarkan agama Islam. Ia tetap tegar walaupun di terpa cobaan yang sangat berat. Tetapi, ia yakin Allah tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan manusia.

Tahun demi tahun ia jalani dengan penuh rasa sabar dan rasa syukur, di hari yang ia jalani beberapa tahun ia bekerja sebagai seorang petani yang bercocok tanam sayur dan juga kebutuhan dapur lainnya. Setiap hasil panen yang telah ia jual, sebagian untuk kebutuhannya sehari-hari, dan yang sebagainnya lagi ia sedekahkan untuk fakir miskin disekitarnya. Sudah lama ia bermukim di situ ternyata membuahkan hasil juga, banyak juga pengikut ajaran Islam di desa tersebut dan setiap hari Minggu pun ia dan warga sekitar mengadakan pengajian, dan banyak juga yang sekarang meninggalkan ajaran Ki Wisnu. Ki Wisnu terkenal sebagai pimpinan ajaran menyembah berhala, dan otomatis tak banyak lagi orang yang selalu membawakan makanan untuk Ki Wisnu. Semakin hari ki Wisnu kehabisan persediaan makanan. Ia tak sabar lagi, segeralah ia menemui wali tersebut dan ia pun murka. Ia mengeluarkan kesaktian yang telah dipelajarinya. Tetapi Wali tetap sabar menerimanya.

Pada suatu malam, ketika sang Wali sedang berdzikir dangan khusyu’nya. Ki Wisnu berencana menyantet Wali itu. Karena kebesaran sang Kuasa teluh itu tak mempan di tubuh Wali. Tetapi teluh itu terpental dan membalik ke tubuh Ki Wisnu. Akhirnya Ki Wisnu pun menderita sakit. Beberapa pengikut Ki Wisnu bercerita apa yang telah terjadi. Ternyata sakit itu hanya bisa sembuh hanya dengan cara meminta maaf kepada Wali. Pengikut itu pun meminta bantuan Wali untuk mendatangi Ki Wisnu dan memaafkannya.

Selang beberapa hari kemudian sakit Ki Wisnu berangsur-angsur sembuh. Dan itu atas ketulusan hati sang Wali. Pada hari minggu sesaat setelah pengajian selesai, tiba-tiba Wali mengumumkan suatu berita bahwa Wali akan meneruskan perjalanan untuk menyebarkan Agama Islam. Banyak warga yang bersedih karena sang Wali akan pergi. Karena ialah yang mengajari mereka cara berwudhu, sholat, azan dan do’a-do’a lainnya. Sang Wali menitipkan amanah kepada sang pemuda yang telah dipercayainya, dan ia berjanji bahwa akan mengembangkan agamanya sampai anak cucunya mengucapkan syahadat dan sampai ia tiada nanti.

Tetapi sebelum ia meninggalkan desa tersebut Wali meminta petunjuk sang Kuasa. Dan lewat mimpinya ia diberi isyarat untuk meninggalkan sesuatu, berfikir tak punya apa-apa, sang Wali berencana untuk mebuatkan sumur untuk desa tersebut.
Keesokan harinya Wali mulai mencari sumber yang tepat untuk membuat sumur. Mulailah ia bekerja, belum lama ia bekerja air mulai mengalir dari sumber. Wali pun sangat senang, dan karena Wali berjumlah sembilan (songo), wali membuat sumur sebanyak sembilan yang berdekatan. Kehadiran wali memang sungguh sangat memberi manfaat. Dan Wali memberi tanda pada tempat itu dengan batu nisan yang berbentuk Telapak Tangan Wali.

Dan sampai sekarang pun sumur itu dikeramatkan oleh warga sekitar. Sumur itu konon bisa menyembuhkan segala penyakit. Banyak juga yang beranggapan setiap pengantin harus mandi di sumur itu agar umur perkawinan mereka langgeng. Hal itu dijadikan adat sampai sekarang. Belum jelas nama wali tersebut, tapi itu mungkin tak penting untuk di pamerkan dan hanya sang Khalik yang tahu.
Desa Ngablak tak kekurangan air lagi. Untuk mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada wali, setiap pada hari tertentu warga sekitar melakukan kegiatan yang di sebut Kondangan (Bahasa Jawa).

Tetapi, setelah di keramatkan oleh warga sekitar sumur tersebut berubah menjadi angker. Dulu yang semula benar-benar masih berbau agama Islam, tetapi sekarang banyak yang menyalah gunakan tempat tersebut seperti meminta kekayaan. Dan setiap pada malam Jum’at ada beberapa orang yang bersemedi di sumur tersebut. Walaupun begitu sumur itu masih di hormati oleh warga sekitar. Sampai sekarang sumur tersebut di namai sumur Prembeh.

ASAL-USUL DESA SRAGEN

Oleh Ari Nur Cahyani (Siswi SMP N 1 Sambungmacan, Sragen)

Kerajaan Mataram di Kartasura terjadi kekacauan. Suasana pada saat itu sangat ricuh. Raden Mas Garendi, putra Pangeran Tepasana menentang kebijaksanaan para narapraja Mataram, terutama kepada Patih Pringgalaya yang lengket sekali dengan Kompeni Belanda. Raden Mas Garendi ingin membalas dendam karena ayahnya Pangeran Tepasana dihukum mati tanpa jelas kesalahannya. Suatu hari Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II berbincang-bincang dengan Tumenggung Alap-alap di Dalem Ageng.

“Hai, Tumenggung Alap-alap !”, sabda Kanjeng Sunan mengawali pembicaraan.
“Daulat Gusti”, jawab Tumenggung Alap-alap sambil menyembah.
“Coba, katakanlah yang sebenarnya, apa yang telah terjadi pada para narapraja di Kartasura ?”

“Ampun Gusti, hamba mendengar kabar, bahwa ananda Raden Mas Garendi melakukan pemberontakan menentang kompeni.”
“Bila demikian keadaannya, yang repot kan saya. Hai Alap-alap, menghadapi keadaan ini aku jadi bingung. Mana yang harus saya dukung ?”
“Ampun Gusti, ananda Garendi menentang kompeni, itu merupakan usaha untuk mengembalikan kemuliaan nama dan kewibawaan Paduka Kanjeng Sinuhun”, sembah Tumenggung Alap-alap.

“Lho, kalau begitu, kamu menyetujui tindakan si Garendi. Benarkah itu ?”
“Ampun, beribu ampun Gusti, Begitulah nyatanya.”
“Oooo…..Alap-alap, sadarlah keadaanmu, keadaan kita sekarang ini. Mampukah kita melawan kekuatan kompeni ? Kompeni memiliki senapan dan meriam, sedangkan kita…. Orang jawa, hanya memiliki senjata tombak. Saya tidak berani menentang kompeni. Kasihan para prajurit yang menjadi korban sia-sia.”

Mendengar sabda Kanjeng Sunan, Tumenggung Alap-alap hanya terpaku diam. Dari kata-kata Kanjeng Sunan tersebut, menunjukkan sikap Kanjeng Sunan tidak teguh dan sangat lemah. Sikap demikian itu justru dapat membahayakan kedudukan Tumenggung Alap-alap sebagai narapraja Mataram. Maka dari itu, untuk menghindari segala kemungkinan yang dapat merugikan dirinya, diputuskanlah dia beserta keluarganya harus pergi dari Kartasura. Kemudian pergilah Tumenggung Alap-alap beserta seluruh keluarga dan kaum kerabatnya dari Surakarta menuju ke arah timur, ke daerah Sukawati. Dia pergi dengan membawa perasaan benci, kecewa, baik terhadap Sunan maupun terhadap Patih Pringgalaya. Daam perjalanannya itu sampailah mereka di desa Kranggan, daerah Sukawati. Di situ Alap-alap menyamar sebagai pendeta dengan nama Kyai Srenggi.

Sementara itu pasukan pemberontak di bawah pimpinan Raden Mas Garendi dalam hati megharapkan datangnya bantuan dari Kanjeng Sunan, sesuai dengan janji Sunan sendiri. Namun bantuan itu tak kunjung datang. Bahkan akhirnya diketahui, bahwa Kanjeng Sunan membantu kompeni. Menyaksikan sikap Sunan tersebut, Raden Mas Garendi sangat marah. Dia bertekad untuk mengusir kompeni dari bumi Jawa dan menghancurkan Kraton Kartasura yang dijadikan sarang Kompeni Belanda. Maka pecahlah pertempuran yang hebat antara pasukan pemberontak melawan pasukan Sunan yang dibantu oleh Kompeni Belanda.

Dalam suasana yang sangat kacau itu, Sunan lolos meninggalkan kraton. Rombonga mereka itu pergi ke arah timur. Sesampainya di desa Lawean berhenti sejenak untuk melepaskan lelah. Namun di situ dirasa tidak aman, maka perjalanan diteruskan ke Ponorogo. Akhirnya pada tahun 1742, Kraton Kartasura jebol dan diduduki oleh pasukan pemberontak. Kemudian diangkatlah Raden Mas Garendi menjadi Sunan di Kartasura oleh para pendukungnya dengan gelar Sunan Kuning.

Pada suatu hari Patih Pringgalaya bercakap-cakap dengan Kapten Wilhem, pimpinan Kompeni di benteng Kartasura. Dari hasil pembicaraan yang singkat tersebut, kemudian Kapten Wilhem minta bantuan ke Batawi. Tidak lama kemudian bantuan itu pun datang. Terjadilah pertempuran yang lebih hebat dari sebelumnya. Akhirnya karena perlengkapan dan jumlah serdadu Sunan dan Kompeni lebih lengkap dan lebih banyak, pasukan Sunan Kuning kalah dan diusir dari Kartasura. Setelah Sunan Kuning disingkirkan, Sunan Paku Buwana II yang masih berada di Ponorogo diberi tahu dan dimohon kembali ke Kartasura untuk menduduki tahtanya kembali.

Kembalilah Kanjeng Sunan Paku Buwana II bersama rombongannya ke Kartasura. Namun Kanjeng Sunan tidak kerasan karena keadaan Kartasura yang porak poranda tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. Maka Kanjeng Sunan memutuskan pindah dari Kartasura untuk membangun kraton baru. Kemudian dipilihlah desa Sala, sebagai calon kraton yang baru. Desa Sala dibangun dan diganti namanya menjadi “Surakarta Hadiningrat”. Pada waktu itu keadaan masih sangat kacau, masih banyak pemberontakan menentang Kompeni Belanda. Para pemberontak tersebut sebagian besar masih termasuk anggota keluarga raja
sendiri, dan yang paling ditakuti adalah Pangeran Mangkubumi di Sukawati.

Pada waktu Pangeran Mangkubumi lolos dari Kuthagara Surakarta, dia bersama keluarga dan beberapa prajurit pergi ke arah timur laut kota Surakarta. Sampailah mereka di desa Kranggan. Sesampainya di desa Kranggan dia menerima kabar bila di desa tersebut ada seorang Brahmana sakti mandraguna bernama “Kyai Srenggi”. Pangeran Mangkubumi singgah di desa Kranggan untuk berkenalan dengan Kyai Srenggi serta mohon petunjuk.
“Eee, mari…mari silakan masuk Pangeran. Hamba tidak mengira akan kedatangan tamu agung. Mari silakan masuk!”, kata Kyai Srenggi ketika kedatangan Pangeran Mangkubumi.

“Ketahuilah Bapa, hamba sekarang bukan lagi seorang priyagung. Sebab selama pengembaraan ini hamba tanpa pangkat dan derajat. Hamba adalah seorang buruan yang menentang raja dan….Kompeni Belanda..” Jawab Pangeran Mangkubumi dengan hormat.
Kyai Srenggi tersenyum dan berkata , “Apakah Pangeran lupa kepada hamba ? Hamba ini tidak lain adalah Tumenggung Alap-alap, seorang hamba kerajaan yang tidak kerasan tinggal di Kartasura dan menyepi di Kranggan ini.”

Bagaikan disambar petir di siang hari, Pangeran Mangkubumi mendengar pengakuan Kyai Srenggi tersebut. Pageran Mangkubumi sangat terkejut dan kemudian memeluk Tumenggung Alap-alap. Begitu awal pertemuan itu kemudian dilanjutkan dengan percakapan yang panjang. Dan akhirnya Alap-alap atau Kyai Srenggi diangkat menjadi senapati perang memimpin para prajurit untuk memusnahkah tindak angkara murka. Sejak saat itu Tumenggung Alap-alap brganti nama menjadi Kyai Sragen, sedang desa Kranggan diganti namanya menjadi desa “SRAGEN”.

Asal Mula Gunung Kemukus

Pangeran Samudro adalah putra Raja Majapahit terakhir dari ibu selir. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain. Bahkan beliau bersama ibunya ikut diboyong ke Demak Bintoro oleh Sultan Demak.Pada waktu itu beliau telah berusia 18 tahun.

Selama berada di Demak, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Sunan Kalijaga. Ketika dirasa cukup dan usianya telah semakin dewasa maka atas petunjuk dari Sultan Demak melalui Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro diperintahkan untuk berguru tentang agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur di lereng Gunung Lawu sekaligus mengemban misi suci untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah tercerai berai. Pangeran Samudro mentaati nasehat tersebut dan pergi berguru pada Kyai Ageng Gugur dengan didampingi oleh dua abdinya yang setia.

Selama berguru kepada Kyai Ageng Gugur, Pangeran diberi ilmu tentang intisari ajaran Islam secara mendalam. Selama itu pula, Pangeran tidak mengetahui bahwa Kyai Ageng Gugur sebenarnya adalah kakaknya sendiri. Ketika dirasa Pangeran Samudro telah menguasai ilmu yang diajarkan, Kyai Ageng Gugur baru menceritakan siapa beliau sesungguhnya. Betapa terkejutnya Pangeran Samudro mendengar cerita tersebut, karena beliau teringat akan amanat Sultan Demak untuk menyatukan saudara-saudaranya. Akhirnya, Pangeran Samudro menceritakan tentang amanat tersebut. Ternyata Kyai Ageng Gugur bisa menerima dan bersedia dipersatukan kembali dan ikut membangun Kerajaan Demak.

Setelah selesai berguru dan tercapai maksud tujuannya, Pangeran Samudro dan dua abdinya kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan sampailah mereka di Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong) kemudian mereka beristirahat untuk melepaskan lelah. Di dukuh tersebut mereka bertemu dengan orang yang berasal dari Demak (Wulucumbu Demak) yang bernama Kyai Kamaliman. Di dukuh ini, Pangeran Samudro berniat bermukim sementara untuk menyebarkan agama Islam.

Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampai di suatu tempat di padang “oro-oro” kobar. Sampai sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong). Di tempat ini Pangeran Samudro terserang sakit panas. Walaupun demikian, perjalanan tetap dilanjutkan sampai ke Dukuh Doyong (wilayah Kecamatan Miri). Karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut.

Ketika sakitnya semakin parah dan dirasa akan sampai pada ajalnya/hampir meninggal, Pangeran Samudro memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Sebenarnya Pangeran Samudro dan pengikutnya sangat diharapkan untuk kembali ke Kasultanan Demak oleh Sultan Demak, Beliau mengatakan, “Menurut hematku bahwa sakitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik dan jauh kemungkinan untuk sampai ke Demak.

Kiranya jika memang sudah menjadi suratan Yang Maha Kuasa bahwasanya sampai di situ saja riwayatnya, maka saya memberi petunjuk jika Si Samudro sudah sampai ajalnya, maka kebumikanlah jasadnya pada suatu tempat di bukit arah barat laut dari tempat Pangeran Samudro meninggal. Sebab boleh jadi kelak di sekitar tempat itu akan menjadi ramai sehingga dijadikan tauladan orang-orang di sana”. Seusai mendengar amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Dan ketika abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat, Pangeran Samudro telah meninggal. Selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut.

Pada awalnya keadaan di lokasi Makam Pangeran Samudro sangatlah sepi dan jarang dijamah orang karena letaknya di tengah hutan belantara, serta banyak dihuni oleh binatang-binatang buas. Namun, sedikit demi sedikit keadaan berubah setelah daerah tersebut dihuni oleh para penduduk. Selanjutnya diterangkan bahwa di atas bukit tempat Pangeran Samudro dimakamkan, apabila menjelang musim hujan ataupun kemarau tampaklah kabut-kabut hitam seperti asap (kukus). Karena hal itulah, penduduk setempat menyebut bukit itu “Gunung Kemukus” sampai dengan saat ini. Demikianlah asal-usul Gunung Kemukus.

02 Maret 2010

LOMBA PENULISAN ARTIKEL POPULER TENTANG PERPUSTAKAAN & MINAT BACA UNTUK SISWA SLTP & SLTA TINGKAT PROVINSI JAWA TENGAH 2010

A. TEMA
“MENULIS MENCIPTAKAN GENERASI CERDAS & MANDIRI”
B. PERSYARATAN
1. Siswa SLTP dan SLTA di Provinsi Jawa Tengah;
2. Satu orang hanya boleh mengirimkan 1 (satu) artikel;
3. Melampirkan foto copy kartu pelajar;
4. Melampirkan daftar riwayat hidup;
5. Telah menjadi anggota perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum minimal selama 2 (dua) tahun dibuktikan dengan melampirkan foto copy kartu anggota;
6. Naskah dikirim dengan surat pengantar dari kepala sekolah.
C. KRITERIA PENILAIAN
1. Naskah merupakan hasil karya sendiri, orisinil, bukan saduran dan bukan terjemahan, jika terbukti bukan karya sendiri akan didiskualifikasi;
2. Judul bebas sepanjang Isi naskah sesuai dengan tema;
3. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, bersifat inovatif dan aplikatif;
4. Naskah belum pernah dipublikasikan dan belum pernah diikutkan lomba;
5. Naskah diketik dalam ukuran kertas A4 (kwarto) dengan spasi 1,5 panjang artikel 5 - 10 halaman;
D. TATA CARA PENYERAHAN NASKAH
1. Naskah dijilid rapi;
2. Naskah diterima panitia selambat-lambatnya 30 Juni 2010 (Bukan cap pos);
3. Naskah yang masuk menjadi milik panitia;
4. Naskah dikirim ke :

PANITIA LOMBA PENULISAN ARTIKEL POPULER TENTANG PERPUSTAKAAN & MINAT BACA
D/A : BADAN ARSIP & PERPUSTAKAAN PROVINSI JAWA TENGAH
JL. SETIA BUDI 201 C SRONDOL SEMARANG
E. HADIAH

1. Juara 1 Rp 3.500.000, 00
2. Juara 2 Rp 3.000.000, 00
3. Juara 3 Rp 2.500.000, 00
4. Harapan 1 Rp 2.000.000, 00
5. Harapan 2 Rp 1.500.000, 00
6. Harapan 3 Rp 1.000.000, 00
F. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada Bulan Agustus 2010. Pemenang akan diundang ke Semarang. Biaya transport pulang pergi akan ditanggung panitia.

Keterangan lebih lanjut hubungi Bu Ayu (08179504572) &
Pak Hardi (081390884673)

21 Februari 2010

BINTEK OTOMASI PERPUSTAKAAN 2010


Otomasi Perpustakaan, Apaan Tuh ?

Otomasi perpustakaan merupakan penerapan teknologi informasi di bidang perpustakaan untuk membantu proses pengolahan bahan pustaka, pelayanan bahan pustaka, dan administrasi perpustakaan.

Software apa yang digunakan ?

Software otomasi yang digunakan adalah PS Senayan. SENAYAN adalah Open Source Software (OSS) berbasis web untuk memenuhi kebutuhan automasi perpustakaan (library automation) skala kecil hingga skala besar. Dengan fitur yang cukup lengkap dan masih terus aktif dikembangkan,

Apa yang akan diperoleh peserta ?

1. Setiap peserta akan memperoleh modul pembelajaran, CD program dan e-book, sertifikat, ATK, snack, dan makan siang.
2. Setiap peserta akan menggunakan satu komputer yang disediakan oleh panitia dalam proses pembelajaran.
3. Setiap peserta akan melakukan praktik secara langsung mulai dari instalasi program sampai proses entri data buku, data anggota, penelusuran informasi dan lain-lain
4. Setiap peserta diperbolehkan membawa laptop atau CPU sendiri.

Kapan pelaksanaanya ?

1. Pendaftaran peserta di mulai tanggal 21 Februari 2010 pukul 08.00 WIB s/d 14.00 WIB di Kantor Perpusda Kabupaten Sragen JL. Pemuda No. 1 Sragen 57215 (Hubungi Mbak Indah, Mbak Sulis, dan Mbak Mei)
2. Bintek dilaksanakan selama satu hari mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai di Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sragen JL. Pemuda No. 1 SRAGEN
3. Setiap angkatan terdiri dari 5 orang peserta. Angkatan pertama dimulai pada akhir bulan Februari 2010. Angkatan selanjutnya akan dilaksanakan sepanjang Tahun 2010 pada hari Selasa – Kamis.
4. Kontribusi Peserta
a. Petugas Perpustakaan Sekolah/Instansi Rp 250.000, 00
b. Mahasiswa Rp 200.000, 00

18 Februari 2010

Mewujudkan Impian Kehidupan

Mewujudkan Impian Kehidupan

Ribuan tahun yang lalu,Aristoteles mengajarkan bahwa imajinasi merupakan bagian penting dari pemikiran,dan bahwa kita tidak dapat berpikir tanpa gambar.

Filosof tersebut, adalah motivasi yang muncul ketika seseorang melihat (atau merasakan) atau membayangkan sesuatu, dengan menciptakan atau mengingat citra itu dalam pikirannya. Pikiran merupakan realitas. Dengan mengubah pemikiran dan berfokus pada apa yang kita inginkan, kita akan memiliki kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang kita impikan.

Fred Smith (FedEx), Howard Schultz (Starbucks), Sam Walton (Malmart), Anira Roddick (Body Shop) dan Michael Dell (Dell Computers) adalah beberapa contoh “pemimpi” abad ini yang berhasil mewujudkan imajinasinya. Norman Vincent Peale menemukan gagasan kekuatan pikiran. Pikiran kita bekerja, seperti magnet, menarik kepada kita apa yang kita pikirkan.

Jika kita selalu memikirkan kekurangan uang, alam semesta akan memberikan kemelaratan kepada kita. Sebaliknya jika kita berpikir positif bahwa kita yakin alam semesta itu berlimpah ruah dan kita berhak atas bagian kita, maka hidup kita akan berkelimpahan. Inilah yang disebut energi kekuatan berpikir positif.

Masalahnya, otak kita yang terdiri dari dua miliar sel memiliki 50.000 sampai 60.000 pikiran dalam satu hari, dan banyak orang tidak tahu berapa persen yang positif dan berapa persen yang negatif. Visualisasi kreatif lebih dari sekadar berpikir positif. Berpikir positif merupakan latihan yang sangat berharga,dan kita semua seharusnya bertujuan untuk memiliki sebanyak mungkin pemikiran positif dalam satu hari.

Visualisasi kreatif merupakan suatu proses yang membuat kita dapat mengambil suatu pemikiran positif tertentu dan kemudian membuat apapun itu menjadi suatu realitas.Visualisasi kreatif adalah suatu proses yang membuat kita dapat memfokuskan pikiran terhadap apa yang kita inginkan, dan bukannya pada apa yang kita ingin hindari. Ketika kita melakukan hal ini dengan tepat, pikiran kita mulai bekerja untuk membawa kita kepada apapun yang kita inginkan. Bagaimana caranya melakukan visualisasi kreatif, buku ini menjanjikannya untuk pembaca.

Wesbster menjelaskan bahwa visualisasi kreatif adalah suatu seni menciptakan gambaran mental dalam pikiran kita untuk mencapai apapun yang kita inginkan.Dengan visualisasi kreatif, kita menggunakan imajinasi untuk menciptakan citra yang jelas tentang apapun yang kita inginkan. Begitu kita melakukannya, kita harus memupuk pemikiran itu dengan energi dan emosi sampai akhirnya menjadi kenyataan.

Banyak orang menggunakan visualisasi kreatif untuk meraih kemakmuran. Menurut penulis ada empat hal agar kita berhasil mencapai visualisasi kreatif. Pertama, kita harus membayangkan keinginan atau tujuan yang jelas.Kedua, adalah menggunakan imajinasi mental. Hal ini berarti melingkupi emosi kita dengan sebanyak mungkin panca indera.Ketiga, berlatih. Hal ini adalah latihan mental terhadap segala sesuatu yang terlibat dalam upaya meraih tujuan kita.Keempat, adalah pengulangan.

Semakin sering kita memvisualisasikan tujuan, semakin baik.Di dalam buku ini, pembicara metafisika di berbagai lokakarya ini menuntun pembaca berlatih visualisasi kreatif dimulai dari relaksasi selanjutnya visualisasi, dengan cara-cara yang sederhana dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Agar visualisasi kreatif bersifat produktif ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, adanya suatu keinginan.Keinginan adalah bagian paling vital dari visualisasi kreatif.Tidak ada yang dapat menghentikan kemajuan seseorang yang memiliki keinginan kuat.Kemudian kita harus berfokus dengan jelas pada keinginan tersebut. Kedua, keyakinan yang kuat. Untuk menjadi orang yang kita inginkan, kita harus yakin terhadap diri sendiri, dan bertindak sesuai dengan keyakinan tersebut.

Kekuatan keyakinan tidak terbatas. Apapun yang kita terima dan yakini secara mental sebagai sebuah kebenaran, pada akhirnya akan terwujud. Ketiga, kedamaian dan ketenangan diri. Visualisasi kreatif tidak dapat dipaksakan dengan terus berusaha terlalu keras. Luangkan waktu untuk relaks,bermeditasi dan beristirahat. Begitu kita berhenti berusaha keras maka visualisasi kreatif akan lebih berhasil efektif.

Sejalan dengan upaya visualisasi kreatif, kita membuat afirmasi. Afirmasi adalah ungkapan atau kalimat positif yang terus menerus diulang untuk menanamkan suatu pesan dalam pikiran bawah sadar. Afirmasi selalu terbentuk dalam cara positif. Afirmasi dalam bentuk kala sekarang (present tense).Kalau mau berhenti merokok jangan katakan “Aku akan berhenti merokok” tetapi katakanlah”Aku bangga menjadi seorang bukan perokok”.

Dari uraian penulis dalam buku ini,sebenarnya dapat disimpulkan ada empat elemen pokok yang akan mempercepat laju penciptaan fisik dalam melakukan usaha visualisasi kreatif.Pertama,adalah frekuensi. Seberapa sering kita memvisualisasikan kejadian, tujuan, atau perilaku tertentu di masa depan berdampak kuat terhadap pemikiran,perasaan dan tindakan kita. Kedua, dalam visualisasi kreatif adalah kegamblangan. Hal ini mengacu pada kejelasan yang kita lihat dalam bayangan kita.

Akan ada hubungan langsung antara seberapa gamblang kita dapat melihat tujuan yang diinginkan atau hasil dan seberapa cepat hasil itu akan muncul ke hadapan kita. Ketiga, intensitas. Hal ini menyangkut pada jumlah emosi yang kita kombinasikan dengan gambaran mental. Ketika kita sangat menginginkan sesuatu,ketika kita bersemangat dan antusias dengan tujuan, atau ketika kita memiliki keyakinan mendalam bahwa kita akan mewujudkan tujuan yang kita upayakan, apapun itu akan muncul lebih cepat.

Keempat, adalah durasi. Semakin lama kita membayangkan kejadian masa depan yang diinginkan, semakin besar kemungkinannya muncul. Dengan latihan sederhana dan teknik yang mudah diikuti dalam buku ini, pembaca dapat merawat dan mendapatkan kembali jiwa spiritual, meningkatkan semua bagian hidup,termasuk kesehatan, relasi, karier, pembelajaran, kreativitas,dan keuangan.(*)

Sugiarto Sargo,
Dosen Universitas Nusa Bangsa,Bogor.
Sumber www.seputar-indonesia.com

15 Februari 2010

Menapaki Jejak Gus Dur

BUKU berjudul Jagadnya Gus Dur; Demokrasi, Pluralisme, dan Pribumisasi Islam yang ditulis KH Zainal Arifin Thoha ini adalah buku yang mengulas jejak langkah, pemikiran-pemikiran dan gerakan Gus Dur. Mulai gerakan kultural (sebagai ketua umum PB NU) sampai pada struktural (menjadi presiden keempat RI).

Dalam buku ini dikatakan bahwa Gus Dur adalah sosok kiai yang cerdas, karismatik, dan jenaka. Dia selalu bersikap i'tisar, yakni menyenangkan orang lain dengan selalu bersikap akomodatif dan demokratis, serta mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dalam hal ini, banyak anak muda dan tokoh nonmuslim yang terinspirasi, baik dari tulisan maupun pernyataan-pernyataan Gus Dur.

Resonansi kekiaian Gus Dur juga tidak hanya dirasakan kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan umat agama lain. Itu sebabnya, kepergian Gus Dur tidak hanya ditangisi oleh kalangan umat Islam, tetapi juga umat agama lain. Hal ini terbukti dari maraknya acara doa lintas iman dan keyakinan yang dirapalkan di berbagai daerah di Indonesia, baik untuk kesembuhan Gus Dur semasa sakit maupun untuk ketenangan arwah Gus Dur yang kini sudah dipanggil ke hadirat-Nya.

Ulama Aktivis

Seperti dikatakan Abdul Moqsith Ghazali (2010) bahwa semasa hidup, Gus Dur bukan hanya tokoh pemikir dan ulama yang bertafsir dan berteologi dari atas menara. Dia adalah seorang aktivis yang terlibat dalam kerja-kerja advokasi, terutama terhadap kelompok-kelompok tertindas, baik dari agama, etnis, maupun gender. Gus Dur akan hadir, misalnya, ketika buruh dan pedagang kaki lima mengalami ketidakadilan. Dia bersumpah akan terus membela hak-hak sipil kelompok Ahmadiyah tatkala hak-hak mereka dirampas. Dia akan datang begitu ada rumah ibadah yang dibakar. ''Manusia perlu dibela, Tuhan tidak,'' kata Gus Dur. Upaya seperti itulah yang membedakan Gus Dur dengan banyak tokoh lain.

Bagi kita, barangkali eksistensi Gus Dur telah menerbitkan tantangan tersendiri, bahwa siapa saja dan di mana saja bisa bangkit dan berdiri seraya melakukan perubahan-perubahan (mulai dari diri sendiri) untuk masyarakat, bangsa dan dunia, yang memiliki arti penting bagi nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan kemajuan. Bagi Indonesia, eksistensi Gus Dur telah menerbitkan angin segar yang penuh kebaruan dan harapan bahwa negara bukanlah suara entitas mistis, sakral dan tak terjamah. Sebaliknya, negara tidak lain hanyalah satu entitas dari pluralitas entitas, yang masing-masing (seharusnya) memiliki independensi, yaitu saling menerima dan memberi tanpa intervensi. Dengan demikian, betul-betul tercipta civil society atau kewarganegaraan yang mandiri.

Sang ''Pamomong''

Gus Dur memang sang ''pamomong". Dia figur yang memiliki watak mengayomi, membimbing, serta memperteguh kasih sayang atas sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang status sosialnya. Sikap yang ditunjukkan kepada pejabat, misalnya, atau bahkan kepada presiden sekalipun, tidak berbeda dengan sikap yang diberikannya kepada wong cilik. Itu sebabnya, setiap kali mengadakan open house di kediamannya, Gus Dur tetap saja ramah dan penuh kasih sayang kepada siapa saja yang datang. Gus Dur juga seolah telah ditakdirkan oleh sejarah untuk selalu ''zig-zag''. Karena itu pula, barangkali, dia diemong oleh sejarah untuk menjadi jembatan antar berbagai kepentingan.

''Zig-zag'' itu terlihat betapa Gus Dur kecil yang lahir di Pesantren Denanyar, Jombang, kemudian harus pindah ikut orang tuanya ke Jakarta, yang memperkenalkannya dengan khazanah dunia modern. Kemudian dia harus pindah ke Jogjakarta, kembali pada dunia pesantren, termasuk ke Magelang. Lalu dia mengenal dunia Timur Tengah, juga beberapa negara Eropa, lalu kembali ke Jombang, dan pindah serta menetap di Jakarta. Dengan ''zig-zag'' seperti itu Gus Dur menjadi banyak mengenal pluralitas budaya.

Sebagai pamomong, Gus Dur memang memiliki banyak warna. Sebagai figur seorang ulama, dia dikenal dengan wacana ''pribumisasi Islam''-nya. Sebagai negarawan, Gus Dur dikenal dengan gagasan-gagasan ''demokrasi''-nya. Sebagai politikus, Gus Dur dikenal dengan ''politik zig-zag"-nya. Sebagai pemimpin masyarakat, Gus Dur dikenal sebagai ''king makers"-nya. Sebagai budayawan, Gus Dur dikenal dengan ''humor-humor cerdas''-nya. Sebagai cendekiawan dan intelektual, Gus Dur dikenal dengan pemikiran ''liberal''-nya; dan sebagainya. Inilah gambaran sosok sang pamomong, sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-tawadluan sekaligus kebebasan; sosok yang memerankan diri laksana ''bandul jam'' yang terus bergerak dinamis, dari kutub ke kutub yang lain, lalu menciptakan keseimbangan (hlm. 28).

Oleh karena itu, kepergian Gus Dur sesungguhnya adalah kehilangan besar bagi bangsa ini. Terlebih di tengah keprihatinan yang ditimbulkan oleh kecenderungan kuasa untuk merobohkan tiang demokrasi yang sejak lama diperjuangkan Gus Dur. Dalam situasi demikian, seperti dikatakan Yudi Latif (2010), tugas intelektual untuk ''berkata benar pada kuasa'' penting dipancangkan sebagai penjaga kewarasan bangsa. Keberanian berkata ''benar'' inilah warisan kepahlawanan Gus Dur yang teramat mulia untuk dijunjung tinggi tunas pahlawan masa depan.

Ali Ibn Abi Thalib, salah seorang sahabat Nabi Saw, pernah berkata bahwa ''jika seorang pahlawan alim meninggal, terjadilah lubang dalam komunitas yang tidak tertutupi hingga datang alim lain yang menggantikannya''. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa kita tengah berada dalam transisi pencarian figur-figur ''Gus Dur'' baru untuk melanjutkan perjuangannya.

Oleh karena itu, hadirnya buku Jagadnya Gus Dur ini setidaknya bisa menggugah hati kita untuk mengetahui, memahami, dan meneladani jejak langkah, pemikiran, dan gerakan Gus Dur, dan selanjutnya mampu meneruskan perjuangannya. Semoga. (*)

*) Puji Hartanto , Pemerhati Sosial dan Budaya. Pengelola PP Hasyim Asyari Jogjakarta

Judul buku: Jagadnya Gus Dur; Demokrasi, Pluralisme, dan Pribumisasi Islam

Penulis : KH Zainal Arifin Thoha

Penerbit : KUTUB, Jogjakarta

Cetakan : Januari 2010

Tebal : xvi + 276 Halaman
Sumber www.jawapos.co.id

Kisah Bupati dan Ambisi Amerika

SUATU hari di akhir 2003. Saat itu sedang berlangsung Konvensi Partai Golkar untuk pemilihan calon presiden RI. Sambil menunggu berita dari staf Dirjen Departemen Keuangan kapan jadwal diterima, Bupati Natuna Drs H Daeng Rusnadi MSi memenuhi ajakan Prof Dr Tabrani Rab makan malam di Restoran Jimbaran, Acacia Hotel, Jakarta.

Setelah berbasa-basi, profesor yang akrab disapa Ongah itu menyampaikan sesuatu kepada Bupati Daeng: ''Daeng, kalau pusat tetap tidak peduli dan tidak perhatikan tuntutan kita, gimana kalau kita jumpa dan ajak Dubes Amerika Serikat (AS) ke Natuna? Kita tawarkan Natuna menjadi negara bagian ke-51 dari Amerika Serikat setelah Hawaii.''

Daeng kaget saat mendengar pernyataan itu. ''Untuk apa mewacanakan bergabung ke Amerika Serikat? Kenapa tidak ke Malaysia saja?'' kata Daeng balik bertanya.

''Amerika punya kepentingan dengan Natuna,'' kata Ongah.

Menurut Ongah, kepentingan AS, pertama untuk pertahanan dan kedua memiliki ladang migas Blok D-Alpha Natuna yang dikelola Exxon Mobil, perusahaan minyak AS. ''Jadi klop,'' kata Ongah.

Bupati Daeng terdiam. Ongah pun melanjutkan, ''Kalau gabung dengan Malaysia, TNI masih sanggup melawan kita. Tapi kalau Amerika, TNI pikir-pikir panjang.''

Ketika Ongah menyebut-nyebut TNI, jiwa nasionalisme Daeng Rusnadi seketika bangkit. Sebab, dia dibesarkan di lingkungan TNI-AU. Dia pun menolak secara tegas ajakan Prof Tabrani Rab tersebut: ''Ongah, saya sudah sejak awal menebarkan semangat nasionalisme di perbatasan ini. Hampir semua petinggi TNI sudah pernah bertemu dengan saya dalam upaya pertahanan di perbatasan. Mulai dari satuan lokal, Kodam, Lantamal, Mabes AU, Mabes AL, dan Mabes AD serta Mabes TNI di bawah Menkopolkam, kami selalu bersama-sama dalam mempertahankan NKRI di wilayah Natuna,'' kata Daeng.

***

Kutipan kisah Bupati Natuna Daeng Rusnadi itu jelas sangat menarik. Meski pendek, beberapa kalimat yang terlontar dari Prof Tabrani Rab cukup mampu membikin emosi banyak pihak terbakar, terutama jajaran TNI. Tetapi, itu hanyalah satu bagian saja dari jalinan kisah tentang Natuna, salah satu wilayah terluar dari republik ini. Ada banyak kisah menarik lainnya yang terkait dengan wilayah kaya minyak dan gas yang terdiri atas 272 pulau (!) tersebut.

Penulis mengawali bukunya dengan menjelaskan posisi strategis Natuna secara geopolitik, kemudian kekayaan sumber daya alamnya. Selain potensi perikanannya, yang lebih penting lagi adalah kandungan minyak dan gasnya. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, AS terus-menerus menunjukkan perhatiannya pada kawasan Natuna, termasuk melalui manuver-manuver kapal perangnya dari Armada Ketujuh yang berpangkalan di Yokosuka, Jepang. Penulis juga menunjuk melintasnya kapal induk AS USS Ronald Reagan di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) di dekat perairan Natuna pada 23 Juni 2009.

Penulis juga menjabarkan liku-liku sejarah pemerintahan di Natuna, dari kumpulan desa, lalu kecamatan, hingga jadi kabupaten. Di antara kisah-kisah itu, muncul aksi-aksi sejumlah warga yang dikenal dengan ''Natuna Merdeka''. Apakah terkait dengan gagasan ''Riau Merdeka'' besutan Prof Dr Tabrani Rab? Setiap pembaca tentu bisa berbeda jawabannya.

Tetapi, penulis, tampaknya, lebih menonjolkan perjuangan dan teladan seorang putra daerah bernama Daeng Rusnadi. Laki-laki ini dilukiskan sebagai sosok pekerja keras, pejuang NKRI, tak kenal menyerah. Di masa muda, dia belajar belasan tahun di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, menjadi guru, dan membantu sebuah penerbitan. Dia kemudian pulang kampung utnuk memperjuangkan daerahnya. Dia pun terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Kepri, dua kali menjadi ketua DPRD Natuna, sebelum akhirnya terpilih menjadi bupati Kabupaten Natuna. Dalam pengabdiannya yang panjang itu, pejabat yang suka bermalam di rumah warga miskin tersebut berhasil mengangkat kesejahteraan warga Natuna yang puluhan tahun dalam kemiskinan meskipun daerahnya menyumbang devisa minyak yang sangat besar. APBD Natuna pun yang semula hanya Rp 500 juta dari tahun ke tahun meningkat hingga mencapai Rp 1,9 triliun. Berkat kegigihannya, selama delapan tahun terakhir ini, Natuna bisa memperoleh bagi hasil gas mencapai Rp 10 trilun lebih! Namun, tragisnya, pada akhir 2009, Daeng Rusnadi ditahan oleh KPK atas tuduhan korupsi saat menjadi ketua DPRD Natuna pada 2004. Orang pun bertanya, ada apa ini? Apakah murni kasus korupsi semata? Apakah ada kegerahan pusat? Atau, intervensi asing yang sejak awal ''merayu'' Daeng melakukan ''kompromi''?

***

Ditulis oleh mantan anggota Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut (kini Korps Marinir), buku ini berada di tangan seorang profesional di bidangnya. Sebelum menjadi jurnalis jempolan untuk liputan-liputan petualangan di pulau-pulau terpencil, termasuk penyusupan ke Timor Timur, sebagai anggota KKO, Peter A. Rohi (68 tahun) pernah bertugas di Natuna, kemudian di Batam. Dia juga ikut menjadi pionir pendirian sebuah SD yang kini menjadi SD Negeri 1 Batam, yang berkembang menjadi SDN II dan SDN III Batam, tonggak pendidikan di Pulau Batam.

Buku ini jelas akan lebih membuka mata banyak warga negeri ini tentang potensi dan rawannya pulau-pulau wilayah terluar republik ini. Kalau kita jujur, misalnya, berapa banyak di antara kita yang tahu bahwa Natuna berbatasan dengan Vietnam?

Namun, buku ini mestinya bisa lebih bagus. Ada data-data dan pernyataan sama yang diulang-ulang. Penuturan oleh tokoh tertentu juga sering rancu antara kata ganti orang pertama dan ketiga.

Anyway, buku ini sungguh mencerahkan dan membuka wawasan kita pada kekayaan laut negeri ini yang luar biasa. Sebuah buku ''wajib'', khususnya bagi pencinta masalah kelautan. (*)

*) Djoko Pitono , jurnalis dan editor buku

Judul Buku: Natuna Kapal Induk Amerika

Penulis: Peter A. Rohi

Editor: Henry Nurcahyo

Penerbit: Adibatama Komunika, Jakarta-Surabaya

Cetakan: Pertama, 2010

Tebal: 183 halaman

Sumber www.jawapos.co.id

Para TKW dan Kegemaran Membaca Buku

Oleh : Bayu Insani

Suatu keberuntungan tersendiri bagi para tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong. Sebab, kami diberi kebebasan serta mendapatkan hak-hak yang sepantasnya dari pemerintah Hongkong. Seperti hak libur setiap Minggu, tanggal merah Hongkong, asuransi kesehatan atau kecelakaan, mendapatkan tiket pesawat apabila kontrak habis, dan kebebasan beraktivitas saat di luar jam kerja. Maka, banyak TKW yang mengisi hari libur dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Seperti berorganisasi, kursus, sekolah, mengelola perpustakaan, dan ada juga yang menjalankan bisnis multilevel marketing (MLM).

Ada berbagai kursus di Hongkong. Di antaranya kursus bahasa Inggris, komputer, menjahit, salon, rias pengantin, dan sebagainya. TKW juga bebas berorganisasi di bidang keagamaan, kepenulisan, sastra, dan seni. Tapi, menurut saya, yang menarik adalah mengelola perpustakaan.

Mungkin Anda tidak percaya, di Hongkong ada banyak perpustakaan yang dikelola para TKW. Hampir seluruh organisasi keagamaan dan shelter TKW memiliki perpustakaan. Misalnya FKMPU, Forum Lingkar Pena (FLP) Maratusshaliha, Birrul Walidain, Darrul Hikmah, dan sebagainya. Bahkan, juga ada perpustakaan perorangan.

Saya sendiri memiliki perpustakaan pribadi yang saya beri nama Perpustakaan Insani. Perpustakaan ini berdiri sejak awal Juni 2007. Saya yang kebetulan anggota FLP Hongkong sangat berharap, dengan koleksi buku yang ada, teman-teman sesama TKW bisa membaca serta menambah wawasan dan ilmu.

Minat membaca teman-teman TKW memang sangat tinggi. Terbukti, dari minggu ke minggu banyak pendatang baru yang meminjam buku-buku di perpustakaan. Tak hanya meminjam, juga tidak sedikit yang membeli buku-buku baru. Mendapatkan buku-buku yang kami mau memang tidak susah. Di Hongkong banyak toko besar yang menjual buku-buku asal Indonesia. Seperti Warung Malang, Toko Madiun, Koperasi Dompet Duafa, ataupun para TKW yang menjual keliling buku-buku di tempat-tempat liburan.

Anda jangan terkejut apabila mendapati seorang TKW menenteng sebuah laptop atau membaca buku biografi Rasulullah yang halamannya seribu lebih. Serta buku-buku best seller yang baru cetak di Indonesia. Jangan kaget pula bila mengetahui harga yang kami beli bisa tiga kali lipat lebih mahal daripada harga aslinya di Indonesia. Permintaan yang menggebu dari pembaca itulah yang terkadang membuat para pengepul (stockis) buku melambungkan harga dengan alasan biaya pengiriman mahal. Meski begitu, para TKW merasa puas karena bisa membeli buku yang mereka sukai.

Buku-buku yang banyak digemari para TKW Hongkong, di antaranya, novel-novel best seller karya Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), Andrea Hirata, Taufiqurrahman, Pipit Senja, Pramoedya Ananta Toer, Tere Liye, dan Ahmad Tohari. Juga buku-buku motivasi kepenulisan, majalah-majalah wanita, tabloid Nyata, Nova, buku-buku misteri, dan lain-lain. Tak kalah banyaknya buku-buku keagamaan, seperti La Tahzan, biografi Rasul, Riyadus Shalihin, dan berbagai macam Alquran dan CD-nya. Buku-buku tasawuf modern karya Ustad Agus Mustofa juga dilahap habis para TKW.

Untuk memperkaya wawasan, juga tersedia koran/tabloid berbahasa Indonesia khusus TKW. Di antaranya Berita Indonesia, Suara, Apa Kabar, Peduli, dan Rose Mawar. Semua bisa diambil dan dibaca secara gratis. Ada juga beberapa TKW yang berinisiatif membuat majalah sendiri, seperti majalah Iqra, Nur Muslimah, dan Holiday. Majalah-majalah itu mereka jual ke sesama TKW secara berkeliling.

Bahkan, sudah ada beberapa TKW yang berhasil menerbitkan buku sendiri. Di antaranya Eni Kusuma dengan buku motivasi Anda Luar Biasa atau Nadia Cahyani dan Niswana Ilma yang menerbitkan buku berjudul Sebutir Mutiara untuk Ayah.

Pemerintah Hongkong juga memberikan kebebasan kepada para pengunjung untuk ikut menikmati ribuan buku koleksi perpustakaannya. Perpustakaan yang terletak di depan lapangan Viktoria, misalnya, adalah perpustakaan terbesar yang dilengkapi berbagai fasilitas. Seperti ribuan buku dengan berbagai bahasa, CD-CD apa saja (musik ataupun CD pendidikan), dan ratusan komputer dengan fasilitas internet.

Bangunan gedung perpustakaan bertingkat 12 itu sangat indah dan megah. Pengunjung juga dimanjakan dengan hawa sejuk AC, lift, sofa-sofa empuk, dan para petugas ramah yang siap melayani pengunjung. Tidak hanya anak-anak muda yang gemar mengunjungi perpustakaan tersebut. Para orang tua juga sering berkunjung dan membaca koran gratis serta bacaan apa saja di dalamnya.

Begitulah kondisi nyata para TKW di Hongkong, yang sering diisukan dengan hal-hal negatif di tanah air. Memang ada segelintir TKW yang menyimpang dari kegiatan positif. Namun, kondisi pada umumnya TKW di Hongkong sangat sejahtera dan beruntung serta banyak yang berhasil. (*)

*) Bayu Insani , TKW Hongkong asal Kebumen, Jawa Tengah; perpustakaan pribadinya sering dikunjungi para TKW; aktif di FLP Hongkong

08 Februari 2010

Revolusi Pengorganisasian Arsip

Oleh. Muhammad Misbah*
Beberapa bulan lalu dikabarkan,beberapa koran cetak Amerika Serikat gulung tikar.Terlihat nyata, keberadaan kertas saat ini sudah mulai digantikan oleh internet.


BEBERAPA perusahaan koran cetak tanah air pun mulai menggunakan media website sebagai alternatif media cetak. Informasi yang lalu-lalang di sekitar kehidupan kita tidak lagi hanya bisa didapat melalui pesan verbal ataupun cetak, tetapi juga bisa kita dapatkan secara onlinedengan media internet.

Saat ini, internet terus mengalami perkembangan yang luar biasa pesat. Pengguna internet kian hari kian bertambah, seolaholah manusia telah berhasil menemukan sebuah dunia baru sebagai pelampiasan kepenatannya dalam kehidupan nyata. Misalnya saja facebook yang hingga kini semakin gencar diminati, merupakan sebuah fenomena luar biasa yang patut dicermati. Bagaimana perhatian sekumpulan manusia dapat teralihkan dari dunia nyata ke dalam dunia maya. Bahkan, seperti yang terjadi beberapa saat yang lalu, melalui facebook pula gerakan massa 1.000.000 FacebookerDukung KPK dibangun.

Sedikit terdengar dilebih-lebihkan, tetapi fakta ini menunjukkan indikasi adanya revolusi komunikasi yang sedang dilakukan oleh umat manusia. Penggunaan hal-hal yang bersifat maya juga dilakukan di dalam pengorganisasian arsip kerja yang biasa kita lakukan melalui komputer masing-masing. Berbagai macam pekerjaan kita lakukan dengan bantuan peranti lunak kantor (office software), kemudian menyimpannya dalam bentuk file di dalam media penyimpanan seperti hard disk, compact disk, ataupun flashdisk. Apakah file-file itu nyata? Tentu saja tidak.File-file itu berbentuk impuls listrik yang diberi kode dalam bilangan biner, kemudian disimpan dalam media penyimpanan.

Arsip-arsip kerja tersebut dapat kita akses secara offline dan sangat mungkin untuk kita cetak di atas kertas menggunakan printer. Namun, seperti yang telah diutarakan sebelumnya, umat manusia saat ini sedang mengalami revolusi komunikasi,di mana internet memegang peran utama. Hal inilah yang dapat kita rasakan langsung dari teknologi Google Docs. Google Docs adalah sebuah teknologi terbaru berbasis web yang diciptakan Google dengan fungsi utama sebagai penyedia aplikasi kantor gratis yang dapat diakses secara online.

Teknologi ini sangatlah revolusioner karena selain gratis,Google menawarkan konsep online dan bukannya offline seperti berbagai macam aplikasi kantor lain yang saat ini kita gunakan, semisal Microsoft Office ataupun Open Office. Selain itu, fitur-fitur yang diberikan Google Docs tidak bisa dibilang sembarangan. Google Docs menyediakan fitur-fitur familier yang juga biasa kita temui pada peranti lunak kantor lain. Dengan peranti ini, kita dapat melakukan manipulasi terhadap tiga jenis dokumen yang biasa kita kerjakan dalam pekerjaan seharihari, yakni wordprocessor (pengolah kata), spreadsheet (pengolah angka), dan presentation (presentasi). Secara singkat dapat dikatakan bahwa kebutuhan peranti lunak kantor untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari telah tersedia pada Google Docs.

Lalu, adakah kelebihan lain yang kita dapat? Tentu saja ada. Media onlinememudahkan kita dalam melakukan pertukaran dokumen antartempat yang berjauhan. Dengan Google Docs kita dapat melakukan sharing secara online kepada orang di belahan dunia lain tanpa harus mengirim e-mail. Kita cukup memberikan alamat tempat dokumen kita berada, kemudian dapat diakses oleh orang-orang yang kita kehendaki. Bahkan, kita juga dapat memberikan level autentifikasi tertentu kepada setiap dokumen, sehingga akses orang lain terhadap setiap dokumen dapat kita atur, apakah dia hanya dapat melihat, atau sampai mengedit.Tentunya hal ini memberikan garansi keamanan yang cukup bagi pengguna.

Kelebihan lain yang tersedia dalam Google Docs adalah adanya dukungan dari peranti lunak Google Gears yang memungkinkan kita dapat mengakses dokumen secara offline. Hal ini memberikan manfaat yang luar biasa karena meningkatkan efisiensi kita bekerja. Saat kita kembali terhubung dengan internet, maka dokumen yang baru saja kita editakan mengupdate dokumen lama yang tersimpan di dalam server Google secara otomatis. Kelebihan ini memangkas adanya redundancy yang sering kita alami ketika membuat dokumen.

Dengan berbagai macam kelebihan tersebut, tidak mustahil jika suatu saat aplikasi ini dapat menggantikan aplikasi kantor offline yang sudah 20 tahun terakhir kita gunakan. Berbagai macam fitur yang terdapat pada Google Docs dapat kita pelajari di dalam buku ”Google Docs, Membagi dan Mengubah Arsip Kerja Anda Secara Online” yang dibuat Steven Holzner dan Nancy Holzner.

Buku ini terbagi atas 10 bab yang masing-masing babnya diberikan penjelasan tentang fitur-fitur berbeda dari Google Docs.Buku ini menjelaskan secara rinci tentang langkah-langkah untuk dapat menggunakan Google Docs. Selain itu, di dalam buku ini juga diberikan penjelasan tambahan tentang beberapa peranti lain yang turut mendukung peranti lunak ini seperti iGoogle ataupun Google Gears.

Membaca buku ini sangatlah efektif jika kita ingin segera menguasai Google Docs,karena penjelasan yang diberikan sangat komprehensif dan mampu menjawab berbagai pertanyaan yang kita jumpai ketika kita memulai menggunakan Google Docs. Steven dan Nancy Holzner menggunakan bahasa yang sederhana namun mengalir,sehingga memudahkan pembaca dalam memahami setiap langkah yang dijelaskan.

Selain itu, penjelasan yang diberikan sangat struktural, sehingga tidak membuat pembaca bingung.Inilah kelebihan yang terdapat di dalam buku ini sehingga pantas bagi siapa pun yang memiliki antusias tinggi terhadap teknologi untuk memilikinya. Tentu, tidak seperti Google Docs yang harus diakses secara online, buku ini harus diakses secara offline.(*)

*Muhammad Mishbah
Peneliti di Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan (CSDS) Pascasarjana UI.